Your Say / news
Daniel Fernando Meyer Tampubolon
Selasa, 30 Juni 2020 | 12:15 WIB
Direktur Utama LPP TVRI nonaktif Helmy Yahya saat menggelar konferensi pers mengenai pemecatan dirinya oleh Dewan Pengawas LPP TVRI di Pulau Dua Restaurant, Jakarta Pusat, Jumat (17/01).[Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Kebanyakan orang mengenal profil Helmy Yahya sebagai pembawa acara kuis di banyak program pada masanya, hingga dia sering disebut sebagai ‘Raja’ Kuis Indonesia. Akan tetapi, tidak banyak yang mengenal dia sebagai lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Selain itu, Helmy pernah mencoba peruntungan dalam Pemilihan Kepala Daerah tahun 2008 sebagai Calon Wakil Gubernur Provinsi Sumatera Selatan dan tahun 2010 sebagai calon Bupati Ogan Ilir, tetapi dia tidak seberuntung dalam dunia pertelevisian. Pada awal tahun 2020 ini pun kabar mengenai Helmy mencuat dalam berbagai media dan diskusi mengenai pemberhentiannya sebagai Direktur Utama TVRI.

Kronologi Kasus Pemberhentian sebagai Direktur Utama TVRI

Awalnya, Helmy Yahya dipilih dan diangkat menjadi Direktur Utama (Dirut) TVRI pada 29 November 2017 oleh Dewan Pengawas (Dewas) TVRI.

Awal mula permasalahan ini adalah karena adanya kasus keterlambatan honor yang tertuang dalam SK Karyawan pada bulan Desember 2018, kemudian direspons oleh karyawan dengan diberhentikannya proses siaran pada tanggal 10 Januari 2019.

Tepat sehari kemudian 11 Januari 2019, Dewan Pengawas memberikan teguran kepada Helmy Yahya selaku Dirut. Pembinaan juga dilakukan terhadap jajaran direksi TVRI setelah kejadian tersebut.

Lalu pada tanggal 20 Mei 2019 dilaksanakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi I DPR RI bersama dengan Dewas dan Direksi TVRI. Dalam RDP tersebut menurut penjelasan Arief Hidayat Thamrim selaku Ketua Dewas TVRI pimpinan komisi menegur direksi terkait permasalahan keterlambatan pembayaran dan meminta dewas untuk menindak tegas direksi bila ada terjadinya pelanggaran.

Selanjutnya pada 29 November 2019, Helmy Yahya memberikan surat kepada dewas dengan berisikan permintaan peninjauan Surat Keputusan Dewan Pengawas tentang tata kerja dan hubungan Dewas-Direksi. Kemudian pada 2 Desember 2019 dilaksanakan RDP kembali antara Komisi I DPR RI dengan jajaran direksi TVRI.

Dalam RDP tersebut Komisi I DPR RI meminta direksi agar mampu menyelesaikan permasalahan hingga 31 Desember 2019. Lalu, pada tanggal 4 Desember 2019 Dewan Pengawas mengeluarkan Surat Pemberitahuan Rencana Pemberhentian (SPRP) kepada Helmy sebagai Dirut TVRI. Pada 16 Desember 2019, Helmy pun mengirimkan surat pembelaan kepada dewas. Hingga pada akhrinya pada tanggal 16 Januari 2020 melalui Surat Keputusan Dewan Pengawas No. 1 tahun 2020 Helmy diberhentikan sebagai Dirut TVRI.

Pencapaian TVRI selama Kepemimpinan Helmy Yahya

Selama kepemimpinannya sebagai Dirut TVRI, Helmy Yahya melakukan perubahan yang cukup besar. Seperti yang dilansir Albanna dalam Tagar.id (2020) terdapat 7 (tujuh) perubahan yang dibawa oleh Helmy, yaitu:

  1. mendapatkan hak siar turnamen International Champions Cup (ICC) tahun 2018,
  2. menayangkan drama Feather Flies to The Sky
  3. menayangkan kartun anak Panda Fanfares,
  4. menayangkan Carabao Cup, Piala Italia, dan Piala Super Italia,
  5. mendapatkan hak siar 10 turnamen bulu tangkis internasional,
  6. pergantian logo TVRI, menyiarkan Liga Inggris musim 2019/2020,
  7. dan merekrut pembaca berita dari kalangan muda.

Melalui hal-hal ini TVRI pun menjadi lebih banyak ditonton oleh masyarakat.Semasa kepemimpinannya TVRI pernah meranjak naik dari peringkat 15 menjadi 8 dalam hal televisi nasional dan pernah menjadikan program Kualifikasi Piala Dunia Indonesia vs Malaysia menjadi nomor 1 dalam top 10 Program TV Nasional, pada 5 September 2019, di mana hal ini sangatlah jarang dicapai televisi nasional.

Dalam hal penayangan Liga Inggris sebagaimana yang disebutkan Helmy dalam acara Podcast dengan Sandiaga Uno sebagai killer content, Liga Inggris menjelma sebagai daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk menonton TVRI.

Apalagi mengingat penggemar Liga Inggris di Indonesia sangatlah banyak. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya fanbase klub-klub besar Liga Inggris di Indonesia, seperti Manchester United, Liverpool, Chelsea, Arsenal, dan Manchester City.

Pembelajaran Selama Kepemimpinan Helmy Yahya

Sebagaimana yang telah dijelaskan pula di atas, selama kepemimpinan Helmy banyak hal yang diubah dalam TVRI. Transformasi yang dilakukannya pun cukup memperoleh hasil yang baik. Dari awalnya banyak orang yang jarang menonton TVRI sehingga lebih banyak lagi ditonton masyarakat.

Kemampuan-kemampuan seperti negosiasi, relationship, dan menjaga trust orang lain terhadap kita juga merupakan yang diutamakan oleh Helmy. Hal ini pula yang harus mampu dimiliki oleh teguh oleh calon-calon pemimpin bangsa di masa depan.

Selain itu, dalam hal memajukan TVRI semasa kepemimpinannya Helmy mencoba memberikan kebaruan yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Hal ini juga dapat dicontoh bagi banyak orang mengingat perkembangan zaman sekarang yang menuntut perubahan-perubahan dengan sangat cepat.

BACA SELANJUTNYA

Pengambilan Keputusan Anies Baswedan dalam Penanganan COVID-19 di Jakarta