Bisnis / Keuangan
Kamis, 02 Juli 2026 | 08:45 WIB
Ilustrasi rupiah dengan dolar (Freepik/8photo)
Baca 10 detik
  • Nilai wajar mata uang jadi acuan membaca tren forex jangka panjang.
  • Selisih suku bunga antarnegara jadi indikator utama arah nilai tukar.
  • Trader diminta fokus pada fundamental, bukan sekadar sentimen pasar.

Suara.com - Pasar keuangan kerap bergerak mengikuti sentimen dan emosi investor dalam jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, pergerakan nilai tukar mata uang pada akhirnya akan kembali mencerminkan kondisi fundamental ekonomi suatu negara.

Analis pasar finansial broker Elev8, Kar Yong Ang, menjelaskan bahwa memahami nilai wajar (fair value) mata uang menjadi salah satu fondasi penting dalam analisis fundamental. Meski tidak selalu efektif untuk memprediksi pergerakan harian, konsep ini membantu investor memahami faktor-faktor yang membentuk tren jangka panjang di pasar valuta asing (forex).

"Analisis fundamental berfokus pada faktor struktural yang menentukan nilai tukar mata uang. Tujuannya adalah memperkirakan nilai wajarnya," ujar Kar Yong Ang dalam keterangannya.

Salah satu metode yang paling banyak digunakan untuk mengukur nilai wajar mata uang adalah Purchasing Power Parity (PPP). Teori ini menyatakan bahwa harga barang yang sama di berbagai negara semestinya setara setelah memperhitungkan nilai tukar dan inflasi.

Konsep tersebut populer melalui Big Mac Index yang diperkenalkan The Economist sejak 1986. Indeks ini membandingkan harga burger Big Mac di berbagai negara untuk melihat apakah suatu mata uang tergolong terlalu mahal (overvalued) atau terlalu murah (undervalued).

Meski demikian, Kar menilai pendekatan PPP memiliki banyak keterbatasan. Pasalnya, teori tersebut mengasumsikan perdagangan berlangsung tanpa hambatan, biaya transaksi nol, serta pajak yang dapat diabaikan. Kondisi tersebut sulit ditemui dalam praktik sehingga PPP lebih tepat digunakan sebagai acuan jangka panjang dibandingkan sebagai sinyal trading.

Selain PPP, investor juga dapat melihat Real Effective Exchange Rate (REER) yang diterbitkan Bank for International Settlements (BIS). Indikator ini mengukur daya saing suatu mata uang terhadap mata uang negara mitra dagang dengan memperhitungkan perbedaan tingkat inflasi.

Kenaikan REER umumnya menunjukkan penguatan mata uang secara riil dan dapat menjadi sinyal adanya penyesuaian nilai tukar di masa depan. Namun indikator tersebut lebih banyak digunakan bank sentral dan investor institusi untuk menilai stabilitas makroekonomi dibandingkan sebagai acuan transaksi harian.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) juga secara rutin menerbitkan penilaian terhadap valuasi mata uang berbagai negara. Tidak jarang IMF menyebut suatu mata uang berada di atas atau di bawah nilai wajarnya. Namun menurut Kar, penilaian tersebut lebih relevan untuk horizon investasi jangka panjang karena suatu mata uang dapat bertahan dalam kondisi overvalued maupun undervalued selama bertahun-tahun.

Baca Juga: Trading Itu Keterampilan, Bukan Tebak-Tebakan: Pesan Inspiratif Cenli Yani untuk Trader Pemula

Menurutnya, yang lebih penting bagi trader adalah memahami alasan di balik kondisi tersebut sehingga dapat mengantisipasi kapan valuasi akan kembali mendekati nilai wajarnya.

Kar menjelaskan terdapat empat faktor global yang memengaruhi nilai tukar, yakni pertumbuhan ekonomi dunia, harga komoditas, sentimen risiko, serta kondisi geopolitik. Di sisi domestik, pergerakan mata uang dipengaruhi oleh kebijakan moneter, arus modal, dan neraca perdagangan.

Dari berbagai faktor tersebut, kebijakan moneter dinilai menjadi variabel yang paling penting karena berkaitan langsung dengan pergerakan suku bunga.

Dalam praktiknya, trader disarankan membandingkan tingkat suku bunga atau imbal hasil obligasi antarnegara. Sebagai contoh, untuk menganalisis pasangan mata uang AUD/USD, investor perlu mencermati selisih (spread) imbal hasil obligasi pemerintah Australia dan Amerika Serikat bertenor dua tahun maupun 10 tahun.

Apabila suku bunga Australia turun sementara suku bunga Amerika Serikat meningkat, maka peluang pelemahan dolar Australia terhadap dolar AS cenderung lebih besar. Sebaliknya, spread imbal hasil yang melebar biasanya menjadi penopang penguatan AUD/USD.

"Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menarik arus masuk modal, sedangkan suku bunga yang lebih rendah mendorong arus keluar modal," jelasnya.

Kar menambahkan, analisis spread imbal hasil juga dapat membantu trader mendeteksi divergensi pasar. Sebagai contoh, ketika AUD/USD mencetak level tertinggi baru tetapi spread imbal hasil gagal mengikuti kenaikan tersebut, kondisi itu dapat menjadi sinyal bahwa penguatan pasangan mata uang tersebut mulai kehilangan tenaga dan berpotensi berbalik melemah.

Ia menegaskan, meski konsep nilai wajar tidak selalu menentukan arah harga dalam jangka pendek, pemahaman terhadap faktor fundamental tetap menjadi bekal penting bagi investor untuk membaca tren pasar valuta asing secara lebih komprehensif.

Load More