- Agus Dwi Susanto menyatakan paparan asbes dapat meningkatkan risiko kanker paru bagi para pekerja industri terkait.
- Data RSUP Persahabatan menunjukkan sekitar 75 hingga 80 persen pasien kanker paru laki-laki merupakan perokok aktif.
- Selain rokok, paparan zat karsinogen seperti asbes dan silika di lingkungan kerja turut memicu kanker paru.
Suara.com - Dewan Eksekutif Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto menegaskan bahwa paparan asbes memang dapat meningkatkan risiko kanker paru.
Namun, ia mengingatkan bahwa masyarakat perlu memahami risiko tersebut secara utuh karena penyebab kanker paru tidak hanya berasal dari satu faktor.
Pernyataan itu disampaikan Agus menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut banyak anak muda mengidap kanker akibat penggunaan atap rumah berbahan asbes.
Menurut Agus, faktor risiko terbesar kanker paru hingga kini masih berasal dari kebiasaan merokok.
Meski begitu, paparan zat-zat karsinogen di lingkungan maupun tempat kerja juga berkontribusi terhadap munculnya penyakit tersebut.
"Masyarakat suka tidak paham bahwa risiko kanker paru itu bisa terjadi karena pajanan di tempat kerja maupun lingkungan. Memang faktor risiko tertinggi dari kanker paru itu merokok. Nomor satu itu merokok," kata Agus kepada Suara.com, Jumat (31/7/2026).
Ia mengungkapkan, berdasarkan data di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, sekitar 75-80 persen pasien kanker paru laki-laki merupakan perokok.
Diketahui bahwa RSUP Persahabatan menjadi pusat rujukan nasional dalam pelayanan respirasi dan kesehatan paru.
"Data di Persahabatan saja hampir sekitar 75-80 persen penderita kanker paru laki-laki itu merokok. Tetapi risiko kanker paru itu selain merokok ada pajanan di luar merokok, yaitu pajanan di tempat kerja atau pajanan di lingkungan sekitar rumah," ujarnya.
Baca Juga: Prabowo Bilang Banyak Pemuda Idap Kanker karena Atap Rumah Asbes: Kembali Pakai Ijuk
Agus menjelaskan, di lingkungan kerja terdapat berbagai bahan yang bersifat karsinogen atau dapat memicu kanker apabila seseorang terpapar dalam jangka panjang.
Beberapa di antaranya adalah asbes, silika, arsen, krom, dan berbagai bahan kimia lainnya.
"Kalau pajanan di tempat kerja itu adalah bahan-bahan yang bersifat karsinogen yang diolah di tempat kerja yang bisa menginduksi terjadinya kanker pada pekerja. Contohnya asbes, silika, arsen, krom, dan lain sebagainya," jelasnya.
Terkait asbes, Agus menegaskan bahwa material tersebut memang dapat menginduksi terjadinya kanker paru. Paparan paling tinggi umumnya dialami para pekerja yang setiap hari bersentuhan langsung dengan material tersebut.
"Yang jadi pertanyaan soal asbes, bisakah asbes menginduksi terjadinya kanker? Bisa," tegas Agus.
Ia mencontohkan, asbes masih digunakan dalam berbagai industri, seperti pembuatan pipa, PVC, hingga komponen kendaraan bermotor seperti rem dan cakram.
"Di tempat kerja cukup banyak yang pakai asbes. Pengolahan produk asbes, pipa, PVC, kemudian rem, cakram mobil itu ada asbesnya. Jadi pekerja-pekerja yang mengolah itu punya risiko kanker karena terpajan setiap hari," katanya.
Meski demikian, Agus menekankan bahwa risiko kanker paru dipengaruhi oleh tingkat dan lamanya paparan terhadap zat karsinogen, sehingga masyarakat perlu memahami faktor risiko tersebut secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada satu penyebab.
Berita Terkait
-
Prabowo Bilang Banyak Pemuda Idap Kanker karena Atap Rumah Asbes: Kembali Pakai Ijuk
-
Pilih Fokus Kerja, Istana Tak Ambil Pusing Survei Kepuasan Publik ke Prabowo Merosot Tajam
-
Jangan Anggap Remeh Meme Prabowo, Pakar Cium Aroma Perlawanan Senyap yang Bisa Meledak
-
Pengamat Sebut Pelabelan Londo Ireng Sebagai Upaya Meredam Suara Kritis
-
Prabowo Masih Pakai Gaya Orde Baru, Kepuasan Publik Anjlok
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Dokter Paru Respons Pernyataan Prabowo: Asbes Berbahaya, Tapi Rokok Jauh Lebih Mematikan
-
Presiden Prabowo Subianto Pimpin Akad 62 Ribu KPR FLPP, BRI Dorong Kepemilikan Rumah Rakyat
-
Presiden Prabowo Subianto Pimpin Akad Massal 62 Ribu KPR FLPP, BRI Perkuat Ekonomi Kerakyatan
-
Polres Tasikmalaya Selidiki Dugaan Penganiayaan Siswa SD, Korban Sempat Jalani Operasi
-
Tragis! Pikap vs Kendaraan Tak Dikenal di Tol Cipularang, Sopir dan Penumpang Tewas
-
121 Hakim Kena Sanksi KY: Dari Suap, Selingkuh, Hingga Judi Online
-
4 Mobil Hybrid Keluarga yang Bisa Dibeli di GIIAS 2026, Harga Mulai Rp200 Jutaan
-
Jatim Media Summit 2026 Dorong Transformasi Beyond Media di Era AI
-
Spanyol Diserbu Migran Maroko, Tentara Diminta Bersiaga di Perbatasan
-
Tragis, Bocah SD di Sukabumi Tersiram Air Panas Diduga Akibat Amukan Bibi