-
Bumi dan planet lain mengitari titik barisentrum yang sering berada di luar Matahari.
-
Gravitasi Yupiter dan Saturnus menarik pusat massa tata surya keluar dari inti Matahari.
-
Sistem Bumi dan Bulan juga berputar mengelilingi titik barisentrum bersama di ruang angkasa.
Suara.com - Bumi dan planet-planet di tata surya ternyata tidak pernah mengelilingi titik pusat Matahari secara langsung. Seluruh benda langit tersebut bergerak mengitari titik keseimbangan massa bersama bernama barisentrum yang sering berada di luar Matahari.
Penyederhanaan materi pelajaran sekolah selama ini menyembunyikan fakta dinamisnya gerak orbit ruang angkasa. Pemahaman baru ini mengubah cara pandang awam mengenai gravitasi yang selama ini dianggap bekerja secara satu arah.
Planet raksasa seperti Yupiter dan Saturnus menarik pusat massa tata surya keluar dari tubuh Matahari. Interaksi gravitasi antarobjek berukuran masif secara konsisten menggeser titik orbit bersama tersebut.
Meskipun Matahari menyerap porsi massa terbesar, gravitasi tetap berlaku dua arah bagi setiap objek. Massa Bumi yang sangat kecil sekalipun tetap memberikan gaya tarik balasan terhadap Matahari.
Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menjelaskan mekanisme hukum mekanika benda langit ini melalui keterkaitan massa.
"Hukum ketiga Kepler menjelaskan hubungan antara massa dua objek yang saling berputar mengelilingi satu sama lain dan penentuan parameter orbit," penjelasan NASA, dikutip dari iflscience.
"Bayangkan sebuah bintang kecil dalam orbit mengelilingi bintang yang lebih masif. Kedua bintang tersebut sebenarnya berputar mengelilingi pusat massa bersama, yang disebut barisentrum. Ini berlaku tanpa memandang ukuran atau massa dari masing-masing objek yang terlibat. Mengukur gerakan bintang di sekitar barisentrumnya dengan planet yang masif adalah salah satu metode yang telah digunakan untuk menemukan sistem planet yang terkait dengan bintang-bintang jauh."
Keberadaan Yupiter dengan massa 1.048 kali lebih kecil dari Matahari sudah cukup untuk menggoyang posisi pusat gravitasi. Titik imbang tersebut akhirnya lebih sering melayang di ruang hampa luar Matahari.
Kondisi ini membuat jalur lintasan Bumi di antariksa sebenarnya mengitari area kosong. Benda langit bergerak mengikuti hukum fisika yang jauh lebih kompleks daripada sekadar mengelilingi bola gas raksasa.
Baca Juga: Saturnus dan Bumi
Astronom planet sekaligus komunikator sains, James O'Donoghue, memaparkan realita teknis mengenai pergerakan planet-planet tersebut.
"Planet-planet mengelilingi Matahari secara umum," O'Donoghue menjelaskan di X (Twitter).
"Tetapi secara teknis mereka tidak mengelilingi Matahari saja karena pengaruh gravitasi (utamanya) Yupiter berarti planet-planet harus mengelilingi titik baru di ruang angkasa."
"Planet-planet tentu saja mengelilingi Matahari, kita hanya bersikap pedantik tentang situasi ini," tambahnya.
"Pemikiran alami adalah bahwa kita mengelilingi pusat Matahari, tetapi itu sangat jarang terjadi, yaitu sangat jarang pusat massa tata surya menyatu dengan pusat Matahari."
Fenomena pergeseran titik imbang ini juga terjadi pada skala sistem yang lebih kecil. Hubungan gravitasi antara planet dan satelit alaminya membentuk pola pergerakan yang serupa.
Bumi dan Bulan saling mengorbit pada titik barisentrum yang berjarak sekitar 5.000 kilometer dari pusat inti Bumi. Kedudukan titik tersebut terus bergeser seiring menjauhnya posisi Bulan secara perlahan.
Visualisasi model tata surya di ruang kelas sengaja disederhanakan agar mudah dicerna oleh anak-anak. Pendekatan ini diambil sebelum siswa mempelajari konsep interaksi massa dan barisentrum yang lebih rumit.
Sains modern membuktikan bahwa hampir seluruh realitas alam semesta bekerja lebih kompleks dari teori dasar. Pengetahuan dasar sekolah berfungsi sebagai pijakan awal sebelum memahami mekanisme gravitasi yang sebenarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Penjelasan NASA Bumi Tidak Mengelilingi Matahari
-
Mendagri Tegaskan Daerah Fiskal Rendah dan Terdampak Bencana Jadi Prioritas TKD
-
2 Tanker BUMN UEA Diserang di Selat Hormuz
-
Perbedaan Shio Tikus Elemen Kayu, Api, Tanah, Logam, dan Air: Begini Karakternya
-
Bangkit Berkat Huntara, Warga Agam Kini Kembangkan Usaha Berbasis Potensi Lokal
-
SMP dan SMA Sekolah Tumbuh Gandeng Neon Bit Kembangkan Pembelajaran Coding dan Robotik
-
4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
-
Fakta Ilmiah Cara Sabun Membersihkan Baju dari Noda Membandel
-
BREAKING NEWS: Peringatan Tsunami di Flores Usai Gempa 7,0
-
Local Media Community Gandeng Google Dukung Penguatan Ekosistem Media Lokal