Suara.com - Seiring dengan perkembangan zaman, produk keuangan di Indonesia pun makin variatif. Bila dulu orang hanya familiar dengan tabungan dan deposito, sekarang orang mulai sering mendengar tentang instrumen investasi lain seperti reksa dana, Obligasi Ritel Indonesia (ORI), hingga kredit atau menabung emas.
Tentu ini merupakan peluang agar masyarakat dapat memaksimalkan dana mereka melalui produk yang tepat. Namun demikian, banyaknya produk keuangan ini juga menimbulkan suatu pertanyaan, yaitu produk apakah yang tepat? Untuk menjawab pertanyaan ini, produk yang tepat adalah produk yang sesuai dengan karakter Anda yang tercermin dalam profil risiko.
Profil risiko ini cukup luas karena meliputi beberapa aspek seperti faktor usia, kondisi keuangan, pemahaman mengenai produk keuangan, hingga jangka waktu untuk mencapai tujuan keuangan. Ada tiga profil risiko yaitu konservatif, moderat dan agresif. Berikut pembahasan selengkapnya:
Tipe konservatif
Tipe ini adalah tipe yang sanggup menerima risiko yang relatif kecil dan lebih mengutamakan ketenangan dan kenyamanan dalam berinvestasi. Faktor usia yang cenderung termasuk dalam profil ini adalah usia yang masuk dalam kategori usia lanjut atau mendekati pensiun, di mana orang tersebut memiliki risiko karena dalam waktu dekat akan pensiun dari pekerjaannya sehingga tidak mendapat penghasilan rutin.
Bagi Anda yang tidak memiliki pemahaman mendalam mengenai produk keuangan juga cenderung masuk dalam kategori ini karena ketidaktahuan membuat orang lebih hati-hati dan cenderung menghindari produk yang tidak mereka ketahui.
Tentu perlu diingat bahwa prinsip low risk low return juga berlaku, sehingga investor dengan tipe ini memang tidak dapat memilih produk yang menawarkan return yang relatif tinggi. Produk yang cocok untuk tipe ini adalah deposito atau tabungan. Sementara untuk reksa dana yang cocok adalah reksa dana pasar uang. Produk-produk tersebut memberikan imbal hasil yang stabil dan cukup pasti, namun dengan tingkat yang tidak terlalu tinggi.
Tipe moderat
Tipe ini lebih sanggup menerima risiko yang lebih besar, namun dengan imbal hasil yang tetap stabil. Investor pada tipe ini memiliki batas waktu pencapaian tujuan keuangan yang lebih lama, sehingga dapat lebih fleksibel dalam memilih produk keuangan. Tipe ini merupakan tipe antara konservatif dan agresif, sehingga produk yang dipilih dapat berupa kombinasi dari produk yang relatif aman tapi juga memberikan hasil yang cukup baik.
Pilihan produk yang dapat dipilih misalnya reksa dana campuran, obligasi, hingga saham. Selain itu, dapat juga berinvestasi pada properti atau logam mulia. Reksa dana merupakan contoh bahwa investor tipe ini menginginkan imbal hasil yang cukup tinggi, namun belum berani untuk mengelola sendiri sehingga menyerahkan dananya di reksa dana dan bersedia untuk membayar fee pengelolaan reksa dana tersebut.
Tipe agresif
Investor pada tipe ini siap untuk menghadapi risiko yang besar, bahkan adanya risiko untuk kehilangan sebagian besar atau seluruh dari modal yang ditanamkan. Faktor yang membuat seseorang dapat termasuk dalam tipe ini diantaranya adalah usia yang muda, pengetahuan yang luas mengenai produk keuangan, atau kondisi keuangan yang mapan. Pada usia muda apalagi belum menikah, seseorang cenderung tidak memiliki beban tanggungan dan pengeluarannya masih dapat ditekan sehingga Ia mempunyai ruang lebih untuk berinvestasi.
Sementara dengan pengetahuan yang luas akan membuat orang tersebut mempunyai pemahaman sehingga berani mencoba berbagai produk keuangan. Orang yang memiliki dana yang berlimpah juga dapat masuk ke tipe ini karena kerugian efeknya tidak begitu besar dibanding dengan keseluruhan dana yang dimiliki.
Tentu saja, seiring dengan besarnya risiko tersebut maka potensi return yang ditawarkan juga lebih tinggi. Investor pada tipe ini cocok untuk berinvestasi pada reksa dana saham, investasi saham secara langsung, atau bisnis properti. Investasi saham secara langsung menjadi contoh besarnya risiko karena investor harus mengelola sendiri dan menentukan saham apa yang harus dijual atau dibeli. Keuntungannya memang lebih besar dibanding reksa dana karena fee yang harus dibayar lebih sedikit, namun risikonya juga lebih besar.
Kumpulkan Informasi dan Bandingkan
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
Terkini
-
Pemerintah Umumkan Stimulus Transportasi Rp 1,54 T, Lengkap dari Pesawat hingga Kapal
-
Teknologi AI Masuk Industri Asuransi, LGI Luncurkan Fitur Cek Kesehatan Otomatis
-
Program Bantuan Pangan Beras 10 Kg & Subsidi Kedelai Dilanjutkan, Anggaran Rp 17,54 T
-
Pemerintah Bebaskan Bea Masuk Impor LPG dan Bahan Baku Plastik Jadi 0%
-
Umat Muslim RI Terbanyak Sedunia, Gimana Nasib Ekonomi Syariahnya?
-
Tokocrypto Resmi Gabung ICEX Group, Transaksi Kripto RI Nyaris Rp100 Triliun
-
Gegara Hilirisasi Alumunium, Inalum Raih Kinerja Moncer di 2025
-
Di Tengah Mati Lampu Masal, Petinggi PLN Bisa Kantongi Gaji Ratusan Juta Setiap Bulan?
-
Pemerintah Kucurkan Paket Stimulus Ekonomi Rp 26,34 T di Semester II 2026, Ini Rinciannya
-
Satgas PASTI Tutup 27 Gadai Ilegal dan 228 Pedagang Kripto Bodong, Masyarakat Diminta Waspada