Hadapi Risiko Banjir di Permukiman Padat, Warga Malaka Jaya Manfaatkan Biopori dan Penampung Air

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:35 WIB
Lingkungan RT08 RW04 Malaka Jaya yang tampak bersih dan asri. Sumber: Dok pribadi/Inesia Dian

Suara.com - Permukiman padat di perkotaan menghadapi persoalan genangan air saat hujan dan terbatasnya ruang resapan akibat dominasi beton. Di RT 08 RW 04, Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, warga merespons persoalan tersebut melalui pengelolaan air hujan, sampah organik, dan penghijauan lingkungan. 

Ketua RT 08, Taufiq Supriadi, mengatakan program lingkungan itu berangkat dari persoalan yang dihadapi warga sehari-hari. Upaya tersebut mencakup pemasangan lubang resapan biopori, pembuatan kompos, pemanenan air hujan, dan budi daya tanaman produktif.

Salah satu program utama adalah pemasangan lubang resapan biopori di depan rumah warga. Selain membantu air hujan meresap ke tanah, lubang tersebut dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.

Warga juga mengolah sampah organik menjadi ekoenzim melalui proses fermentasi. Sementara itu, air hujan ditampung menggunakan gentong yang terhubung dengan pipa dari atap rumah, lalu digunakan untuk menyiram tanaman dan membersihkan kotoran kucing liar.

Taufiq mengatakan, upaya menampung dan meresapkan air hujan diharapkan dapat mengurangi limpasan air menuju saluran drainase. Efektivitasnya tetap bergantung pada kondisi lingkungan dan penerapan sistem di setiap rumah.

Selain pengelolaan air dan sampah, warga mengembangkan tanaman produktif, seperti pepaya dan kelor. Menurut Taufiq, lingkungan yang sebelumnya didominasi beton kini lebih hijau, sekaligus mendorong keterlibatan warga dalam kegiatan penghijauan dan gotong royong.

Meski demikian, pengolahan air limbah masih menjadi pekerjaan rumah. Saluran air berwarna hitam di belakang permukiman menjadi salah satu persoalan yang ingin ditangani melalui rencana pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Taufiq berharap instalasi tersebut dapat memperbaiki kualitas air di saluran permukiman. Ia menilai upaya menghadapi persoalan lingkungan dan dampak perubahan iklim dapat dimulai dari tingkat RT melalui pengelolaan air hujan, sampah organik, dan ruang hijau.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com