- Kemenangan tim sepak bola menjadi simbol ketekunan warga dalam menghadapi rutinitas hidup yang penuh dengan berbagai keterbatasan.
- Momen kebahagiaan sederhana malam itu memberi jeda bagi keluarga untuk tetap optimis menjalani kehidupan meski tantangan menanti.
Di luar, air masih menuliskan sajaknya. Hujan menyetubuhi jalanan di perbatasan kota Bandung dan KBB yang selalu berlubang, mirip ranjau-ranjau pertahanan bek Persijap yang siap menerjang kaki-kaki penyerang Persib.
Ah, ternyata hidup dan sepakbola tak jauh berbeda, sama-sama penuh jebakan, sama-sama membutuhkan kesabaran untuk sampai ke tujuan.
Ah, tiba-tiba aku teringat istriku yang pagi tadi berkata, cabe sudah sembilan puluh ribu.
Angka yang lebih panas dari rivalitas klub mana pun.
Ia memintaku mengurangi hobi makan pedas—dan aku mengangguk, sebab di zaman ini, kepedasan bukan lagi sekadar rasa, tapi derita yang merayap ke dapur-dapur keluarga.
Harga melambung seperti bola yang ditendang ke udara, entah kapan turunnya.
Kita hanya bisa menunggu sambil menahan selera, karena hasrat meramu sambal hanyalah jebakan nafsu yang membahayakan doku.
Lalu peluit akhir berbunyi. Pertandingan berakhir tanpa gol.
Nihil. Skor kacamata, kata komentator.
Baca Juga: Persib Bandung Raih Bonus Rp1 Miliar Usai Cetak Hattrick Juara Super League
Tapi justru di situlah letak kemenangan itu: bukan pada satu malam penuh sorak, melainkan pada perjalanan panjang yang membuktikan siapa paling konsisten, siapa paling teguh berdiri di tengah gempuran sepanjang musim.
Persib juara bukan karena ledakan semalam, melainkan karena tabungan poin demi poin yang jatuh seperti gerimis—satu per satu tak terasa, sampai akhirnya kita sadar sudah basah kuyup oleh keunggulan.
Petasan meletus di mana-mana sebagai ungkapan lega.
Bunga api mekar di langit malam, seolah angkasa pun ingin merayakan kegembiraan, meski ia belum selesai menangis.
Maka kuingat Albert Camus: “Harus kita bayangkan, Sisifus bahagia.” Bukankah ini seperti Sisifus yang mendorong batu ke puncak bukit, tahu batu itu akan menggelinding lagi, namun ia tetap mendorong?
Musim kompetisi adalah bukit itu, dan para pemain hanyalah pendorong batu yang setia. Mereka menang bukan karena batu berhenti di puncak, melainkan karena mereka terus mendorong tanpa lelah, sementara batu-batu lawan sudah lebih dulu terperosok.
Berita Terkait
-
IBL Datangkan Wasit Elite Asia untuk Pimpin Playoff 2026
-
Identitas Pelaku Penembakan di Gedung Putih, Pernah Mengaku Anak Tuhan
-
Penerimaan Pajak Moncer di April 2026, Purbaya Klaim Berkat Coretax
-
Skutik Entry Level Rasa Premium: Transformasi Total Yamaha Mio 2026, Cukup Buat Jegal Honda Vario?
-
Kenali Undertone Kulitmu, Ini 5 Cara Mencegah agar Bedak Tidak Flashback di Kamera
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Bola Ada di Tangan BPOM: Saatnya Wajibkan Label Peringatan Gula
-
Prabowo Sedang Gali Kubur Kapitalisme, Tapi Dihalangi 'Musuh dalam Selimut'
-
Kemlu RI Perlu Belajar dari Penculikan Relawan WNI oleh Israel
-
Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo
-
Tak Ada Cara Lain Pemulihan Ekonomi: Tumbuhkan Trust dan Reschedule Utang
-
Komcad dalam Paradigma Baru SDM: dari Meja Kantor ke Garis Pertahanan
-
Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma
-
Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI
-
Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China
-
Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'