-
Sebanyak 21 TKA China dipulangkan ke negaranya karena tidak terlibat bentrokan di Morowali.
-
Penyidik memeriksa 53 TKA China dan merawat satu korban luka untuk mengusut kerusuhan.
-
Polda Sulawesi Tengah mengimbau masyarakat menjaga kondusifitas dan memercayakan proses hukum kepada polisi.
Suara.com - Sebanyak 21 tenaga kerja asing asal China resmi diterbangkan kembali ke negara asalnya pasca insiden bentrokan antara TKA China dengan warga di Morowali. Langkah deportasi mandiri yang difasilitasi perusahaan ini diambil untuk meredam eskalasi keamanan di area lingkar tambang.
Polda Sulawesi Tengah memastikan puluhan pekerja asing yang pulang tersebut bersih dari keterlibatan aksi kekerasan di lokasi PT Astima Konstruksi. Aparat kepolisian sebelumnya hanya mengamankan mereka demi menghindari sasaran amuk massa yang meluas.
Proses pemulangan ini sekaligus membuka tabir bahwa puluhan TKA lainnya masih tertahan di markas kepolisian untuk menjalani pemeriksaan maraton. Polisi terus menggali peran masing-masing pekerja asing dalam memicu bentrokan berdarah tersebut.
Dirreskrimum Polda Sulteng Kombes Pol Suryono mengonfirmasi pemulangan puluhan warga asing tersebut melalui pernyataan resminya.
“Sebanyak 21 orang WNA asal China dari PT KUU telah kembali ke China dengan difasilitasi oleh perusahaan. Mereka tidak ada kaitannya dengan peristiwa rusuh di PT Astima Konstruksi,” kata Dirreskrimum dalam keterangan tertulis dikutip dari RRI.
Tim penyidik gabungan kini memfokuskan konsentrasi untuk memeriksa secara intensif 53 pekerja asing yang tersisa. Selain itu, terdapat satu TKA lain yang masih harus menjalani perawatan medis akibat luka fisik.
Pemeriksaan marathon ini melibatkan penyidik Polres Morowali dan Polda Sulawesi Tengah guna mengumpulkan bukti hukum yang sah. Polisi berjanji mengusut tuntas siapa saja pihak yang menjadi dalang utama kerusuhan.
Kabidhumas Polda Sulteng Kombes Pol Achmad Muhaimin meminta segenap warga Morowali untuk menahan diri dan menyerahkan seluruh proses hukum kepada kepolisian. Imbauan ini dikeluarkan demi menjaga stabilitas kawasan industri vital di wilayah tersebut.
"Polda Sulteng memastikan proses penyelidikan dan penyidikan terus dilakukan secara profesional dan berdasarkan fakta hukum. Mari kita bersama menjaga kondusifitas di Sulawesi Tengah yang aman, damai dan tentram," pungkasnya.
Kerusuhan di kawasan PT Astima Konstruksi (Askon) pada Sabtu, 3 Oktober 2026, bermula dari ketegangan antara pekerja lokal dan TKA China milik PT Karyatama Konawe Utara. Gesekan sosial di area operasional perusahaan tersebut mendadak memuncak hingga berujung pada bentrokan fisik secara terbuka.