Suara.com - Permasalahan sampah di Indonesia tidak hanya berhubungan dengan menumpuknya limbah di tempat pembuangan akhir (TPA). Sampah yang tidak dikelola dengan baik juga bisa menjadi sumber emisi gas rumah kaca hingga polutan berbahaya bagi kesehatan.
Hal itulah yang mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pengolahan sampah melalui gasifikasi terkontrol.
Teknologi ini dirancang untuk mengubah biomassa dan sampah padat menjadi sumber energi, sekaligus menekan potensi pelepasan emisi dari limbah.
Peneliti dari Pusat Riset Teknologi Konversi Energi BRIN, Nina Konitat Supriatna, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah yang buruk dapat memperburuk persoalan lingkungan dan kesehatan.
"Saat ini masih banyak sekali sampah yang dibuang secara sembarangan dan tidak melalui manajemen sampah. Sampah yang tidak terkelola akan memicu metan, di mana metan ini sangat besar perannya menyebabkan naiknya gas emisi rumah kaca," ujar Nina.
Nina memandang persoalan ini tidak bisa berhenti hanya pada permasalahan sampah yang menumpuk. Pembakaran sampah secara terbuka juga mampu menghasilkan sejumlah polutan.
"Selain itu, pembakaran yang tidak terkelola, juga akan menghasilkan emisi CO2, dioksin, dan furan yang berbahaya bagi kesehatan kita," imbuhnya.
Sampah Diolah Jadi Sumber Energi
Dalam rangka mengatasi persoalan tersebut, PRTKE BRIN mencoba untuk mengembangkan teknologi gasifikasi yang memanfaatkan biomassa dan sampah padat atau Refuse Derived Fuel (RDF).
Jika sebelumnya sampah dibiarkan menumpuk, pada terobosan ini material-material tersebut diproses untuk menghasilkan syngas. Gas tersebut mengandung hidrogen, karbon monoksida, dan metana yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
BRIN menilai teknologi yang dikembangkannya ini berpotensi mengurangi gas metana dan CO2 dari pengolahan sampah berkapasistas 150 ton per hari hingga 90 persen.
Pengembangan teknologinya juga meliputi sistem pemilahan sampah otomatias berbasis kecerdasan buatan atau Akal Imitasi (AI).
Fase pertama pengembangan teknologi pemilahan tersebut telah selesai kemudian dilanjutkan ke fase berikutnya dengan fasilitas yang direncanakan berada di Parepare, Sulawesi Selatan.
Dengan adanya pemilahan dan pengolahan sampah yang lebih terkontrol, sampah tidak lagi hanya dipandang sebagai material tak bernilai guna. Limbah-limbah tersebut bisa juga dimanfaatkan sebagai bahan baku energi maupun produk turunan.
Mengubah Plastik Menjadi Material Bernilai Tinggi
Bahkan pengembangan sampah ini dikembangkan lebih mendalam. Dalam teknologi gasifikasi BRIN, limbah plastik dapat diproses pada temperatur sekitar 1.600 derajat Celsius untuk memproduksi Carbon Nanotube (CNT).
CNT merupakan sebauh material maju yang memiliki berbagai karakteristik unggul sehingga bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan teknologi tertentu. Selain itu, residu dari proses gasifikasi berupa tar dan char (arang) juga dikembangkan menjadi bahan isolator.
Upaya-upaya tersebut membuktikan bahwa pengolahan sampah bisa diarahkan tidak hanya untuk menekan volume limbah, melainkan juga untuk menghasilkan material bernilai tambah.
Pada sisi lain, BRIN turut mengembangkan teknologi untuk menangkap karbon dari sektor industri. Salah satunya adalah Calcium Looping yang dirancang bersama University of Waterloo, Kanada.
Nina menerangkan bahwa teknologi tersebut dibuat untuk menangkap hingga 90 persen CO2, terutama dari industri semen.
Dalam sektor ini juga menghadapi permasalahan emisi bukan hanya bersumber dari penggunaan bahan bakar, tetapi juga dari proses perubahan kalsium karbonat menjadi kalsium oksida.
"Calcium looping ini bisa menangkap CO2 sampai 90 persen. Ini untuk industri semen, karena itu adalah sektor yang masalah emisinya bukan hanya dari bahan bakar," jelas Nina.
Bahkan praktisi industri dari PT CCEPC Environment Protection and Energy Comprehensive Utilization Indonesia, Daffa Khairi menilai pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy semakin diperlukan. Sebab, masih banyak didapati sampah yang belum dikelola secara maksimal.
"Mengapa ada urgensi untuk pengelolaan sampah menjadi energi? Karena pengelolaannya hampir 50 hingga 65 persen belum dilakukan secara penuh," kata Daffa.
Ia menekankan bahwa tujuan utama dari fasilitas pengolahan sampah menjadi energi tetaplah mengelola limbah. Sementara pada listrik yang diperoleh itu menjadi nilai tambah dari proses tersebut.
Melalui pendekatan ini, teknologi gasifikasi BRIN tidak hanya difokuskan untuk menghasilkan energi. Lebih dari pada itu, BRIN mencoba berkontribusi dalam upaya mengurangi emisi dan memanfaatkan kembali material yang sebelumnya berakhir sebagai limbah.
Penulis: Chairunisa