/
Kamis, 09 Maret 2023 | 08:33 WIB
Gus Baha menjelaskan tentang pentingnya membeli kebenaran agar kekuasaan tidak dikuasal oleh orang dzholim ( Tangkapan layar dari YouTube syeh kemplu) (( Tangkapan layar dari YouTube syeh kemplu))

SuaraBandung.id - Perhelatan pemilu sekitar setahun lagi akan dimulai. Pencarian model pemimpin baru yang berpihak pada rakyat mesti ditinjau sejak saat ini.

Mendengar kata pemilu, persepsi sebagian orang melayang pada money politik. Dimana hanya dengan uang, suara rakyat bisa dibeli dan ia bisa duduk di kursi kekuasaan.

Pertanyaan pun timbul, bagaimana para ustaz, ulama atau lainnya menanggapi hal demikian? 

Gus Baha, santrinya Mbah Moen menjelaskan dalam salah satu kajiannya yang tayang di Tik Tok @madhakim bahwa membiarkan orang yang tidak shaleh, tidak solat menjadi Bupati itu dosa. 

la mengutip kitab Fathul mulin bahwa membeli suara itu boleh asal yang membelinya orang yang shaleh.

"Kalau ada jabatan, apa itu lurah Presiden Bupati, Gubernur mau direbut orang dzolim, dan orang dzolim mesti menang karena beli itu orang sholeh wajib beli. Anggap saja membeli kebenaran itu bukan suap," ujarnya.

Menurutnya situasi hari ini tuh orang sholeh kurang pintar, karena menganggap setiap DPR suap itu dianggapnya nyuap.

"Padahal selama orang soleh ingin merebut dari yang dzolim dengan cara membeli suara, itu bukan suap tapi membeli kebenaran," ujarnya lagi.

Baginya membeli kebenaran dengan suap itu berbeda. 

Baca Juga: Barnabas Sobor Diambang Ukir Sejarah untuk Sepak Bola Indonesia, Hikmah Dicoret Shin Tae-yong?

"Suap itu adalah satu pembiayaan untuk haq jadi batil, sementara membeli kebenaran itu sama dengan jihad." ucapnya.(Mey)

Sumber Tiktok/Madhakiim

Load More