- CdM Reda Manthovani mengajak WNI di Jepang dan masyarakat Indonesia mendoakan serta mendukung langsung 103 atlet di Asian Para Games 2026 Nagoya.
- Tim CdM mengatasi kendala kelelahan perjalanan, jarak venue, dan aksesibilitas kursi roda dengan menyediakan bantuan mobilitas serta memantau makanan atlet.
- Tim medis kontingen Indonesia yang terdiri dari dokter dan fisioterapis disiagakan untuk memantau kesehatan serta menangani cedera atlet di Nagoya.
Tantangan lainnya adalah jarak dari titik penurunan penumpang atau drop-off menuju venue pertandingan yang mencapai sekitar satu kilometer. Kondisi ini menjadi perhatian karena tidak semua atlet dapat menempuh jarak tersebut dengan mudah.
“Jarak dari drop-off ke venue pertandingan itu satu kilometer jalan kaki. Kalau yang pakai kursi roda enak, tetapi kalau yang enggak, perjalanannya jauh,” paparnya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim CdM menyiapkan solusi dengan menyediakan kursi roda bagi atlet yang membutuhkan bantuan mobilitas. Tim pendamping juga siap membantu mendorong kursi roda agar perjalanan menuju venue berjalan lebih lancar.
“Akhirnya kita cari akal. Kalau tidak kuat, kita kasih kursi roda saja semua, biar lancar, dari tim pendamping yang mendorong. Alhamdulillah, ada masalah, ada solusi,” ujarnya.
Selain memastikan kebutuhan teknis terpenuhi, Reda mengingatkan para atlet agar mematuhi arahan pelatih dan tim pendamping selama berada di Jepang. Kedisiplinan dinilai penting untuk menjaga keselamatan dan memastikan persiapan pertandingan berjalan sesuai rencana.
“Para atlet harus mematuhi instruksi dari pendamping atau pelatihnya. Kita nggak tahu daerah sini. Nanti kesasar, keluar malam, nggak bisa balik,” katanya.
“Jadi setiap keluar hotel harus minta didampingi atau mengikuti arahan pelatih. Pertandingan belum dimulai, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” lanjutnya.
Tim CdM juga terus memantau kebutuhan para atlet selama berada di Nagoya, termasuk memastikan ketersediaan makanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Kami memonitor terus pergerakan mereka. Apa pun yang diinginkan, misalnya makanan khas Indonesia, diupayakan dicari supaya bisa dikonsumsi teman-teman atlet,” ungkap Reda.
Untuk menjaga kebugaran kontingen Indonesia, tim medis juga disiagakan selama pelaksanaan Asian Para Games 2026. Tim tersebut terdiri dari dua dokter, tiga fisioterapis, dan tiga masseur yang berpengalaman mendampingi atlet dalam berbagai ajang olahraga disabilitas internasional.
Ketua tim dokter kontingen Indonesia, Dr. dr. Retno Setianing, Sp.KFR (K), mengatakan pemantauan kondisi atlet telah dilakukan sejak hari pertama mereka tiba di Nagoya. Perhatian diberikan terhadap kondisi fisik, asupan makanan, hingga kebutuhan khusus atlet yang tengah menjalani penyesuaian berat badan untuk kelas pertandingan tertentu.
Retno menjelaskan, tim medis telah memeriksa komposisi makanan yang disediakan di penginapan masing-masing cabang olahraga. Para atlet juga mendapatkan suplemen sesuai kebutuhan selama menjalani persiapan.
“Tadi kami sudah lihat sejak di restoran kemarin komposisi makanannya sudah lengkap. Karena sebagian besar kami muslim, menunya juga sebagian muslim. Jadi saya kira tidak ada masalah,” ucap Retno.
Selain dukungan dari tim medis internal, panitia Asian Para Games 2026 juga menyediakan tenaga medis untuk mengantisipasi kemungkinan atlet mengalami cedera selama pertandingan.
Retno memastikan tim medis Indonesia siap memberikan pendampingan, baik di venue maupun di penginapan. Layanan fisioterapi dan pemulihan juga disiapkan agar atlet dapat menjaga kondisi fisik selama kompetisi berlangsung.
“Tentu saja kami pendampingan untuk yang cedera. Tetapi tidak usah khawatir, karena tuan rumah juga menyediakan tenaga medis. Untuk di luar dari venue kami menyediakan, misalkan masseur juga bisa melayani di penginapan para atlet. Fisioterapis dan dokter juga siao apabila ada teman-teman atlet yang membutuhkan,” papar Retno.