Bogor, 10 November 2022. Langit biru cerah berkelir awan putih di sebagian tempat. Dari lapangan terlihat jelas Gunung Pangrango, SMAN 1 Cijeruk memang terletak di ketinggian 500 meter dari permukaan laut di lereng Gunung Salak. Pagi dimulai dengan upacara peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 November untuk kemudian dilanjutkan acara peringatan Ulang Tahun SMAN 1 CIjeruk yang ke 13.
Dalam upacara Inspektur Upacara yang menjabat sebagai Kepala Sekolah, HJ. Ani Rohaeni M.Pd menyampaikan urgensi peringatan Hari Pahlawan dan pertempuran yang dimulai dengan insiden perobekan Bendera Triwarna menjadi Dwiwarna di atas hotel Yamato. Dengan persatuan dari berbagai kalangan di Indonesia dari mulai laskar-laskar dari berbagai latar baik kesukuan, agama, daerah, dan tentara bersama-sama memobilisasi diri mengepung tentara Sekutu yang dipimpin oleh Inggris. Kekuatan Sekutu yang diketahui sebagai pemenang perang sampai harus kehilangan Jendral dan meminta gencatan senjata agar tidak dihabisi oleh para pejuang kemerdekaan. Semangat kebersamaan inilah yang harus dimunculkan dalam menghadapi segala persoalan kebangsaan yang dihadapi. Bukan kemudian memperbesar jarak atas perbedaan yang ada.
Setelah upacara dilanjutkan dengan kegiatan ulang tahun SMAN 1 Cijeruk. Dalam sambutannya Pengawas Pembina dari Cabang Dinas Pendidikan Wil. 1, Abdul Syukur M. Pd menyampaikan bahwa Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) sudah berjalan cukup baik di SMAN 1 CIjeruk. Terlihat ketika menanggapi kesalahan pengucapan istilah dalam pidato, disampaikan secara responsif dan santun. SMAN 1 Cijeruk selalu menjadi pelopor dalam pencapaian dan inovasi di bidang digitalisasi pendidikan dan gaya hidup berkelanjutan, namun hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana menjaga pencapaian itu terus berkembang ke arah yang lebih baik. Sebagai Pengawas ia terus terhubung dari mulai pendirian SMAN 1 Cijeruk sampai dengan sekarang.
Ada hal yang menjadi benang merah jawaban persoalan negeri ini, dalam pagelaran seni yang ditampilkan terutama kreasi anak-anak. Berbagai karya yang ditampilkan mengalir dengan indah. Tari Tortor dari Batak yang identik dengan agama Kristen ditampilkan dengan lugas oleh para siswi yang mengenakan kerudung, begitu pula tarian dari Papua dan Indonesia Timur lainnya ditampilkan oleh siswa-siswi yang mayoritas suku Sunda atau campuran. Tanpa ada aura canggung. Bahkan hujan yang yang mengguyur setelah dhuhur tidak menghalangi anak-anak untuk tetap antusias.
Guru dibalik persiapan pentas seni ini Delis Damayanti, Nadia dan Imas Menyampaikan bahwa. Sebagai Guru seni budaya dia berkewajiban memupuk aura kebangsaaan dalam menyampaikan materi pendidikan dan menyusun garapan pementasan. Ilmu pengetahuan memperkaya akal dan pikir, sedangkan seni memperhalus rasa. Maka wilayah pendidikan seni budaya adalah menguatkan karakter anak bangsa. Sehingga dikemudian hari akan terwujud karakter pelajar (anak bangsa) yang Pancasilais.
Inisiatif Menjaga Kebersihan
Sebuah kegiatan mengumpulkan masa selalu satu paket dengan persoalan sampah. Sampah yang ditimbulkan selesai kegiatan. Hal yang menarik adalah selama lima tahun terakhir ini, sebagian anak-anak sudah mulai secara mandiri membersihkan sampah. Baik itu dilakukan selama proses kegiatan dan akhir kegiatan.
Nasywa, salah satu panitia menyatakan bahwa daripada gabut karena, tugas dia sudah selesai lebih baik diisi dengan membersihkan sampah yang berserakan. Hal yang senada disampaikan oleh Salma, bahwa dia terbiasa menjalankan kebersihan di rumahnya. Nenek dan Ibunya menyukai mengajarkan rumah yang bersih, walau tidak mewah dan bagus.
Berita Terkait
-
Viral Gitaris Momonon Usir Ormas Baju Loreng saat Manggung di Tangerang, Vokalis Buka Suara
-
Terseret Korupsi Lahan SMKN 7 Tangsel, Adik Wahidin Halim Terima Uang Ratusan Juta Secara Tunai
-
Jean Couteau : Indonesia Perlu Tonjolkan Nilai-nilai Pancasila di KTT G20
-
Di Sekolah Ini, Guru Telat Dilarang Masuk Kelas: Ingat Sila Ke-5 Pancasila
-
Rektor UI: Hukum Harus Melindungi Kepentingan Nasional, Bukan Malah Jadikan Masyarakat Terpolarisasi
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Gali Lubang Tutup Lubang, Istri Oknum Polisi Tipu Rekanan Rp500 Juta Demi Bayar Rentenir
-
Kronologis Bintang PSG Achraf Hakimi Diseret ke Pengadilan Kasus Dugaan Pemerkosaan
-
Banding Ditolak UEFA, Gianluca Prestianni Absen Lawan Real Madrid di Liga Champions
-
Tak Berhenti di Ibu Tiri, Ayah Kandung NS Kini Dibidik Polisi Atas Dugaan Penelantaran Anak
-
Bawa Bodo/Glimt Kalahkan Inter, Gaji Jens Petter Hauge di Bawah Rata-rata Gaji Pemain Liga 1
-
Rumah Duka Alex Noerdin di Palembang Kian Dipadati Pelayat hingga Larut Malam Terkini
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Chat Sadis Terbongkar! Ayah NS Diduga Biarkan Anak Sakit: Biarin Aja, Tinggal Dimakamin
-
Ibu Tiri di Sukabumi Resmi Jadi Tersangka, Korban Diduga Disiksa Bertahun-tahun
-
Siap-siap Pulang Kampung! 40 Bus Mudik Gratis Pemkab Bogor Segera Diberangkatkan