/
Minggu, 02 Oktober 2022 | 13:05 WIB
Arema FC - Kerusuhan Kanjuruhan (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

SuaraBandung.id – Sampai saat ini, dilaporkan korban meninggal usai kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya bertambah menjadi 129 jiwa.

Kericuhan tersebut berawal dari suporter Aremania merangsek masuk ke area lapangan setelah Arema FC kalah. 

Kericuhan tersebut semakin membesar dimana sejumlah flare dilemparkan termasuk benda-benda lainnya.

Petugas keamanan gabungan dari kepolisian dan TNI berusaha menghalau para suporter tersebut.

Dengan jumlah petugas keamanan yang tidak sebanding dengan jumlah ribuan suporter Arema FC tersebut, petugas kemudian menembakkan gas air mata di dalam lapangan.

Tembakan gas air mata itu membuat banyak suporter pingsan dan sulit bernafas.

Atas kericuhan tersebut, 17 anak meninggal dunia dan tujuh anak mengalami luka-luka, data tersebut yang baru masuk ke Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.  

"Iya, ini bersama Dinas PPPA Provinsi dan Kota Malang sedang melacak data anak-anak yang menjadi korban. Data yang masuk, 17 anak meninggal dan tujuh dirawat, tapi kemungkinan bisa bertambah," kata Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Nahar saat dihubungi di Jakarta, dilansir dari Suara.com Minggu (2/10/2022).

Anak-anak yang menjadi korban dalam tragedi ini kebanyakan berusia antara 12 tahun hingga 17 tahun.

Baca Juga: Kabid Humas Polda Jabar: Tidak Hanya Dunia Sepakbola, Kami Semua pun Berduka

Pihaknya masih terus memastikan jumlah anak yang meninggal serta korban luka-luka yang memerlukan perawatan fisik dan psikis lanjutan.

Load More