- Kelompok Houthi menyerang ibu kota Arab Saudi, Riyadh, dengan rudal balistik pada Sabtu, 19 September.
- Putra Mahkota Saudi meminta serangan langsung AS terhadap Houthi, tetapi Washington menolak dan hanya memberikan dukungan intelijen.
- Ofensif terbaru Houthi membuat pasukan pro-Saudi kehilangan wilayah strategis pesisir serta meningkatkan risiko terhadap ekspor energi.
Amerika Serikat sebelumnya pernah melancarkan kampanye militer terhadap Houthi.
Namun, menurut CNN, serangkaian serangan tersebut tidak berhasil sepenuhnya mengusir kelompok tersebut dari wilayah yang dikuasainya dan kemudian berakhir dengan gencatan senjata.
Kini Washington kembali memilih pendekatan yang lebih terbatas.
Dukungan intelijen dan informasi target diberikan kepada Saudi, sementara pasukan AS tidak dilibatkan dalam serangan ofensif langsung.
Seorang pejabat Houthi yang dikutip CNN mengatakan pihaknya menerima pesan bahwa Amerika Serikat tidak ingin bergabung dengan Saudi dalam konflik tersebut.
“Pesan ini kami terima secara positif,” kata pejabat Houthi tersebut kepada CNN.
Sejumlah sumber kawasan menilai serangan Houthi dan situasi di sekitar Bab el-Mandeb ikut memengaruhi pembicaraan mengenai Hormuz. D
ua jalur strategis tersebut kini berada di tengah ketegangan regional yang saling berkaitan.
Sementara itu, Saudi juga menghadapi sejumlah tekanan lain, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi dan kebutuhan menjaga jalur ekspor minyak tetap terbuka.
Reuters melaporkan konflik terbaru telah meningkatkan risiko terhadap ekspor energi Saudi dan perdagangan global.