- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda aktif meletus dan dipantau ketat karena berpotensi memicu bencana besar.
- Erupsi gunung tersebut berpotensi menyebabkan hujan abu, gangguan penerbangan, tsunami, material panas, dan kerusakan ekosistem laut.
- Masyarakat diimbau selalu mengikuti informasi resmi Badan Geologi serta mematuhi radius aman dari kawah gunung.
Vegetasi di pulau-pulau terdekat juga bisa rusak parah. Dalam jangka panjang, sedimentasi material vulkanik memengaruhi kualitas perairan dan aktivitas perikanan lokal.
6. Dampak Sosial-Ekonomi
Evakuasi massal, kerusakan infrastruktur pantai, gangguan pariwisata, dan terhentinya aktivitas nelayan menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan.
Ribuan orang bisa mengungsi, sementara usaha kecil di kawasan wisata pesisir terpaksa tutup sementara. Biaya pemulihan pascabencana juga membebani pemerintah daerah dan pusat.
7. Dampak Jangka Panjang jika Letusan Sangat Besar
Meskipun jarang terjadi pada skala Anak Krakatau modern, letusan sangat besar berpotensi menyuntikkan abu dan gas ke stratosfer sehingga memengaruhi cuaca regional dalam jangka pendek.
Namun, skenario seperti letusan Krakatau 1883 yang menurunkan suhu global sangat tidak mungkin terjadi pada erupsi biasa gunung ini.
Gunung Anak Krakatau memang aktif, tetapi sistem pemantauan Badan Geologi dan PVMBG terus berkembang. Masyarakat diimbau selalu mengikuti informasi resmi, mematuhi radius aman (biasanya 3–5 km dari kawah), dan menyiapkan masker serta rencana evakuasi.