Kisah Teresa, Eks Pramugari Maskapai Raksasa Divonis Kanker Otak Ganas di Usia 31

Jum'at, 23 Oktober 2026 | 17:20 WIB
Mantan pramugari Singapore Airlines, Teresa Hon, berjuang melawan kanker otak glioblastoma paling ganas bersama suaminya. (CNA)
BACA 10 DETIK
  • Teresa Hon berjuang melawan kanker otak glioblastoma ganas di usia 31 tahun.

  • Suami dan keluarga memberikan dukungan penuh agar ia bangkit dari keputusasaan.

  • Tumor di kepala pasien kini telah menyusut usai menjalani operasi dan kemoterapi.

Suara.com - Mantan pramugari Singapore Airlines bernama Teresa Hon harus berjuang melawan glioblastoma, yaitu jenis kanker otak paling ganas yang mematikan. Kehidupan wanita berusia 31 tahun itu berubah total dalam waktu sebulan setelah mendadak sering mengalami muntah hebat serta kejang.

Dua minggu menjelang Natal 2025, dia menjalani operasi otak besar di Singapura untuk mengangkat tumor berukuran lebih dari 6 sentimeter. Tim dokter terpaksa menyisakan sebagian tumor karena letaknya yang terlalu dekat dengan titik pengendali fungsi vital manusia.

Operasi berjalan lebih cepat dari perkiraan medis, membuat suaminya yang bernama Bjorn Chua sempat panik mengira istrinya telah tiada.

"Saya kira istri saya meninggal," kenang Chua saat dokter bedah keluar ruangan dalam waktu dua setengah jam, dikutip dari CNA.

Kesadaran pasien langsung pulih usai operasi, namun perubahan fisik drastis akibat efek obat steroid membuatnya sempat putus asa.

"Penampilan saya, kaki saya, dan hidup saya semua berubah," ujar Hon mengenang masa-masa sulit pascaoperasi.

Mantan pramugari tersebut sempat menarik diri dari pergaulan sosial karena merasa malu dengan kondisi fisik serta penampilannya. Keluarga besar hadir memberikan dukungan moral luar biasa untuk membangkitkan kembali semangat hidup wanita muda tersebut.

Sang suami bahkan memasang kaca film khusus pada mobil pribadi agar istrinya merasa aman selama perjalanan tanpa dilihat orang lain.

"Saya tidak mau menikah lagi. Saya cuma punya satu istri. Saya akan bertahan dengan yang saat ini," tegas Chua.

Dukungan tulus tersebut berhasil mengikis rasa putus asa Hon hingga kini kembali tegar melanjutkan terapi radiasi serta kemoterapi.

Tumor di kepalanya dilaporkan telah menyusut drastis, membuat mobilitas tubuhnya berangsur pulih dan bisa kembali bermain golf.

Pasien kini rutin menjalani kemoterapi lanjutan setelah merampungkan rangkaian terapi radiasi harian selama enam minggu penuh.

Dukungan penuh dari sang suami serta ibu mertua menjadi motor penggerak utama dalam pemulihan psikologis pasien.

Glioblastoma merupakan jenis tumor otak primer stadium empat yang tumbuh sangat agresif, cepat, serta belum ditemukan obat penyembuhnya secara total. Kasus ini menyoroti bagaimana dukungan keluarga dan ketahanan mental memainkan peran krusial dalam menghadapi diagnosis medis paling mematikan di dunia modern.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com