Membangun Talenta Digital, Menjemput Peluang Kerja dari Penjuru Negeri Menuju Indonesia Emas 2045

Rabu, 21 Oktober 2026 | 14:05 WIB
Ilustrasi peserta Digital Talent Shcolarship sedang mengakses laman Digitalent Komdigi (magnific)
BACA 10 DETIK
  • Kementerian Komdigi menyelenggarakan program Digital Talent Scholarship sejak 2018 untuk memperkuat kompetensi digital masyarakat Indonesia.
  • Alumni program DTS di berbagai daerah berhasil mendapatkan peningkatan peluang kerja serta kenaikan penghasilan signifikan.
  • Pemerintah menargetkan pemenuhan kebutuhan jutaan talenta digital nasional guna mendukung percepatan transformasi ekonomi digital Indonesia.

Suara.com - Kesenjangan talenta digital Indonesia diproyeksikan mencapai 2,74 juta orang pada 2030. Pengalaman alumni Digital Talent Scholarship (DTS) ini memperlihatkan bagaimana pelatihan dapat membantu mengembangkan keterampilan digital sekaligus menyoroti pentingnya kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri dan pemerataan akses pelatihan.

"Ting!"

Sebuah notifikasi pesan masuk ponsel Navyll. Di layar ponselnya tertulis panggilan wawancara kerja dari perusahaan yang ia lamar belum lama ini. Inilah momen yang ia tunggu-tunggu, akhirnya tiba juga.

Tanpa pikir panjang, Navyll langsung membalas pesan tersebut dengan memberikan konfirmasi kehadiran mengikuti wawancara. Ia langsung mempersiapkan berbagai berkas yang dibutuhkan untuk keperluan wawancara kerja, mulai dari curriculum vitae hingga portofolio.

Saat berbincang dengan Suara.com, Senin (28/9/2026), Navyll mengenang momen pertama kali mendapat panggilan kerja pada 2024 silam. Bagi pencari kerja yang baru lulus kuliah seperti Navyll, mendapatkan pekerjaan pertama bukanlah hal mudah. Setelah lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jurusan Pendidikan Multimedia, tak terhitung berapa banyak berkas lamaran kerja yang sudah ia kirim ke berbagai perusahaan.

Navyll ingin menekuni bidang User Experience (UX), bidang yang mulai menarik perhatiannya sejak kuliah. Peluang menjadi UX designer semakin nyata setelah ia mendapatkan sertifikasi Google UX Design Professional Certificate pada 2023.

Menariknya, sertifikat yang diakui di tingkat dunia itu didapatkannya secara cuma-cuma melalui program Digital Talent Scholarship (DTS) yang diluncurkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Sertifikat yang didapatkan Navyll setelah menyelesaikan pelatihan DTS itu menjadi salah satu bekal awal ketika ia mulai melamar pekerjaan.

“Setelah ikut DTS dan dapat sertifikasi Google, saya dapat beberapa panggilan kerja," kata Navyll.

Perjalanan Navyll menjadi salah satu gambaran bagaimana pelatihan keterampilan digital dapat membuka peluang memasuki dunia kerja. Upaya pemerintah untuk memperkuat kompetensi digital masyarakat salah satunya diwujudkan melalui DTS, program yang diluncurkan sejak 2018 dan menjadi bagian dari strategi transformasi digital nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Laporan Analisis Dampak Program DTS dari Kementerian Komdigi tahun 2025 mencatat ada 644.287 peserta pelatihan dan 434.948 peserta lulus. Angka ini mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2024 tercatat sebanyak 134.425 peserta dan tahun 2023 sebanyak 111.409 peserta.

Dalam laporan tersebut disebutkan alumni DTS berusia 26 sampai 35 tahun berpeluang lebih tinggi berganti status pekerjaan. Sebanyak 17,6 persen alumni DTS berubah status dari tidak bekerja menjadi bekerja dan 9 persen alumni berubah status dari tidak bekerja menjadi mempersiapkan usaha.

Sementara itu, sebanyak 39,9 persen alumni yang berstatus bekerja mengalami kenaikan penghasilan dengan rata-rata kenaikan yang dilaporkan mencapai 12 persen atau sekitar Rp565.701 setelah pelatihan.

Dampak positif terhadap peningkatan peluang kerja dirasakan betul oleh Navyll. Berawal dari mengikuti pelatihan intensif, mengerjakan tugas akhir hingga mengikuti ujian sertifikasi, ia bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang yang diimpikannya.

"Program DTS sangat bagus ya karena ramah buat fresh graduate. Ada sertifikasinya dan cukup membantu buat cari entry level job," kata Navyl.

