- PT Astra International Tbk membukukan pendapatan bersih Rp243,9 triliun dan laba bersih Rp24,6 triliun pada Januari-September 2026.
- Segmen otomotif dan jasa keuangan mencatat kenaikan laba, sementara lini solusi pertambangan serta alat berat mengalami tekanan penurunan.
- Presiden Direktur Astra Rudy menyatakan perusahaan melanjutkan program pembelian kembali saham serta memperkirakan pemulihan kinerja pada kuartal akhir 2026.
Adapun piutang pembiayaan bersih mencapai Rp132 triliun, meningkat 6 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025.
Dari bisnis pembiayaan, segmen pembiayaan sepeda motor menghasilkan laba bersih Rp3,6 triliun atau tumbuh 4 persen. Sementara itu, perusahaan pembiayaan mobil mencatat kenaikan laba bersih 6 persen menjadi Rp1,9 triliun.
Bisnis asuransi Grup Astra juga membukukan pertumbuhan laba bersih 9 persen menjadi Rp1,4 triliun, didukung oleh peningkatan pendapatan operasional dan hasil investasi.
Berbeda dengan otomotif dan jasa keuangan, bisnis solusi pertambangan dan alat berat masih menghadapi tekanan sepanjang Januari-September 2026.
Laba bersih segmen tersebut, di luar pos nonberulang, tercatat sebesar Rp5,1 triliun atau turun 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan dipengaruhi oleh berkurangnya penjualan emas akibat penghentian sementara produksi tambang Martabe pada awal tahun. Selain itu, penurunan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi batu bara nasional turut memengaruhi permintaan alat berat dan aktivitas jasa pertambangan.
Penjualan alat berat Komatsu tercatat sebanyak 3.000 unit atau turun 17 persen secara tahunan. Volume pengupasan lapisan tanah pada bisnis jasa pertambangan juga turun 7 persen menjadi 766 juta bank meter kubik.
Sementara itu, penjualan batu bara turun 23 persen menjadi 7,1 juta ton. Adapun volume penjualan emas tercatat sebanyak 54.000 ons, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 178.000 ons.
Meski demikian, aktivitas bisnis pertambangan mulai menunjukkan perbaikan setelah tambang emas Martabe kembali beroperasi pada kuartal II 2026.
Pada kuartal III 2026, bisnis solusi pertambangan dan alat berat mencatat pertumbuhan 15 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, pos nonberulang sebesar Rp2,2 triliun pada divisi panas bumi dan nikel membuat laba bersih yang dilaporkan dari segmen ini hanya mencapai Rp2,9 triliun atau turun 59 persen secara tahunan.
Sementara itu, segmen Wider Businesses membukukan laba bersih di luar pos nonberulang sebesar Rp2,6 triliun atau meningkat 36 persen. Pertumbuhan terutama ditopang oleh bisnis agribisnis seiring dengan kenaikan harga komoditas dan produktivitas, serta kontribusi bisnis properti.
Setelah memperhitungkan pos nonberulang sebesar Rp766 miliar, laba bersih yang dilaporkan dari segmen tersebut mencapai Rp1,8 triliun atau meningkat 7 persen.
Di tengah dinamika kinerja sejumlah lini usaha, ASII juga melanjutkan strategi pengelolaan modal melalui program pembelian kembali saham (share buyback).
Sejak November 2025 hingga September 2026, Grup Astra telah menyelesaikan program pembelian kembali saham dengan nilai Rp10 triliun. Perseroan juga masih menjalankan program share buyback senilai Rp8 triliun.
Selain itu, United Tractors mengumumkan program pembelian kembali saham hingga Rp2 triliun untuk periode Oktober-Desember 2026. Astra Agro Lestari juga mengumumkan program serupa dengan nilai maksimal Rp400 miliar.
ASII turut melaksanakan penawaran tender sukarela untuk meningkatkan kepemilikan saham di PT Astra Otoparts Tbk. Penawaran tersebut mencakup maksimal 4,95 persen saham dengan harga Rp3.600 per saham dan nilai transaksi maksimal sekitar Rp858 miliar.
Periode penawaran berlangsung pada 13 Oktober hingga 11 November 2026. Apabila seluruh saham berhasil diperoleh, kepemilikan ASII di Astra Otoparts akan meningkat dari 80 persen menjadi 84,95 persen.
Dari sisi neraca, ASII mencatat posisi kas bersih di luar anak perusahaan jasa keuangan sebesar Rp1,8 triliun per 30 September 2026. Posisi tersebut turun dibandingkan Rp7,2 triliun pada akhir Desember 2025.
Perubahan tersebut terutama dipengaruhi oleh akuisisi perusahaan tambang emas PT Arafura Surya Alam serta pelaksanaan program pembelian kembali saham.
Sementara itu, utang bersih anak perusahaan jasa keuangan meningkat menjadi Rp66,7 triliun dari Rp64,9 triliun pada akhir 2025.
Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat naik 4 persen menjadi Rp238,1 triliun. Adapun nilai aset bersih per saham meningkat 5 persen menjadi Rp5.999.
Rudy mengatakan, perseroan akan tetap menjaga disiplin pengelolaan modal dan meningkatkan efisiensi operasional untuk menghadapi dinamika pasar.
"Terkait pengalokasian modal, kami tetap disiplin dalam menjalankannya. Sejak November 2025 hingga September 2026, Grup telah menyelesaikan program share buyback dengan total nilai Rp10,0 triliun," ujarnya.
Memasuki kuartal IV 2026, ASII memperkirakan pertumbuhan bisnis otomotif dan jasa keuangan serta pemulihan aktivitas pertambangan dapat menopang kinerja perseroan hingga akhir tahun.
"Di tengah volatilitas pasar, kami tetap optimistis terhadap kekuatan Core Businesses Astra dan akan terus meningkatkan efisiensi operasional, menjaga posisi neraca yang kuat, serta mengejar peluang pertumbuhan secara selektif," pungkas Rudy.