- Kemenangan tim sepak bola menjadi simbol ketekunan warga dalam menghadapi rutinitas hidup yang penuh dengan berbagai keterbatasan.
- Momen kebahagiaan sederhana malam itu memberi jeda bagi keluarga untuk tetap optimis menjalani kehidupan meski tantangan menanti.
Suara.com - Oleh: AK Supriyanto, Pengajar Manajemen pada FEB UNPAD dan Trainer Perhitungan Dampak Inovasi Sosial
Hujan menuliskan sajaknya di atas aspal—sajak yang tak akan dimengerti oleh mereka yang hanya bisa membaca rambu lalu lintas.
Mobil butut kami bergerilya, merayap pelan, menghindari lubang-lubang yang menganga bagai luka lama yang tak kunjung dijahit.
Air menggenang di berbagai ruas, mengubah jalanan menjadi cermin raksasa yang memantulkan tangisan langit.
Anakku duduk di sampingku, diam-diam menggenggam harapan yang belum tentu berlabuh.
Kami mencari kafe. Satu, dua, tiga—semuanya penuh.
Di balik kaca berembun, muda-mudi berdesakan, gelas-gelas bir terhidang dengan peluh seperti dahi penjaga gawang yang gugup.
Tawa mereka tumpah ke jalan, bercampur air hujan, mengalir ke selokan yang entah kapan dimutakhirkan.
Di kota ini, kebahagiaan memang lebih nikmat jika ditonton beramai-ramai—meski hal itu bisa jadi pengingat bahwa di momen menegangkan, kita tak nyaman sendirian.
Baca Juga: Persib Bandung Raih Bonus Rp1 Miliar Usai Cetak Hattrick Juara Super League
Tak ada tempat bagi kami. Kafe-kafe itu penuh, seperti doa yang sudah tak muat lagi di langit-langit kota.
Maka kami pulang: kembali ke ruang di mana kami bisa meraungkan senang dan jengkel tanpa perlu malu.
Di ruang keluarga, anakku duduk bersila di depan tivi, tubuhnya tenggelam dalam cahaya berpendar.
Matanya lekat mengejar bola yang tak juga mau bersarang.
Degup jantungnya terdengar seperti ketukan di pintu yang takut ditolak.
Ingin kubilang padanya, Nak, hidup memang begitu, kadang kita hanya bisa menonton, berharap, dan menunggu—meski tak selalu yang kita tunggu datang.
Di luar, air masih menuliskan sajaknya. Hujan menyetubuhi jalanan di perbatasan kota Bandung dan KBB yang selalu berlubang, mirip ranjau-ranjau pertahanan bek Persijap yang siap menerjang kaki-kaki penyerang Persib.
Ah, ternyata hidup dan sepakbola tak jauh berbeda, sama-sama penuh jebakan, sama-sama membutuhkan kesabaran untuk sampai ke tujuan.
Ah, tiba-tiba aku teringat istriku yang pagi tadi berkata, cabe sudah sembilan puluh ribu.
Angka yang lebih panas dari rivalitas klub mana pun.
Ia memintaku mengurangi hobi makan pedas—dan aku mengangguk, sebab di zaman ini, kepedasan bukan lagi sekadar rasa, tapi derita yang merayap ke dapur-dapur keluarga.
Harga melambung seperti bola yang ditendang ke udara, entah kapan turunnya.
Kita hanya bisa menunggu sambil menahan selera, karena hasrat meramu sambal hanyalah jebakan nafsu yang membahayakan doku.
Lalu peluit akhir berbunyi. Pertandingan berakhir tanpa gol.
Nihil. Skor kacamata, kata komentator.
Tapi justru di situlah letak kemenangan itu: bukan pada satu malam penuh sorak, melainkan pada perjalanan panjang yang membuktikan siapa paling konsisten, siapa paling teguh berdiri di tengah gempuran sepanjang musim.
Persib juara bukan karena ledakan semalam, melainkan karena tabungan poin demi poin yang jatuh seperti gerimis—satu per satu tak terasa, sampai akhirnya kita sadar sudah basah kuyup oleh keunggulan.
Petasan meletus di mana-mana sebagai ungkapan lega.
Bunga api mekar di langit malam, seolah angkasa pun ingin merayakan kegembiraan, meski ia belum selesai menangis.
Maka kuingat Albert Camus: “Harus kita bayangkan, Sisifus bahagia.” Bukankah ini seperti Sisifus yang mendorong batu ke puncak bukit, tahu batu itu akan menggelinding lagi, namun ia tetap mendorong?
Musim kompetisi adalah bukit itu, dan para pemain hanyalah pendorong batu yang setia. Mereka menang bukan karena batu berhenti di puncak, melainkan karena mereka terus mendorong tanpa lelah, sementara batu-batu lawan sudah lebih dulu terperosok.
