-
Pentagon merilis sistem AI ChatGPT Mil dan Grok untuk efisiensi Pasukan Gabungan AS.
-
Kedua model AI mengantongi lisensi keamanan Impact Level 5 untuk mengolah data CUI.
-
Kecerdasan buatan ini difokuskan mempercepat analisis logistik, pengadaan, dan tugas administrasi rutin.
Suara.com - Militer Amerika Serikat kini merangkul teknologi kecerdasan buatan paling mutakhir untuk memangkas birokrasi dan beban administrasi para personelnya. Integrasi teknologi ini menandai pergeseran nyata dalam modernisasi tata kelola operasional pertahanan modern.
Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui peluncuran sistem AI khusus yang dirancang untuk bekerja langsung di dalam jaringan internal militer. Kehadiran alat baru ini diproyeksikan bakal mempercepat alur kerja harian pasukan gabungan secara signifikan.
Departemen Perang Amerika Serikat resmi menyuntikkan model ChatGPT Mil buatan OpenAI ke dalam platform GenAI.mil milik mereka. Terobosan ini menjadi langkah konkret dari kerja sama strategis kedua pihak yang telah dibangun sejak tahun 2025.
“Departemen Perang hari ini meluncurkan ChatGPT Mil dari OpenAI, menandai kemampuan AI generasi terbaru yang tersedia di GenAI.mil, platform AI generatif utama milik Departemen,” kata DOW dalam siaran pers.
Otorisasi keamanaan ketat langsung mengiringi peluncuran teknologi ini untuk memastikan data-data penting negara tetap terlindungi secara optimal. Sistem tersebut telah mengantongi lisensi pengelolaan Informasi Tidak Terklasifikasi Terkendali (CUI) pada standar keandalan Impact Level 5 (IL5).
“Penerapan ini mempercepat tugas-tugas rutin dan membebaskan waktu untuk proyek yang lebih penting di seluruh Pasukan Gabungan,” kata DOW.
Bagaimana AI Mengubah Cara Kerja Militer AS?
Integrasi ChatGPT Mil ke dalam GenAI.mil tidak berdiri sendiri, melainkan melengkapi ekosistem kecerdasan buatan multi-model yang sedang dibangun pertahanan AS. Personel militer kini memiliki akses langsung ke berbagai pilihan teknologi cerdas untuk mendukung efisiensi operasional harian.
Tak hanya mengandalkan OpenAI, pengembang pertahanan juga menggandeng kekuatan dari penyedia teknologi terkemuka lainnya. Langkah berani ini diambil guna memastikan fleksibilitas dan ketahanan sistem pertahanan berbasis AI di lapangan.
Baca Juga: IRGC Bersumpah Balas Serangan AS di Pulau Larak yang Menewaskan Warga Iran
Dalam siaran pers terpisah, DOW juga mengumumkan peluncuran perdana Grok milik Starshield AI.
Langkah ini mempertegas bahwa penetrasi kecerdasan buatan di militer AS tidak hanya didominasi oleh satu pengembang saja. Kehadiran alat pendamping ini semakin memperkuat variasi teknologi yang bisa dimanfaatkan para petugas di berbagai tingkatan.
Sama seperti mitranya, Grok untuk Pemerintah buatan Starshield AI juga telah memegang sertifikasi otorisasi CUI dan level keamanan IL5. Sertifikasi tersebut menjamin bahwa seluruh data sensitif operasional tetap berada dalam koridor aman.
“"AI Grok Starshield untuk Pemerintah memungkinkan Pasukan Gabungan menjalankan misi dengan lebih cepat dan presisi dalam berbagai konteks operasional,” kata DOW.
Pemanfaatan praktis dari sistem kecerdasan buatan ini mencakup spektrum kerja yang amat luas di ranah nonsenjata. Petugas logistik dan tim pengadaan menjadi kelompok profesional yang paling banyak memanfaatkan kemampuan analisis cepat dari AI ini.
Menurut departemen tersebut, penggunaannya mencakup analisis riset pasar untuk personel pengadaan hingga pengelolaan rantai pasok bagi petugas logistik.
Penerapan kecerdasan buatan skala besar ini berakar dari kebutuhan Pentagon untuk merespons dinamika global yang menuntut kecepatan eksekusi data secara tepat. Di era digital, keterlambatan pemrosesan informasi administrasi dan logistik bisa berdampak langsung pada kesiapan tempur pasukan.
Sejak tahun 2025, Departemen Perang AS secara konsisten membangun infrastruktur GenAI.mil sebagai wadah utama transformasi digital internal mereka. Pengintegrasian model seperti ChatGPT Mil dan Grok merupakan pemenuhan cetak biru jangka panjang militer AS untuk menjadikan AI sebagai penguat daya tempur (force multiplier) nonsenjata.
Pentagon berencana terus memperluas penggunaan AI generasi terbaru sebagai pengganda kekuatan di seluruh Pasukan Gabungan Amerika Serikat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- Cara Membersihkan Bunga Es Tanpa Mematikan Kulkas, Aman dan Mudah Dilakukan
- 4 Tips Merebus Telur agar Mudah Dikupas, Hasil Mulus Sempurna
- 3 HP Infinix Mirip iPhone 17 Pro Max, Tampil Mewah ala Flagship
Pilihan
-
Terbuang dari Klub Orang Indonesia, Emil Audero Selangkah Lagi ke Rayo Vallecano
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
Terkini
-
Sengketa Lahan Bertahun-tahun, Warga Banjarsari Bermalam di Kantor Bupati Lahat
-
Babakan Cileungsi Mencekam, Pemilik Rumah Pingsan Menyaksikan Tempat Tinggalnya Ludes Terbakar
-
Pengadaan Smartboard Disdik Bogor Diusut KPK
-
Depok Buka Kuota Gratis Kerjaan Sopir di Jepang untuk 1.000 Warga
-
Gunung Gede Pangrango Tutup Pendakian Sampai Waktu yang Belum Ditentukan
-
Gandeng Konsultan ITB Tangani Banjir, Bupati Serang Minta Langkah Ini Diduplikasi
-
Wakil Ketua DPRD Jabar Iwan Suryawan Dorong Efisiensi BTT APBD untuk AI Karhutla
-
Keracunan Massal Santri Usai Santap MBG Jadi Perhatian Khusus Bupati Sidoarjo
-
Aktor Utama di Luar Negeri, Bareskrim Endus Pola Canggih Penyelundupan Narkoba Jalur Laut
-
Jonatan Christie Kejar Poin di China Masters, Tiket World Tour Finals Jadi Target