Gambar grafik jumlah peserta Digital Talent Scholarship (Olah data Suara.com/Komdigi)

Dari Ruang Pelatihan ke Dunia Kerja

Bidang UX bukanlah hal baru bagi Navyll, karena ia pernah mempelajari dasar-dasarnya saat masih kuliah. Namun, pengetahuan itu tidak cukup untuk menjadikannya sebagai seorang UX designer profesional yang dicari oleh perusahaan.

Keterbatasan ilmu tersebut yang mendorongnya untuk terus belajar mendalami bidang UX. Sampai suatu hari ia menemukan pengumuman pendaftaran DTS bidang UI/UX yang sesuai dengan minatnya.
Setelah lolos seleksi, Navyll mengikuti pelatihan selama dua bulan. Ia mendapatkan banyak sekali materi pelatihan yang sangat berguna untuk dunia kerja.

Salah satu materi yang masih ia gunakan dalam pekerjaan adalah User Journey untuk memetakan perjalanan pengguna saat menggunakan produk dan Competitive Analyst untuk mempelajari produk kompetitor. Materi tersebut membantunya melihat sebuah desain UX bukan sekadar tampilan visual tetapi juga harus bisa menjawab kebutuhan pengguna.

"Materi ini sangat berguna dan dipakai terus di dunia pekerjaan. Dapat banyak insight menarik," kata Navyll.

Pengalaman Navyll sejalan dengan temuan dalam laporan Analisis Dampak Program DTS tahun 2025. Dalam laporan tersebut, alumni DTS mencatat skor pemecahan berbasis digital sebesar 3,78 poin lebih tinggi dibandingkan kelompok nonpeserta. Pada aspek komunikasi dan kolaborasi, skor alumni DTS lebih tinggi yakni 3,72 dibandingkan kelompok nonpeserta sebesar 3,49.

Sementara itu, skor literasi data alumni DTS juga lebih tinggi yakni 3,76 dibandingkan nonpeserta sebesar 3,54 poin. Temuan ini menunjukkan pelatihan DTS berkaitan dengan peningkatan kemampuan digital yang lebih luas dan tidak terbatas pada penguasaan perangkat atau aplikasi.

Gambar grafik dampak program DTS tahun 2025 (Olah data Suara.com/Komdigi)

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo mengatakan, sumber daya manusia digital menjadi pilar utama untuk mendukung visi digitalisasi nasional dan peningkatan ekonomi digital secara nasional.

"DTS dirancang untuk mempercepat transformasi digital Indonesia sekaligus mendukung strategi peningkatan ekonomi digital nasional yang diproyeksikan tumbuh empat kali lipat pada 2030," kata Angga dalam keterangan resminya.

Dalam laporan Proyeksi Ketersediaan Supply dan Demand Talenta Digital Indonesia 2024-2030 yang dikeluarkan Kementerian Komdigi, kebutuhan talenta digital tahun 2030 sebanyak 12.092.110 orang pada 2030. Sementara, ketersediaan talenta digital tahun 2023 sebanyak 6.064.085 orang dan diproyeksikan meningkat menjadi 9.343.849 orang di tahun 2030. Masih ada gap atau kekurangan talenta digital di Indonesia sebesar 2.748.260 orang. Gap inilah yang sedang diisi melalui pelatihan DTS yang fokus pada peningkatan SDM.

Peluang di Luar Pulau Jawa

Kesempatan mengembangkan keterampilan digital melalui program DTS tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Pulau Jawa saja. Di Makassar, Sulawesi Selatan, Rahmah juga merasakan manfaat DTS setelah mengikuti pelatihan Video Content Creator dari Thematic Academy DTS pada 2025.

Saat itu, Rahmah telah bekerja sebagai social media marketer di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan. Ia terpilih menjadi salah satu peserta yang mengikuti pelatihan secara luring di Balai Besar Pelatihan SDM (BBLSDM) Komdigi Makassar.

Salah satu materi yang paling berkesan bagi Rahmah adalah saat ia belajar membuat hook atau pembuka konten. Ia mempelajari cara merancang hook, menentukan penempatan hingga memahami algoritma media sosial agar konten dapat menjangkau lebih banyak orang.

Materi tersebut kemudian ia terapkan dalam pekerjaan sehari-hari. Hasilnya, konten-konten yang dibuatnya mampu menjangkau audiens jauh lebih luas, bahkan meraih lebih dari 100 ribu penayangan hanya dalam beberapa menit setelah diunggah.

"Baru tayang beberapa menit tayang bisa langsung tembus 100 ribu views. Sebelumnya mah ada yang lihat satu dua aja sudah syukur gitu," kata Rahmah saat dihubungi Suara.com.

