/
Rabu, 21 September 2022 | 14:49 WIB
Buya Yahya. [YouTube] (YouTube)

SuaraBandung.id - Buya Yahya menjelaskan hubungan antara ilmu fiqih dengan ilmu tasawuf.

Ia mengatakan bahwa hubungan antara ilmu fiqih dan ilmu tasawuf itu sangat erat. Bahkan Buya Yahya mengatakan bahwa orang yang bertafakur pun harus menggunakan ilmu tasawuf.

"orang kalau belajar ilmu fiqih gak ada bimbingan akhlaq, itu hanya rambu-rambu yang penting sah, ngaco nggak pake adab, bahaya sekali, tasawuf itu adalah adab, akhlaqnya, kemudian ada orang belajar ilmu tasawuf, tasawuf nggak mempelajari ilmu fiqih ngaco ini, tidak menghargai syariat," Buya Yahya menjelaskan.

Buya Yahya mengatakan bahwa seorang yang ingin bertasawuf tidak mungkin ia tidak berfiqih, karena tasawuf harus dijalani sesuai dengan rambu-rambu syariat.

"Jangan sampai ngarang, mentang-mentang dia seneng solat langsung buat salat sendiri. Wah saya ini salat dzuhur, antara subuh - dzuhur kok jauh banget, saya buat salatnya, ngaco ini nggak pake fiqih, hanya tasawuf saja dia pengen dekat kepada Allah, nggak sah," Buya Yahya mengungkapkan.

Orang yang berfiqih pun juga harus menggunakan tasawuf, karena melakukan fiqih hanya dengan tujuan agar ibadahnya sah itu tidak mungkin dilakukan.

"mungkin nanti besok ada menemukan salat jumat, imam sama khatib pake kolor, kan yang penting kan sah, kan menurut fiqih kan menutup pusat dengan lutut, kalau memang pakai kolor jadi khatib dan imam masjid ya ditertawai oleh satu kampung, itu fiqih," Buya Yahya mengungkapkan.

Buya Yahya menegaskan bahwa hubungan antara tasawuf dan fiqih tidak bisa dipisahkan.

"Jadi fiqih itu adalah saya mengeluarkan zakat, selesai, tetangga saya jerit-jerit kelaparan bukan urusan saya. Tapi tasawuf berkata jiron, jiron, nggak ada bahasan fiqih nanti ziron akhlaq, mana, penting banget tasawuf," Buya Yahya menegaskan.

Baca Juga: Cara Atasi Depresi, Buya Yahya Sarankan Lakukan 3 Hal ini Diantaranya Berzikir dan Sholawat

Buya Yahya juga mengingatkan bahwa seseroang tidak cukup hanya dengan hakekat saja tanpa menggunakan syariat dalam beragama. Ia mengatakan bahwa jika itu terjadi maka termasuk dusta.

Nabi itu uswatun hasanah bagi kita, bagaimana Nabi Muhammad SAW, sudah jaminan surga kalau sudah beribadah, kakinya bengkak, lha ini sudah ngaku sok imam tasawuf tapi jarang tahajudnya begini, alasannya salat di mekkah ini urusannya ini, naik pesawat dulu ke mekkah," Buya Yahya mengingatkan.

Kemudian, Buya Yahya juga melarang untuk mempercayai cerita yang bersifat khayalan ataupun aneh terkait dunia tasawuf. Walaupun, Buya Yahya percaya bahwa ada cerita tentang satu orang yang disifati sebagai wali dan diyakini selalu shalat di masjidil haram.

"saya percaya, kenapa, karena di sini dia juga serius salatnya. Dengar suara adzan di sini kelihatan orangnya jamaah, nggak pernah ngomong, karena apa, ini sudah keutamaan. Bener orang ini, yang repot dia nongkrong begini, saya sudah salat di masjidil haram," Buya Yahya melanjutkan.

Buya Yahya juga memberikan contoh bagaimana jika seseorang hanya menggunakan fiqih maka akan terasa gersang.

"cara tentang salat jumat adalah fiqih, ternyata menjaga ibu di rumah adalah tasawuf, maka tidak wajib jumatan demi menjaga ibunya di rumah. Begitu tasawuf," Buya Yahya Mengungkapkan.

Load More