Kemenangan sejati adalah ketekunan mengulangi hal-hal kecil yang tak spektakuler: bertahan, mengumpan, berlari menutup ruang.
Seperti kami warga kota dan provinsi ini: terus berjalan melewati lubang, terus membayar harga cabe yang melambung, terus menggenang dalam hujan yang tak kunjung selesai—dan sesekali, merayakan hasil imbang sebagai mahkota.
Sejenak, kami melupakan semuanya.
Sejenak, kami adalah warga kota dan provinsi yang bahagia, bukan karena masalah selesai, melainkan karena kami memilih memberi jeda pada ingatan.
Inilah ekstase kecil di zaman yang tak mudah: bukan pelarian, melainkan sebentuk interval sunyi yang memungkinkan kami melihat dunia dengan mata lebih jernih, meskipun hanya semenit.
Rehat sejenak untuk bernapas sebelum kembali menelan kenyataan.
Anakku tersenyum lega. Di matanya, kulihat nyala yang hampir padam kini kembali menari.
Barangkali ia sedang belajar bahwa hidup adalah musim panjang yang tak selalu berakhir dengan gol; kadang kemenangan hadir dari kesabaran menjaga skor tetap bersih, dari ketabahan mengumpulkan hasil-hasil yang tampak biasa saja, sampai akhirnya semua orang menyadari bahwa kita nyaris tak terkalahkan.
Malam ini ia percaya bahwa keajaiban itu ada—meski hanya skor nihil yang diam-diam memahkotai keteguhan.
Di luar, hujan mulai reda. Air perlahan surut, kembali ke selokan yang entah kapan diperbaiki.
Jalanan masih akan tetap berlubang. Cabe masih akan tetap mahal.
Hidup akan kembali pada rutinitasnya yang kadang terasa seperti kekalahan berkepanjangan. Tapi malam ini, kami menang tanpa perlu menjebol gawang.
Malam ini, kami adalah juara yang merayakan puncak di tengah kota yang mengalami degradasi pelan-pelan.
Sebagaimana dikatakan Henri Bergson, waktu bukanlah butir-butir yang terpisah dan bisa dihitung satu per satu, melainkan aliran yang terus bergerak, menganyam masa lalu dan masa kini menjadi satu.
Kemenangan ini bukanlah titik, melainkan arus: ia adalah akumulasi dari semua hujan yang pernah membasahi, semua lubang yang pernah mengguncang kendaraan, semua harga cabe yang pernah meminta kita menahan selera.
Ia adalah nyanyian panjang yang bait-baitnya tersebar di sepanjang musim, dan malam ini kita sampai pada refrain yang bisa disenandungkan bersama.
Pagi nanti, ketika petasan sudah menjadi abu, istriku akan kembali mengingatkanku tentang harga cabe.
Anakku akan kembali berangkat sekolah melewati jalan berlubang.
Dan kami akan kembali menjadi warga biasa yang berusaha mencintai kota atau provinsi ini—meski ia sering kali lupa mencintai kami kembali.
Tapi setidaknya, malam ini, kami pernah bahagia.
Dan kebahagiaan kecil di zaman yang tak mudah ini tentu berarti—meski ia datang bukan dari lesakan gol yang memuaskan.
Sekurang-kurangnya, kami sempat merayakannya. Daripada tidak sama sekali.
AK Supriyanto, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran Bandung.
Berita Terkait
-
IBL Datangkan Wasit Elite Asia untuk Pimpin Playoff 2026
-
Identitas Pelaku Penembakan di Gedung Putih, Pernah Mengaku Anak Tuhan
-
Penerimaan Pajak Moncer di April 2026, Purbaya Klaim Berkat Coretax
-
Skutik Entry Level Rasa Premium: Transformasi Total Yamaha Mio 2026, Cukup Buat Jegal Honda Vario?
-
Kenali Undertone Kulitmu, Ini 5 Cara Mencegah agar Bedak Tidak Flashback di Kamera
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Bola Ada di Tangan BPOM: Saatnya Wajibkan Label Peringatan Gula
-
Prabowo Sedang Gali Kubur Kapitalisme, Tapi Dihalangi 'Musuh dalam Selimut'
-
Kemlu RI Perlu Belajar dari Penculikan Relawan WNI oleh Israel
-
Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo
-
Tak Ada Cara Lain Pemulihan Ekonomi: Tumbuhkan Trust dan Reschedule Utang
-
Komcad dalam Paradigma Baru SDM: dari Meja Kantor ke Garis Pertahanan
-
Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma
-
Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI
-
Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China
-
Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'