Tak hanya itu, pelatihan dari DTS juga memberinya pemahaman yang lebih kuat terkait media sosial. Ia juga semakin memahami cara menyusun konten edukasi yang informatif dengan mengutamakan kebutuhan audiens. Pengetahuan ini menjadi bekal untuk menghasilkan konten yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga menyampaikan informasi kepada masyarakat secara lebih efektif.

Setelah menyelesaikan pelatihan, Rahmah mendapatkan sertifikat yang dapat diakumulasikan menuju sertifikasi kompetensi content creator dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

"Jadi nanti bisa dikonversi, lalu ikut uji kompetensi supaya dapat sertifikasi BNSP," kata Rahmah.

Menurutnya, akses terhadap pelatihan peningkatan keterampilan digital di luar Pulau Jawa masih terbatas. Karena itu, ketika mengetahui adanya pelatihan luring yang diselenggarakan Komdigi di daerahnya, ia segera mendaftarkan diri.

"Jujur akses pelatihan-pelatihan di luar Pulau Jawa itu masih kurang. Jadi ketika ada pelatihan luring dari Komdigi ini, aku langsung daftar," kata Rahmah.

Gambar dampak program DTS terhadap peluang kerja dan peningkatan penghasilan (Olah data Suara.com/Komdigi)

Persoalan peningkatan keterampilan digital seluruh masyarakat Indonesia menjadi perhatian pemerintah. Dalam forum World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss pada 20 Januari 2026, Menteri Komdigi Meutya Hafid menyebut besarnya populasi muda Indonesia menjadi potensi sekaligus tantangan. Tanpa peningkatan keterampilan yang memadai dan kolaborasi dengan berbagai pihak, potensi tersebut berisiko berubah menjadi tekanan sosial.

“Untuk menghasilkan semakin banyak talenta digital yang siap untuk kebutuhan masa depan, kita harus bersifat kolaboratif dengan platform dan perusahaan-perusahaan multinasional untuk benar-benar mengangkat talenta digital kita ke standar global,” ujar Meutya sebagaimana dikutip dari akun Instagram resmi Komdigi.

Dalam survei Analisis Dampak DTS tahun 2025, ada perbedaan peningkatan penghasilan antara alumni yang berdomisili di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa, di mana penghasilan alumni luar Pulau Jawa naik sebesar 12,6 persen sedangkan penghasilan alumni Pulau Jawa naik sebesar 12 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan DTS memberikan dampak bagi kesejahteraan talenta digital di berbagai wilayah, khususnya luar Pulau Jawa.

Tidak hanya pelatihan, program DTS juga memberikan kesempatan sertifikasi kompetensi bagi para alumni. Kepemilikan sertifikasi global terbukti dapat meningkatkan pendapatan alumni hingga 32,3 persen atau sekitar Rp1.611.000.

Setelah mengikuti pelatihan, Komdigi juga menyediakan dukungan lanjutan melalui platform Diploy untuk menjembatani para alumni dengan mitra perusahaan atau industri yang membutuhkan tenaga kerja. Selain itu, ada pula Mentor Class berisi materi untuk persiapan kerja dan Digitalent After Class berupa workshop untuk meningkatkan soft skill alumni DTS.

Dukungan tersebut menjadi relevan di tengah tantangan ketenagakerjaan Indonesia. Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada, Hempri Suyatna. Saat ini jumlah pengangguran di Indonesia masih cukup tinggi yang mengindikasikan adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan tenaga kerja dengan dunia industri. Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026 mencatat jumlah pengangguran per Mei 2026 sebanyak 7,22 juta orang.

Menurut Hempri, upaya mengatasi persoalan tersebut tidak hanya bergantung pada pemerintah melalui program peningkatan keterampilan saja. Tenaga kerja usia muda juga perlu mengembangkan soft skill dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan industri, terutama di sektor digital dan kewirausahaan.

“Dari sisi pemerintah ada pengembangan kapasitas dan sebagainya. Dari sisi tenaga kerja muda harus adaptif, terutama soal industri digital dan kewirausahaan digital,” kata Hempri.

Salah satu upaya yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengembangkan keterampilan tersebut adalah mengikuti pelatihan DTS. Bagi Rahmah, program DTS menjadi kesempatan untuk meningkatklan keterampilan penduduk angkatan kerja menjadi lebih digital sesuai perkembangan zaman. Ia berharap program ini terus berlanjut dan disosialisasikan lebih luas lagi untuk membuka peluang masyarakat di wilayah terluar Indonesia bisa mengaksesnya secara cuma-cuma.

"Menurutku sayang banget kalau nggak dimanfaatkan. Kapan lagi kita dapat informasi yang bagus. Ada sertifikatnya juga, berguna banget," ujarnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com