- Kementerian Pariwisata mengembangkan Camino de Flores di NTT guna meratakan kunjungan wisatawan ke luar Labuan Bajo.
- Uji coba rute sepanjang 70 kilometer antara Bajawa hingga Ende dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.
- Program wisata jalan kaki ini bertujuan meningkatkan perekonomian masyarakat desa serta mendukung pemulihan pascagempa.
Selain pengembangan wisata, kegiatan Camino de Flores juga mengintegrasikan penggalangan dana untuk mendukung renovasi rumah sakit, gereja, serta sarana budaya dan pariwisata, termasuk fasilitas sanitasi dan akses air bersih di Flores.
Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena menyambut pengembangan Camino de Flores sebagai salah satu upaya mendukung pemulihan Flores setelah gempa bumi.
Ia juga mengusulkan agar konsep perjalanan serupa dikembangkan di wilayah lain di NTT dengan menyesuaikan karakter dan potensi lokal masing-masing.
“Kita bisa buat Camino de NTT. Jadi di Flores buat sendiri, Timor buat sendiri, Sumba buat sendiri sesuai dengan daya tarik, cerita dan keunikan masing-masing,” kata Emanuel.
Kemenpar menyatakan hasil evaluasi proyek percontohan akan digunakan untuk menetapkan rute final, standar kelayakan, dan profil risiko sebelum Camino de Flores dikembangkan sebagai paket wisata berkelanjutan.