Negara Hampir Lumpuh, Singapura Makin Sesak Napas karena Kebakaran Hutan Indonesia

Kamis, 15 Oktober 2026 | 14:05 WIB
Kualitas udara wilayah pusat Singapura memburuk hingga masuk kategori tidak sehat pada Jumat pagi. (CNA)
BACA 10 DETIK
  • Singapura dilanda krisis polusi terparah akibat kebakaran hutan Indonesia.
  • Konsentrasi partikel PM2.5 di Singapura lampaui batas aman WHO.
  • Pemerintah Indonesia kerahkan 60.000 personel untuk padamkan kebakaran hutan.

Suara.com - Singapura kini tercekik krisis polusi udara terburuk akibat terjangan asap pekat kiriman dari kebakaran hutan di Indonesia. Gelombang kabut beracun ini bahkan memaksa negara tetangga tersebut merasakan dampak kesehatan yang sangat mengkhawatirkan.

Kualitas udara di wilayah barat Singapura langsung meroket ke level paling berbahaya dalam skala nasional pada Rabu kemarin. Situasi darurat ini memicu kekhawatiran mendalam bagi jutaan warga yang harus menghirup udara beracun setiap detik.

Badan Lingkungan Nasional Singapura mendeteksi lonjakan partikel halus PM2.5 hingga menembus angka 288 mikrogram per meter kubik. Angka mengerikan tersebut jauh melampaui batas aman tahunan yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia secara drastis.

Ilustrasi Kebakaran Hutan (Pexels/K)

Dikutip dari DW Jerman, partikel super kecil beracun itu terbukti mampu menyusup langsung ke dalam paru-paru hingga aliran darah manusia. Ancaman penyakit mematikan kini mengintai keselamatan warga akibat paparan polutan yang tidak kenal kompromi.

Bencana lingkungan lintas batas ini membuktikan betapa rentannya kawasan regional terhadap asap kiriman. Penderitaan Singapura semakin berlipat ganda karena kabut tebal menutup ruang gerak serta aktivitas publik secara masif.

Timor Leste bahkan mengambil langkah drastis dengan meliburkan seluruh sekolah demi menyelamatkan generasi muda dari paparan polusi. Ganasnya amukan api di Sumatra dan Kalimantan kini benar-benar melumpuhkan stabilitas kesehatan di berbagai negara tetangga.

Fenomena iklim El Niño tahun ini memperburuk situasi kekeringan sehingga memicu kebakaran hutan terdahsyat dalam sebelas tahun terakhir. Ratusan ribu hektare lahan hangus terbakar akibat praktik pembukaan tanah yang mengabaikan keselamatan ekosistem alam.

Para pakar lingkungan menegaskan bahwa alih fungsi bentang alam memperparah ketahanan ekologis wilayah Sumatra dan Kalimantan secara signifikan. Pembakaran liar yang terus berulang menciptakan bencana ekologis tahunan yang kian sulit dikendalikan.

Kondisi lapangan di Kalimantan semakin mengenaskan karena jarak pandang sangat pendek hingga melumpuhkan operasi pesawat pengebom air. Asap pekat mengepung titik api dan merusak upaya pemadaman darurat yang dilakukan petugas gabungan.

Presiden Prabowo Subianto pada Senin (12/10) memerintahkan pemerintah mengerahkan upaya maksimal untuk menangani kebakaran.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan lebih dari 60.000 personel telah dikerahkan untuk memadamkan api di lapangan.

Meskipun puluhan ribu personel sudah diterjunkan, kombinasi rekayasa cuaca dan pengeboman air belum membuahkan hasil maksimal.

Bencana tahunan ini berakar dari musim kemarau panjang serta praktik pembukaan lahan tradisional yang memicu krisis ekologi di Indonesia.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com