Suara.com - Zombie mungkin lebih banyak dikenal melalui film-film fiksi ilmiah, seperti dalam "World War Z" besutan Hollywood atau "Train to Busan" dari Korea Selatan. Tetapi bukan berarti zombie hanya dipandang sebelah mata oleh para ilmuwan.
Buktinya dalam sebuah penelitian terbaru, sejumlah ilmuwan di Inggris dalam risetnya menemukan bahwa wabah zombie bisa melenyapkan populasi Bumi hanya dalam 100 hari.
Riset itu diterbitkan dalam Journal of Physics Special Topics dari University of Leicester, Inggris baru-baru ini. Penelitian itu sendiri digelar untuk mensimulasikan penyebaran wabah penyakit di dunia menggunakan model SIR.
Model penyebaran wabah penyakit SIR sendiri membagi populasi dunia dalam tiga kelompok: mereka yang rentan terinfeksi, yang telah terinfeksi, dan kelompok yang imun atau kebal.
Zombie dalam riset ini digunakan sebagai metafora, untuk menunjukkan pola penyebaran wabah penyakit berbahaya di muka Bumi.
Dalam analisisnya para peneliti di berasumsi bahwa setiap zombie punya peluang hingga 90 persen untuk menularkan virusnya ke manusia lain setiap harinya. Dengan itu, zombie akan lebih mematikan dari Black Death, wabah yang menewaskan lebih dari 75 juta orang pada abad 14 di Eropa dan sebagian Asia. Para ilmuwan memperkirakan bahwa setiap zombie bisa hidup tanpa otak selama 20 hari.
Dengan asumsi bahwa populasi manusia 7,5 miliar jiwa, hampir sama dengan populasi manusia saat ini, para peneliti menghitung bahwa hanya butuh 20 hari bagi satu zombie untuk menjangkiti sejumlah besar manusia dan memicu wabah. Dengan asumsi tak adanya isolasi geografis, populasi manusia hanya akan tingal 181 orang dalam 100 hari. Sementara Bumi akan disesaki oleh sekitar 190 juta zombie.
Jika pun ada isolasi geografis, tak banyak gunanya bagi manusia. Dengan asumsi bahwa virus zombie menyebar melalui kawasan terinfeksi dan bahwa zombie tak mampu bergerak bebas, maka dalam 100 hari setelah wabah tersebar hanya akan ada 273 orang manusia yang bertahan.
Meski demikian, para ilmuwan mengatakan bahwa dalam model-model yang mereka kembangkan, belum dimasukkan faktor perlawanan dari manusia.
"Kami belum memasukkan kemungkinan manusia bisa membunuh para zombie," tulis para peneliti.
Nah, dalam studi terbaru para periset memasukkan faktor kemampuan manusia untuk membunuh zombie (manusia punya 10 persen peluang untuk membunuh satu zombie setiap hari). Selain itu, faktor reproduksi manusia juga masuk dalam hitungan (manusia bisa melahirkan satu anak setiap tiga tahun).
Tetapi mereka juga memperpanjang masa hidup zombie menjadi setahun.
Dengan masuknya faktor-faktor baru ini, harapan manusia untuk bertahan hidup zombie lebih besar. Dalam model ini, jumlah manusia yang bertahan hidup memang sedikit menurun, tetapi para zombie akan punah setelah 1000 hari munculnya wabah. Bahkan dalam model ini, populasi manusia akan berkembang lagi setelah 10.000 hari
Ini bukan pertama kalinya zombie digunakan sebagai metafora dalam riset ilmiah. Pada Desember 2015, jurnal kesehatan Inggris, The Lancet menerbitkan artikel berjudul "Zombie infections: epidemology, treatment, and prevention" (Infeksi zombie: epidemologi, pengobatan, dan pencegahan).
Sementara pada 2011 Pusat Kendali dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat bahkan mendesak agar publik mempersiapkan diri untuk menghadapi "kiamat zombie". Imbauan ini sebenarnya cuma metafora, agar manusia bersiap menghadapi wabah penyakit berbahaya yang sebenarnya.(Live Science)
Berita Terkait
-
Review Drama Kingdom, Melawan Teror Zombi di Tengah Intrik Politik Joseon
-
D.O. EXO Diincar jadi Pemeran Utama Drama Zombie Unik We Are the Zombies
-
Sisi Gelap Philadelphia Kota Tuan Rumah Piala Dunia 2026: Banyak Zombie Berkeliaran
-
Tayang di Bioskop, Colony Soroti Upaya Profesor Lawan Virus Zombi
-
Ulasan Film Colony: Sajikan Konsep Zombie Kolektif yang Segar dan Baru!
Terpopuler
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
- Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Ini Urutan Pemakaian dan Review Pembeli
- 17 Kode Redeem FF 25 Agustus 2026: Kesempatan Dapat Voucher dan Skin Senjata Terbaru
- Waduk Jatigede Surut, Warga Sumedang Manfaatkan Lahan untuk Bertani
Pilihan
-
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Mengundurkan Diri
-
Dari Pengumpul Data Hingga Perantara, Bagaimana DSI Bekerja
-
Sibuk Padamkan Api Saat Kebakaran, Akademisi Sebut Negara Pelit Cegah Karhutla
-
Rumor Jadi Kutu Loncat ke PSI, Ini Respon Menohok Dedi Mulyadi
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
Terkini
-
Jakarta Boleh Modern, Tapi Jangan Biarkan Warga Betawi Tersingkir dari Tanah Leluhur
-
Menteri Agama Mundur dan Fokus Maju Calon Ketua Umum PBNU, Bakal Duel vs Petahana?
-
Pengeboran PLTP Gunung Ungaran Bisa Dihentikan Jika Potensi Tak Terbukti
-
Hukum Kok Butuh FYP? Ketika Viralitas Jadi Syarat Menindak Turis Nakal
-
Tayang 10 September, Crew Girl Hadirkan Kisah Atlet Remaja Penuh Romansa
-
Bukan Sekadar Gaya, Fashion Jadi Cara Anak Mengekspresikan Diri dan Bersinar
-
Anggaran MBG Dipotong Rp27,8 Triliun, Bayaran Dapur SPPG Ikut Disunat
-
Disita, 3 Moge Mewah Milik Kepala Bea Cukai Kediri Kini Nangkring di Gedung KPK
-
Sengaja Dibakar! Ini Daftar Konglomerat RI yang Kuasai Lahan Sawit di Kalimantan
-
'Merebut Kembali Indonesia!' GERAM Ikut Melebur Bersama Warga Pati Geruduk DPR Besok