Suara.com - Indonesia berhasil menjelma menjadi pemain utama dalam rantai pasok energi bersih global berkat kebijakan hilirisasi nikel yang dijalankan dalam beberapa tahun terakhir.
Investasi besar mengalir ke sektor pengolahan nikel, baterai kendaraan listrik, hingga manufaktur kendaraan listrik. Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa dominasi tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan industri manufaktur berteknologi tinggi di dalam negeri.
Laporan terbaru Energy Shift Institute berjudul Dominance Without Depth: The Smelting Superpower that Imports Its Own Metal menyoroti paradoks dalam industri nikel Indonesia. Meski menjadi kekuatan besar dalam pengolahan nikel global, sebagian besar nilai tambah dari teknologi dan manufaktur lanjutan masih dinikmati negara lain.
Berdasarkan laporan tersebut, produksi tambang nikel Indonesia diperkirakan mencapai 2,57 juta ton pada 2025 atau setara 61 persen pasokan nikel dunia. Angka itu meningkat sekitar 158 persen dibandingkan lima tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh pembangunan smelter dan kawasan industri yang berkembang pesat di berbagai wilayah. Namun, Energy Shift Institute menilai keberhasilan tersebut masih terkonsentrasi pada pengolahan bahan mentah dan produk setengah jadi.
"Pembangunan pabrik sel baterai merupakan langkah strategis, tetapi sektor ini sangat padat modal dan memiliki keterbatasan dalam menyerap tenaga kerja serta melibatkan rantai pasok lokal," tulis laporan tersebut.
Selain itu, banyak komponen penting untuk industri baterai dan kendaraan listrik, mulai dari material khusus hingga peralatan produksi, masih bergantung pada pemasok luar negeri.
Temuan tersebut muncul di tengah percepatan program hilirisasi yang terus didorong pemerintah. Berdasarkan informasi dari Sekretariat Republik Indonesia pada 7 Juni 2026, pemerintah meluncurkan fase kedua proyek hilirisasi nasional senilai Rp116 triliun yang mencakup sektor energi, mineral, dan pertanian.
Program itu ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui industrialisasi berbasis sumber daya alam.
Baca Juga: Saham Diborong, Smelter Dibangun: Inilah Tentakel Nikel Haji Isam
Meski demikian, sejumlah tantangan masih membayangi upaya tersebut. Salah satunya adalah sumber energi yang menopang kawasan industri dan fasilitas pengolahan mineral.
Laporan Earthwise Institute pada 7 Juni 2026 mencatat bahwa sejumlah kawasan industri di Indonesia masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi manufaktur skala besar. Ketergantungan ini dinilai dapat menjadi hambatan di tengah meningkatnya tuntutan pasar global terhadap produk dengan jejak karbon rendah.
Pengamat menilai bahwa tahap berikutnya dari hilirisasi perlu difokuskan pada pengembangan manufaktur lanjutan, penguasaan teknologi, dan penguatan keterlibatan industri dalam negeri. Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pusat pengolahan bahan baku, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi yang dapat bersaing di pasar global.
Dengan memperkuat industri hilir yang lebih kompleks serta mempercepat penggunaan energi bersih dalam proses produksi, Indonesia berpeluang memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari transisi energi global yang tengah berlangsung.
Saat ini, tantangan utamanya bukan lagi bagaimana meningkatkan produksi nikel, melainkan bagaimana mengubah dominasi sumber daya menjadi keunggulan industri yang berkelanjutan.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Prabowo Bicara Persatuan Politik: Sebut PDIP dan Koalisi Punya Hati yang Sama
-
Dari Pasal 33 UUD 1945 hingga Prabowonomics, Cak Imin Bicara Mimpi Kedaulatan Ekonomi
-
Bisa Bikin Repot! Prabowo Kasih Cap 'Pemimpin Kancil' buat Dasco, Cak Imin dan Bahlil
-
Cak Imin Dukung Ekspor SDA Satu Pintu Prabowo, Sebut Ada 108 UU yang Harus Dibenahi
-
Pertamina Kilang Plaju Resmi Salurkan Biosolar B50, Tambah Pasokan Energi dari Sumatera Selatan
-
Sidang Korupsi Perkimtan Palembang Ungkap Rp440 Juta Masuk ke Eks Kadis, Lalu Mengalir ke Mana?
-
Cak Imin Minta Prabowo Revisi 108 Undang-Undang demi Kedaulatan Ekonomi
-
PKB Gaungkan Prabowonomics di Harlah ke-28, Cak Imin: Ini Bukan Akal-akalan
-
11 Warna Bedak yang Cocok untuk Kulit Hitam Manis, Dijamin Nampak Menyatu dan Flawless!
-
Cak Imin: Indonesia Kehilangan Arah Ekonomi Selama 25 Tahun