Mengapa Demo Prancis Berakhir Kerusuhan? Ini 9 Faktanya

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:15 WIB
kerusuhan di Prancis (X.com)
BACA 10 DETIK
  • Ratusan ribu warga Prancis melakukan demonstrasi besar yang berujung kerusuhan ekstrem di Paris dan berbagai kota pada 17 Oktober 2026.
  • Aksi massa dipicu oleh protes kondisi sekolah, krisis biaya hidup, dan ketidakpastian politik menjelang pemilihan presiden Prancis tahun 2027.
  • Kerusuhan tersebut mengakibatkan lebih dari 1.200 orang ditangkap, ratusan petugas terluka, serta kerusakan material mencapai ratusan juta euro.

5. Adanya kelompok yang sengaja melakukan kekerasan

Sebagian besar peserta berdemo secara damai. Namun kelompok bertopeng (sering disebut ultra-kiri atau penjarah oportunis dari pinggiran kota) menargetkan gedung publik, toko mewah, supermarket, dan kendaraan.

Mereka melempar batu, kembang api, serta membakar barricade. Pemerintah menyalahkan unsur kriminal dan ekstrem, sementara oposisi mengkritik penanganan polisi.

6. Eskalasi di lokasi strategis

Di Paris, bentrokan berlangsung hingga malam di sekitar Place de la République dan kawasan lain. Di Limoges, balai kota bersejarah hampir ludes terbakar. Lyon, Marseille, Rennes, Toulouse, dan kota lain mengalami penjarahan serta vandalisme. Jalan-jalan dipenuhi puing, mobil terbakar, dan toko yang dijarah.

7. Respons polisi yang intensif

Petugas menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa kekerasan. Akibatnya, sekitar 150 hingga lebih dari 500 polisi dan petugas terluka.

Seorang remaja 17 tahun di Saint-Étienne kehilangan tangan kanan akibat granat pengendali massa. Satu demonstran meninggal karena serangan jantung yang tidak terkait langsung dengan kekerasan.

8. Latar belakang politik yang tegang

Prancis sedang menghadapi pemerintahan minoritas, utang tinggi, dan rencana pemangkasan anggaran. Protes terjadi hanya sekitar enam bulan menjelang pemilu yang diperkirakan ketat antara kandidat sayap kiri dan kanan.

Ketidakpuasan terhadap pemerintahan Macron yang sudah lama berkuasa memperkuat rasa frustrasi kolektif.

9. Kombinasi faktor struktural dan momentum

Sistem pendidikan yang sudah lama bermasalah, ketimpangan sosial, serta tradisi protes kuat di Prancis bertemu dengan momen politik rawan.

Ketika tuntutan tidak segera dijawab secara memuaskan meski ada janji tambahan guru, energi massa mudah dialihkan ke aksi destruktif oleh kelompok tertentu.

Kerusuhan ini sekali lagi menegaskan bahwa di Prancis, unjuk rasa besar seringkali sulit sepenuhnya damai. Meskipun mayoritas peserta hanya ingin menyuarakan keluhan sah, kehadiran unsur kekerasan dan penjarahan mengubah citra aksi menjadi kekacauan.

Pemerintah Prancis kini harus menyeimbangkan penegakan hukum dengan respons substantif terhadap akar masalah—mulai dari kualitas pendidikan hingga biaya hidup—agar gelombang ketidakpuasan tidak terus berulang menjelang transisi kekuasaan 2027.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com