- Pemerintah pusat menghadapi dilema karena program Makan Bergizi Gratis memicu keracunan massal namun berisiko menimbulkan turbulensi ekonomi jika dihentikan.
- Guru Besar UGM Gabriel Lele menyatakan situasi sulit ini terjadi akibat perencanaan kebijakan yang terburu-buru dan mengabaikan keselamatan.
- Gabriel mengusulkan pemerintah menghentikan sementara program tersebut, melakukan evaluasi total, dan memulai kembali melalui proyek percontohan yang terarah.
Suara.com - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menempatkan Pemerintah Pusat dalam posisi serba salah dan dilematis.
Di satu sisi, kembali maraknya insiden keracunan massal yang menimpa para peserta didik menuntut adanya penghentian total dan evaluasi menyeluruh.
Namun di sisi lain, menghentikan program yang sudah terlanjur berjalan secara masif ini berisiko memicu turbulensi ekonomi serta konsekuensi hukum yang membahayakan posisi kepemimpinan di masa mendatang.
Guru Besar Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM, Gabriel Lele menilai situasi dilematis atau 'maju kena mundur kena' ini muncul akibat penyusunan kebijakan yang terburu-buru dan mengabaikan kaidah perencanaan yang matang sejak awal.
"Ya itu, konsekuensi dari perencanaan dan pelaksanaan yang amburadul seperti itu. Boleh jadi pemerintah, Prabowo dalam hal ini secara khusus ya was-was juga," kata Gabriel saat dihubungi, Kamis (6/8/2026).
"Ini kalau 2029 terpilih lagi, kalau tidak terpilih lalu pemerintahan baru mengutak-ngatik lagi pelaksanaan program MBG dengan kerugian negara yang sekian, ya kena kasus nanti beliau. Jadi ini maju kena mundur kena," sambungnya.
Diakui Gabriel, pemerintah memang tidak bisa menutup mata terhadap dampak ekonomi apabila MBG dihentikan. Namun, keselamatan masyarakat tidak boleh dikorbankan hanya demi mempertahankan perputaran ekonomi yang tercipta dari program tersebut.
"Pasti dampaknya akan besar tetapi kalau kita misalnya sekadar menghitung dampak perputaran ekonomi dengan mengabaikan dampak keselamatan, itu kan sangat tidak bisa diterima," tegasnya.
Standar keselamatan dalam program pangan publik seharusnya tidak mengenal toleransi terhadap kesalahan. Maka dari itu, deretan kasus keracunan semestinya menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk menghentikan sementara pelaksanaan program dan melakukan evaluasi menyeluruh.
Baca Juga: Skor PISA RI di Bawah Vietnam, Prabowo: Terima Sebagai Koreksi, Tapi Kita Jangan Terlalu Takut
"Kalau sudah berbicara dengan tentang standar keselamatan, nyawa, maka ya margin of error-nya nol, enggak boleh terjadi kesalahan dan kalau sampai terjadi kesalahan, hentikan dan dievaluasi total," tandasnya.
Pergantian Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) tidak akan menjadi solusi apabila pemerintah tetap mempertahankan tata kelola yang sama. Menurutnya, sumber persoalan MBG berada pada sistem yang tidak pernah dibenahi sejak program diluncurkan.
Ia menilai pemerintah terburu-buru menjalankan MBG demi memenuhi janji politik tanpa melalui tahapan uji coba sebagaimana lazim diterapkan dalam kebijakan publik berskala nasional.
Gabriel tak memungkiri bahwa penghentian MBG akan semakin sulit setelah program tersebut melibatkan banyak kepentingan politik dan ekonomi.
Menurutnya, kondisi itu membuat keputusan menghentikan program hanya bisa datang langsung dari Presiden Prabowo.
"Lalu yang membuat MBG ini agak sulit juga untuk dihentikan kecuali datang dari Pak Prabowo sendiri, adalah ini kan sudah jadi mainan oligarki, oligarkinya diperluas. Kalau dulu para pengusaha biasa, sekarang kan TNI-Polri masuk, partai politik juga masuk," tandasnya.
Diusulkan Gabriel, pemerintah sebaiknya menghentikan sementara MBG, mengevaluasi total tata kelola program, kemudian memulai kembali melalui pilot project dengan sasaran yang lebih jelas.
"Pilihan komprominya adalah hentikan sementara, evaluasi, mulai dulu dengan katakanlah 1 tahun ini pilot, baru kemudian dilanjutkan secara lebih besar, mungkin di tahun-tahun berikutnya dengan tata kelola yang lebih baik," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Prabowo Putuskan Gubernur BI Pekan Ini, Destry Damayanti Segera Dilantik?
-
Skor PISA RI di Bawah Vietnam, Prabowo: Terima Sebagai Koreksi, Tapi Kita Jangan Terlalu Takut
-
Sentil Prestasi Timnas, Prabowo Bandingkan RI dengan Cape Verde yang Penduduknya Kalah dari Sumedang
-
Prabowo: Orang Pintar Kita Banyak, Harus Dicari, Dibina dan Diberi Kesempatan
-
Bisa Deteksi Makanan Busuk di Ompreng, Ini Inovasi BRIN untuk MBG yang Bikin Prabowo Kepincut
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
MBG Maju Kena Mundur Kena, Guru Besar UGM Nilai Prabowo Terjebak Program Amburadul
-
Bunga KPR Super Ringan! Wujudkan Rumah Impian di BRI Consumer Expo 2026
-
Bukan Sekadar Turunkan Gula Darah, Ini Tantangan Terberat Pasien Diabetes yang Sering Diabaikan
-
Mau Tampil Gentle? Intip 4 OOTD Dandy Smart Casual ala Kang Hoon
-
Pegadaian, Pupuk Indonesia, Pelindo dan Angkasa Pura Didorong untuk IPO
-
Prabowo Putuskan Gubernur BI Pekan Ini, Destry Damayanti Segera Dilantik?
-
Siapa Dokter Tamara Jasmine? Sosok yang Viral Usai Sindir Pasien BPJS Kesehatan
-
Bukan Sekadar Layanan, Ini Cara BRI Beri Penghormatan Spesial untuk Purnatugas
-
Misi Mandiri Teknologi, Kepala BRIN Targetkan Indonesia Tak Lagi Bergantung pada Chip Asing
-
Takaran Sunscreen 2 Ruas Jari Berlaku untuk Semua Tekstur atau Tidak? Ini Kata Dokter