Minggu, 24 Mei 2026 | 12:25 WIB
Artikel opini Akuat Supriyanto: Persib, Ekstase Kecil di Zaman yang Tak Mudah [Dok: Istimewa/AI]
Baca 10 detik
  • Kemenangan tim sepak bola menjadi simbol ketekunan warga dalam menghadapi rutinitas hidup yang penuh dengan berbagai keterbatasan.
  • Momen kebahagiaan sederhana malam itu memberi jeda bagi keluarga untuk tetap optimis menjalani kehidupan meski tantangan menanti.

Suara.com - Oleh: AK Supriyanto, Pengajar Manajemen pada FEB UNPAD dan Trainer Perhitungan Dampak Inovasi Sosial

Hujan menuliskan sajaknya di atas aspal—sajak yang tak akan dimengerti oleh mereka yang hanya bisa membaca rambu lalu lintas.

Mobil butut kami bergerilya, merayap pelan, menghindari lubang-lubang yang menganga bagai luka lama yang tak kunjung dijahit.

Air menggenang di berbagai ruas, mengubah jalanan menjadi cermin raksasa yang memantulkan tangisan langit.

Anakku duduk di sampingku, diam-diam menggenggam harapan yang belum tentu berlabuh.

Kami mencari kafe. Satu, dua, tiga—semuanya penuh.

Di balik kaca berembun, muda-mudi berdesakan, gelas-gelas bir terhidang dengan peluh seperti dahi penjaga gawang yang gugup.

Tawa mereka tumpah ke jalan, bercampur air hujan, mengalir ke selokan yang entah kapan dimutakhirkan.

Di kota ini, kebahagiaan memang lebih nikmat jika ditonton beramai-ramai—meski hal itu bisa jadi pengingat bahwa di momen menegangkan, kita tak nyaman sendirian.

Baca Juga: Persib Bandung Raih Bonus Rp1 Miliar Usai Cetak Hattrick Juara Super League

Tak ada tempat bagi kami. Kafe-kafe itu penuh, seperti doa yang sudah tak muat lagi di langit-langit kota.

Maka kami pulang: kembali ke ruang di mana kami bisa meraungkan senang dan jengkel tanpa perlu malu.

Di ruang keluarga, anakku duduk bersila di depan tivi, tubuhnya tenggelam dalam cahaya berpendar.

Matanya lekat mengejar bola yang tak juga mau bersarang.

Degup jantungnya terdengar seperti ketukan di pintu yang takut ditolak.

Ingin kubilang padanya, Nak, hidup memang begitu, kadang kita hanya bisa menonton, berharap, dan menunggu—meski tak selalu yang kita tunggu datang.

Load More