- Rabun jauh atau miopi menyebabkan objek jauh tampak kabur akibat cahaya jatuh di depan retina, sehingga memerlukan lensa cekung negatif.
- Rabun dekat atau hipermetropi menyebabkan objek dekat tampak buram karena cahaya jatuh di belakang retina, sehingga memerlukan lensa cembung positif.
- Penderita gangguan penglihatan disarankan segera melakukan pemeriksaan refraksi mata ke dokter spesialis guna mendapatkan resep kacamata atau lensa kontak.
Suara.com - Rabun jauh (miopi) dan rabun dekat (hipermetropi) merupakan kondisi gangguan penglihatan yang paling sering dijumpai.
Meski sama-sama memengaruhi kemampuan mata dalam melihat objek, rabun jauh miopi dan rabun dekat hipermetropi memiliki perbedaan, baik dari objek yang sulit dilihat maupun jenis lensa yang digunakan untuk mengoreksinya.
Berikut adalah pembahasan lengkap mengenai perbedaan miopi dan hipermetropi beserta jenis lensa korektif yang digunakan.
Rabun Jauh (Miopi)
Miopi atau rabun jauh adalah kondisi ketika seseorang dapat melihat objek yang berada di dekatnya dengan lebih jelas, tetapi kesulitan melihat objek yang letaknya jauh.
Kondisi ini terjadi ketika bentuk bola mata terlalu panjang atau kornea terlalu melengkung sehingga cahaya yang masuk ke mata jatuh di depan retina, bukan tepat pada retina.
Gejala Umum:
- Kesulitan membaca papan tulis, tanda jalan, atau layar TV dari jarak jauh.
- Sering memicingkan mata saat melihat objek jauh.
- Sakit kepala atau mata lelah setelah fokus melihat benda jauh dalam waktu lama.
Rabun Dekat (Hipermetropi)
Berbeda dengan miopi, hipermetropi atau rabun dekat membuat seseorang lebih sulit melihat objek yang berada pada jarak dekat. Objek yang jauh biasanya dapat terlihat lebih jelas dibandingkan objek yang dekat.
Hipermetropi dapat terjadi ketika bola mata terlalu pendek atau bentuk kornea terlalu datar. Akibatnya, cahaya yang masuk ke mata akan difokuskan di belakang retina.
Gejala Umum:
- Kesulitan membaca buku, menggunakan ponsel, atau melakukan pekerjaan dari jarak dekat.
- Objek dekat terlihat kabur atau buram.
- Sensasi pegal atau tegang pada mata (eyestrain) setelah membaca atau menjahit.
Jenis Lensa Korektif yang Digunakan
Untuk mengembalikan ketajaman penglihatan, penderita gangguan refraksi memerlukan kacamata atau lensa kontak khusus yang disesuaikan dengan jenis kelainannya.
Lensa Cekung (Minus / Divergen) untuk Miopi
Penderita miopi membutuhkan lensa cekung (lensa negatif/minus).
Cara Kerja: Lensa ini bersifat menyebarkan cahaya (divergen) sebelum masuk ke dalam mata. Dengan membiaskan cahaya sedikit ke luar, titik fokus yang tadinya jatuh di depan retina akan digeser tepat ke permukaan retina.
Tanda Dioptri: Pada resep kacamata, nilainya ditandai dengan tanda minus (contoh: -1.50 D).
Lensa Cembung (Plus / Konvergen) untuk Hipermetropi
Penderita hipermetropi membutuhkan lensa cembung (lensa positif/plus).
Cara Kerja: Lensa ini bersifat mengumpulkan cahaya (konvergen). Lensa cembung membiaskan cahaya ke dalam sebelum masuk ke mata, sehingga titik fokus yang tadinya jatuh di belakang retina dapat ditarik maju tepat ke permukaan retina.
Tanda Dioptri: Pada resep kacamata, nilainya ditandai dengan tanda plus (contoh: +2.00 D).
Kesimpulannya, miopi dan hipermetropi disebabkan oleh perbedaan bentuk fisik bola mata dan letak pembentukan titik fokus cahaya terhadap retina. Miopi membuat objek jauh menjadi kabur dan diatasi menggunakan lensa cekung (minus), sedangkan hipermetropi membuat objek dekat menjadi kabur dan diatasi menggunakan lensa cembung (plus).
Jika Anda mengalami gejala pandangan kabur atau sering merasa lelah pada mata, disarankan untuk melakukan pemeriksaan refraksi mata ke optometris atau dokter spesialis mata untuk mendapatkan resep lensa yang tepat.