Bisnis / Keuangan
Rabu, 24 Juni 2026 | 12:02 WIB
Suasana saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Rabu (15/4/2026). [Handout]
Baca 10 detik
  • Kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) memicu kekhawatiran pasar terhadap kinerja emiten batu bara dan CPO.
  • Pasar menunjukkan sikap skeptis yang menyebabkan penurunan IHSG dan sektor energi secara signifikan setelah pengumuman kebijakan pada Juni 2026.
  • Emiten seperti AALI dan ITMG dinilai paling sensitif terhadap potensi pemotongan margin pendapatan ekspor yang diterapkan oleh pihak DSI.

Suara.com - Kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI berpotensi memberikan tekanan terhadap sejumlah emiten yang memiliki ketergantungan tinggi pada pasar ekspor, khususnya sektor batu bara dan minyak sawit mentah (CPO).

Analis KB Valbury Sekuritas, Adolf RB Setiadi, menilai ketidakpastian terkait model bisnis DSI masih menjadi perhatian utama investor. Pasalnya, DSI memiliki kewenangan untuk mengatur ekspor komoditas strategis, termasuk menetapkan harga jual dan mengambil margin yang dianggap wajar.

"Perilaku pasar menunjukkan skeptisisme investor. Indeks batu bara dan CPO mengalami penurunan belasan persen setelah pengumuman DSI," tulis Adolf RB Setiadi dalam risetnya seperti yang dikutip, Rabu (24/6/2026).

"Pasar langsung memperhitungkan risiko ekstrem, IHSG turun sekitar 8 persen secara mingguan dan sektor energi turun sekitar 13,7 persen pada minggu pengumuman DSI," tambahnya.

BPI Danantara. [Suara.com/Achmad Fauzi].

Menurut KB Valbury, emiten-emiten berorientasi ekspor dengan porsi yang besar berpotensi menghadapi tekanan laba, jika DSI nantinya mengenakan margin terhadap pendapatan ekspor.

Berdasarkan simulasi KB Valbury, berikut sejumlah saham yang dinilai paling sensitif terhadap kebijakan DSI:

Sektor Sawit

  • AALI (PT Astra Agro Lestari Tbk)
  • SMAR (PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk)

Sektor Batu Bara

  • ITMG (PT Indo Tambangraya Megah Tbk)

KB Valbury menjelaskan, AALI menjadi salah satu emiten yang paling rentan karena memiliki margin keuntungan yang relatif lebih tipis dibandingkan beberapa pesaingnya.

Baca Juga: BTN Pertimbangkan Lakukan Buyback Saham, Berapa Nilainya?

Sementara itu, ITMG menjadi emiten yang paling sensitif dari sisi laba per saham (EPS). Dalam simulasi tersebut, setiap margin DSI sebesar 1 persen berpotensi mengurangi EPS ITMG hingga Rp178,2 per saham.

"Kerangka sensitivitas kami menunjukkan bahwa setiap 1 persen margin yang diambil oleh DSI menekan NPM perusahaan yang berorientasi ekspor dalam sampel kami sebesar 0,27–0,61pp (1,4 – 5,7 persen)," jelas Adold.

Meski begitu, Adolf menilai kekhawatiran pasar saat ini lebih disebabkan oleh ketidakjelasan implementasi DSI dibandingkan kondisi fundamental komoditas global.

Menurut dia, terdapat dua kemungkinan arah kebijakan DSI. Pertama, DSI hanya berfungsi sebagai platform pengawasan dan pencegahan transfer pricing dengan biaya layanan yang terbatas. Kedua, DSI berkembang menjadi pihak yang mengambil sebagian margin perdagangan ekspor.

"Di bawah satu jalur, DSI tetap menjadi platform pengawasan dan anti-transfer pricing dengan biaya layanan yang terbatas. Di jalur lain, DSI berkembang menjadi penjaga gerbang komersial yang mengambil sebagian spread ekspor," pungkas Adolf.

Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi

Load More