/
Minggu, 02 Oktober 2022 | 18:00 WIB
Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk lapangan usai pertandingan sepak bola BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/tom.

Kemudian laporan terbaru, jumlah suporter meninggal mencapai 187 orang, di antaranya polisi. 

Kejadian mengerikan itu menjadi satu di antara bencana olahraga paling mematikan di dunia.

Dalam insiden penembakan gas air mata, polisi berdalih terpaksa melakukannya untuk memaksa penggemar kembali ke tribun penonton.

Kemudian, polisi semakin menjadi dengan menembakkan gas air mata setelah dua petugas tak berdaya.

Banyak dari korban meninggal diinjak-injak atau dicekik sampai mati, menurut keterangan polisi.

Kemudian para penyintas menggambarkan suasana mengerikan di tribun penonton yang panik di tengah kerumunan penuh sesak ketika gas air mata menghujani mereka.

Apa yang dilakukan polisi memilih menembakkan gas air mata, membuat orang-orang bergegas keluar.

Mereka saling mendorong dan menimbulkan banyak korban jiwa lantaran berusaha menghindar dari dampak asap.

Penonton bernama Doni, 43 tahun mengatakan, tidak melihat tanda-tanda kerusuhan saat pertandingan Arema vs Persebaya berakhir.

Baca Juga: Doa Bersama dari GBLA! Ribuan Aparat Kemanan Bentuk Koreografi 'Arema' Ditengah Lapangan

"Tidak terjadi apa-apa, tidak ada kerusuhan. Saya tidak tahu apa masalahnya," kata dia. 

"Mereka tiba-tiba menembakkan gas air mata. Itu yang mengejutkan saya, tidakkah mereka memikirkan anak-anak, wanita?" kata dia.

Melihat dampak yang sangat besar dengan ratusan korban jiwa, Presiden Joko Widodo langsung memerintahkan penyelidikan atas tragedi itu.

Presiden minta peninjauan keamanan terhadap semua pertandingan sepak bola.

Bukan itu saja, Jokowi memerintahkan PSSI menangguhkan semua pertandingan sampai permasalah tuntas.

“Saya sangat menyayangkan tragedi ini dan saya berharap tragedi sepak bola ini menjadi yang terakhir di negara kita,” kata Jokowi.***

Load More