News / Nasional
Jum'at, 07 Agustus 2026 | 12:37 WIB
Sekolah Islam Harapan Ibu yang menjadi lokasi temuan 995 pucuk senjata, amunisi, aksesori senjata, alat pembuat peluru, VCD porno serta barang yang diduga narkotika jenis sabu dan ganja, Jakarta, Jumat (7/8/2026). ANTARA/Luthfia Miranda Putri.
Baca 10 detik
  • Kepolisian menemukan ratusan senjata, amunisi, narkotika, dan VCD porno di Sekolah Harapan, Jakarta Selatan, pada Jumat, 7 Agustus 2026.
  • Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji menyatakan temuan tersebut mencerminkan kegagalan sistem pengawasan serta tata kelola pendidikan.
  • Ubaid menilai keberadaan barang berbahaya itu merusak rasa aman siswa serta integritas lembaga pendidikan secara keseluruhan.

Suara.com - Temuan ratusan benda terkait senjata, amunisi, narkotika, hingga VCD porno di lingkungan Sekolah Harapan, Pondok Pinang, Jakarta Selatan dinilai menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan.

 Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji menyebut kasus tersebut bukan sekadar persoalan satu sekolah, melainkan cerminan lemahnya sistem pengawasan pendidikan.

Kasus ini mencuat setelah kepolisian menemukan ratusan benda terkait senjata di lingkungan yayasan sekolah. Polisi juga menemukan barang lain berupa narkotika dan VCD porno yang hingga kini masih didalami kepemilikannya.

Ubaid mengatakan sekolah semestinya menjadi tempat paling aman bagi anak, sehingga temuan tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam tata kelola pendidikan.

"Ini kenyataan pahit yang terus kita telan dan saksikan di sekolah-sekolah kita. Sekolah harus menjadi ruang paling aman bagi anak. Kalau senjata, amunisi, dan narkoba bisa masuk ke sekolah, maka yang gagal bukan hanya satu sekolah. Sistem pengawasan pendidikan kita juga sedang dipermalukan," kritik Ubaid disampaikan kepada suara.com, Jumat (7/8/2026).

Ia juga mempertanyakan lemahnya sistem pengawasan di sekolah hingga barang-barang tersebut bisa berada di lingkungan pendidikan tanpa terdeteksi. Hal yang patut dicurigai, menurutnya, kegagalan peran dari kepala sekolah, yayasan, pengawas sekolah, dinas pendidikan, serta sistem keamanan internal untuk mencegah hal tersebut. 

"Jangan sampai kita punya sekolah yang sangat ketat mengatur seragam, rambut, sepatu, dan keterlambatan siswa, tetapi justru gagal mendeteksi senjata dan narkoba di dalam lingkungannya sendiri. Itu ironi besar pendidikan kita," ucapnya.

Ubaid menekankan bahwa keberadaan senjata dan narkoba di lingkungan sekolah termasuk kondisi yang sudah melampaui batas. Adanya ratusan senjata tajam dengan dalih untuk keperluan ekstrakuliner menembak, menurutnya juga tidak bisa dibenarkan.

"Bukan sekadar persoalan ekstrakurikuler, tetapi kegagalan serius tata kelola dan pengawasan sekolah," ucap Ubaid.

Baca Juga: Temuan 995 Senjata Api di Sekolah Bikin Pramono Geram: Yayasan Beri Contoh Buruk

Ia menilai persoalan utama bukan hanya legalitas barang yang ditemukan, melainkan dampaknya terhadap rasa aman siswa dan integritas lembaga pendidikan. Terlebih d lokasi yang sama juga ditemukan narkoba dan VCD porno yang menambah catatan buruk bagi sekolah tersebut.

"Ketika keduanya ditemukan di sekolah, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya keamanan fisik siswa, tetapi juga integritas lembaga pendidikan itu sendiri," punhkas Ubaid.

Load More