- Kemudahan transaksi QRIS mahasiswa terbukti mempercepat pembayaran harian di kampus.
- Namun transaksi QRIS mahasiswa berisiko memicu pengeluaran tanpa sadar.
- Sediakan uang tunai untuk mendukung kelancaran transaksi QRIS mahasiswa.
Suara.com - Di era digitalisasi ekonomi saat ini, kepraktisan bertransaksi menggunakan QRIS telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup harian pelajar dan mahasiswa.
Cukup bermodalkan ponsel pintar dan memindai kode Quick Response Indonesian Standard (QRIS), aktivitas pembayaran makanan di kantin hingga cetak tugas dapat diselesaikan dalam hitungan detik.
Aktivitas pembayaran makanan di kantin, cetak tugas kuliah, hingga membeli kopi saat ini dapat diselesaikan dalam hitungan detik tanpa perlu membawa uang tunai.
Fenomena transaksi non-tunai ini berkembang sangat pesat di lingkungan sekolah maupun kampus.
Namun, di balik kenyamanan dan efisiensi tersebut, timbul sebuah pertanyaan penting “apakah kemudahan yang ditawarkan QRIS sepenuhnya memberikan keuntungan tanpa celah, ataukah ada aspek ‘semu’ yang perlu kita waspadai?”
Kemudahan dan Manfaat Nyata bagi Mahasiswa
Berdasarkan penelitian berjudul "Pengaruh Kemudahan dan Manfaat Bertransaksi Menggunakan Kode QR terhadap Keputusan Penggunaan Quick Response Indonesian Standard (QRIS) pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Riau" oleh Dwi Nur dan Meyzi Heriyanto yang diterbitkan dalam Jurnal Publikasi Sistem Informasi dan Manajemen Bisnis (JUPSIM), terungkap bahwa adopsi digital ini memberikan dampak yang nyata.
1. QRIS Sangat Mudah Dipelajari
Kemudahan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keputusan penggunaan QRIS.
Sifatnya yang praktis membuat mahasiswa Generasi Z yang melek teknologi dapat langsung beradaptasi tanpa hambatan teknis.
2. Efisien
Hal ini terbukti secara signifikan bahwa QRIS mempengaruhi keputusan bertransaksi.
Pengguna merasakan bahwa QRIS secara nyata mempermudah dan mempercepat proses pembayaran, memberikan efisiensi waktu di tengah kesibukan belajar, serta memberikan rasa aman dari risiko kehilangan uang fisik.
3. Pengaruh yang Kuat
Hasil analisis statistik dalam studi di Jurnal Publikasi Sistem Informasi dan Manajemen Bisnis (JUPSIM) tersebut menunjukkan bahwa variabel kemudahan dan manfaat secara bersama-sama memberikan kontribusi sebesar 43,8% terhadap keputusan mahasiswa dalam menggunakan QRIS.
Keterbatasan dan Kemudahan yang Terkadang "Semu"
Kepraktisan QRIS memiliki batasan, tidak jarang terasa semu. Dalam praktiknya, pengguna seringkali berhadapan langsung dengan berbagai hambatan teknis di luar kendali.
Mulai dari koneksi internet yang ngadat, baterai ponsel yang habis, gangguan server pada aplikasi pembayaran, sampai belum tersedianya layanan QRIS di warung-warung kecil.
Saat situasi-situasi tersebut datang, otomatis keunggulan efisiensi dari transaksi non-tunai ini jadi mendadak macet.
Hal-Hal yang Perlu Dicermati oleh Pelajar dan Mahasiswa
Lantas, apa saja hal yang perlu diperhatikan oleh pelajar dan mahasiswa dalam bertransaksi digital? Kita harus lebih bijak menyikapi gaya hidup serba digital ini.
1. Waspadai Phantom Spending (Pengeluaran Tanpa Sadar)
Karena uangnya tidak kelihatan wujud fisik yang berkurang secara nyata di dompet, kita sering kali jadi lebih gampang khilaf buat belanja hal-hal kecil yang kalau ditumpuk tahu-tahu saldo digital sudah habis di akhir bulan.
2. Selalu Sediakan Dana Cadangan (Uang Tunai)
Adanya kendala teknis seperti gangguan sinyal atau smartphone yang habis baterai, tetap menyiapkan sedikit uang tunai di dompet tetap menjadi langkah antisipasi yang penting.
3. Manfaatkan Fitur Riwayat Keuangan
Gunakan catatan transaksi (history) yang tersedia di aplikasi dompet digital atau mobile banking untuk memantau dan mengevaluasi alokasi uang sakumu secara berkala.
Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah