- Cox Automotive melaporkan bahwa lonjakan harga dan suku bunga memaksa banyak konsumen menunda pembelian kendaraan.
- Sepuluh persen rumah tangga terkaya menguasai 82 persen aset keuangan untuk membeli mobil secara tunai.
- Ketergantungan industri otomotif pada kelompok kaya berisiko menimbulkan kerentanan jika terjadi koreksi pada pasar saham.
Suara.com - Kondisi keuangan konsumen kini menjadi penentu utama dalam keputusan pembelian mobil baru. Lonjakan harga kendaraan dan tingginya suku bunga pinjaman memaksa sebagian konsumen menunda pembelian, sementara golongan berkecukupan memilih opsi pembayaran tunai secara langsung.
Laporan terbaru Cox Automotive menunjukkan bahwa peningkatan jumlah pembeli tunai mampu mengimbangi dampak kenaikan suku bunga pinjaman. Konsumen dengan likuiditas tinggi dapat dengan mudah menghindari beban bunga untuk membeli mobil baru. Sedangkan kelompok konsumen lain justru semakin kesulitan menjangkau pembiayaan kendaraan.
Fenomena ini mempertegas tren ketergantungan industri otomotif pada segmen masyarakat kaya. Kepala Ekonom Cox, Jeremy Robb, mengungkapkan bahwa sepuluh persen rumah tangga terkaya kini menguasai 82 persen aset keuangan di luar rekening pensiun, meningkat dari angka 75 persen sebelum masa pandemi.
Pertumbuhan aset berupa deposito, saham, dan reksa dana yang menghasilkan bunga majemuk memberikan daya beli ekstra bagi konsumen papan atas. Keuntungan investasi tersebut menjadi modal utama untuk membeli kendaraan tanpa perlu bergantung pada pendapatan gaji bulanan maupun pinjaman bank.
Namun, ketergantungan pada pembeli kaya menyimpan kerentanan tersendiri jika terjadi koreksi pasar saham. Sementara itu, konsumen yang mengandalkan pembiayaan harus menghadapi suku bunga tinggi, terutama pada segmen kendaraan bekas yang terus mengalami kenaikan.
Selain beban pembiayaan, biaya perawatan dan pemeliharaan kendaraan juga mencatatkan kenaikan. Kondisi ini membuat opsi membeli mobil bekas berusia tua tetap memicu tekanan finansial bagi sebagian besar masyarakat.
Pasar otomotif saat ini cenderung berfokus pada kelompok konsumen yang memiliki daya beli tinggi. Tingginya rata-rata harga transaksi mencerminkan aktivitas pembeli yang aktif di pasar, tanpa memperhitungkan sebagian besar masyarakat yang terpaksa keluar dari pasar akibat keterbatasan dana.