News / Nasional
Kamis, 03 September 2026 | 10:20 WIB
Sejumlah orang tua murid mengantri daftar Bimbingan Belajar (Bimbel) Exist Gayam, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026). [Suara.com/Hiskia]
Baca 10 detik
  • Orang tua di Yogyakarta rela antre dini hari demi mendaftarkan anak ke Bimbingan Belajar Exist Gayam.
  • Pengamat UGM Agustinus Subarsono menilai fenomena tersebut menandakan adanya kekurangan dalam sistem pembelajaran pendidikan formal.
  • Subarsono mengingatkan orang tua agar tidak memaksakan ambisi pribadi serta memberi kebebasan mengejar mimpi anak.

Suara.com - Antusiasme orang tua mendaftarkan anak ke Bimbingan Belajar (Bimbel) Exist Gayam, Kota Yogyakarta belum lama ini, yang membuat sebagian orang tua rela antre sejak dini hari hingga menginap, dinilai perlu dilihat secara kritis.

Pengamat Kebijakan Pendidikan UGM, Agustinus Subarsono, mengatakan fenomena tersebut bisa menunjukkan kesadaran orang tua meningkatkan pendidikan anak. Namun di sisi lain dapat menjadi tanda adanya persoalan dalam pendidikan formal.

Menurut Subarsono, orang tua umumnya memasukkan anak ke bimbel untuk meningkatkan prestasi, membantu kesulitan belajar, serta mempersiapkan anak menghadapi ujian dan seleksi ke jenjang pendidikan berikutnya.

Ada pula faktor lingkungan yang turut berpengaruh ketika anak melihat teman-temannya mengikuti bimbel sehingga terdorong melakukan hal serupa.

"Berangkat dari pemikiran positif, pertama, saya bisa beragumentasi bahwa memasukan anak ke Bimbel dengan tujuan baik yakni meningkatkan prestasi belajar anak dan membantu anak yang mengalami kesulitan belajar," kata Subarsono dikonfirmasi Suara.com, Kamis (3/9/2026).

Namun, ia menilai fenomena tersebut juga dapat menunjukkan adanya celah dalam pendidikan formal. Sekolah seharusnya tidak hanya memberikan pengetahuan.

Lebih dari itu penting untuk sekolah membangun karakter, keterampilan dan kepercayaan diri siswa. Ketika pembelajaran terlalu berorientasi mengejar target materi, pemahaman siswa terhadap pelajaran berpotensi tidak tuntas.

Bimbel kemudian menjadi tempat siswa mendapatkan latihan menghadapi berbagai tes. Secara psikologis, latihan tersebut dapat membuat anak lebih mantap menghadapi ujian sekolah maupun seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya.

"Sebaliknya, dari pemikiran negatif, dengan banyaknya murid masuk dalam arena Bimbel bisa dibaca sebagai fenomena kegagalan pendidikan formal (sekolah)," ujarnya.

Baca Juga: Demi Kuota Bimbel Tahun Depan, Orang Tua di Yogyakarta Rela Antre sejak Dini Hari hingga Menginap

Di sisi lain, ia mengingatkan orang tua agar tidak terlalu mencampuri pilihan pendidikan anak. Orang tua seharusnya menjadi teman berdiskusi sekaligus fasilitator yang memberikan kesempatan anak mengembangkan minatnya melalui berbagai kegiatan, bukan hanya bimbel.

Sejumlah murid SD Kubang mengikuti bimbingan belajar yang diberikan relawan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Peduli Bangsa di Kampung Kubang, Gunungsari, Serang, Banten, Jumat (28/8/2020). [ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman]

"Ortu tidak boleh terlalu intervensi terhadap pendidikan anak. Tugas utama ortu adalah mendengarkan kebutuhan anak dan sebagai teman dialog dan diskusi," tegasnya.

Ditekankan Subarsono, agar ambisi orang tua tidak menjadikan anak sebagai objek untuk memenuhi mimpi keluarga. Setiap anak memiliki keunikan dan talenta berbeda sehingga perlu diberi ruang untuk berkembang sesuai kemampuan dan cita-citanya.

"Obesi ortu yang terlalu besar pada pendidikan anak cenderung ingin mencetak anak-anaknya seperti mimpinya, dan lupa bahwa anak memiliki mimpi sendiri," ujarnya.

Menurut Subarsono, pola pendidikan harus pula menyesuaikan perkembangan teknologi digital termasuk Artificial Intelligence (AI).

Anak kini dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari berbagai sumber di luar sekolah dan bimbel, termasuk platform digital serta kursus daring.

"Perlu kesadaran ortu bahwa dunia sekarang berbeda dengan dunia ortu waktu muda, dunia telah mengalami transformasi dari kehidupan konvensional menjadi kehidupan yang ditopang oleh perangkat teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI)," tuturnya.

Selain itu orang tua tidak perlu untuk memaksakan universitas sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Perubahan dunia kerja membuka berbagai jalur baru yang memungkinkan anak berkembang melalui talenta masing-masing.

"Oleh karenanya, ortu sebaiknya tidak perlu memaksa anaknya harus masuk universitas, berikan ruang kebebasan bagi mereka mengejar mimpinya sesuai dengan talenta, passion-nya. Siapkah ortu menghadapi itu semua? Jawbannya ada pada masing-masing ortu," pungkasnya.

Load More