News / Internasional
Jum'at, 24 Juli 2026 | 11:26 WIB
Selat Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz [Rusen dengan penyesuaian oleh Suara.com]
Baca 10 detik
  • Perang AS-Iran dan aksi Houthi mengancam dua jalur pelayaran utama dunia.

  • Gangguan distribusi minyak bumi mendorong harga minyak Brent menembus 90 dolar.

  • Pakistan berusaha menjadi mediator diplomatik guna mencegah perang kawasan meluas.

“Pakistan kembali mulai memainkan peran sebagai mediator untuk menghentikan perang agar tidak meluas,” ujar seorang diplomat.

Selain membujuk Iran membuka kembali Selat Hormuz, Pakistan menyerukan permohonan bantuan dana stabilisasi devisa US$10 miliar kepada Departemen Keuangan AS. Bantuan sebesar Rp179,3 triliun ini dibutuhkan demi memperkuat mata uang rupee di tengah tekanan reformasi ekonomi IMF.

Sejumlah negara tetangga seperti Yordania, Bahrain, dan Kuwait kini menguatkan persenjataan mereka karena khawatir terseret arus konflik. Di sisi lain, pembengkakan biaya operasi militer AS telah menembus angka fantastis mencapai US$37,5 miliar atau sekitar Rp672 triliun.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sampai mengajukan pendorong dana cadangan baru kepada Kongres demi melanggengkan aksi militer. Kendati demikian, AS menawarkan insentif ekonomi bagi Lebanon dengan rencana pembukaan penerbangan langsung yang sempat terhenti sejak 1985.

Eskalasi perang AS-Iran sejatinya bermula dari perseteruan sanksi ekonomi dan ketegangan nuklir yang merembet ke konflik regional. Situasi memuncak ketika serangan balasan meluas ke jalur navigasi vital seperti Selat Hormuz dan Laut Merah.

Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb merupakan urat nadi utama perdagangan dunia yang mengalirkan porsi terbesar minyak mentah global. Gangguan permanen pada kedua selat ini berpotensi memicu krisis ekonomi dunia yang sulit dipulihkan dalam waktu singkat.

Load More