- ICOR Indonesia tertinggi di ASEAN, efisiensi investasi jadi sorotan.
- FDI stagnan, investor asing disebut mulai mengalihkan modal ke negara tetangga.
- Perbaikan produktivitas dan kepastian kebijakan dinilai jadi kunci menarik investasi.
Suara.com - Intervensi pemerintah di pasar keuangan mungkin mampu menenangkan nilai tukar rupiah dalam hitungan hari. Namun bagi investor global, persoalan utamanya bukan sekadar kurs atau gejolak pasar. Yang lebih mereka perhatikan adalah seberapa efisien sebuah negara mengubah investasi menjadi pertumbuhan ekonomi.
Salah satu indikator yang kini banyak disorot adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia. Tingginya ICOR disebut menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya daya tarik investasi Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
Lantas, apa sebenarnya ICOR dan mengapa angkanya begitu penting?
Apa Itu ICOR?
ICOR merupakan indikator yang mengukur berapa besar investasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan tambahan pertumbuhan ekonomi. Semakin rendah angka ICOR, semakin efisien suatu negara memanfaatkan modal investasi.
Sebaliknya, semakin tinggi ICOR berarti semakin banyak dana yang harus ditanamkan hanya untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang sama.
Berdasarkan data Asian Development Bank (ADB) yang dikutip Kamis (2/7/2026), rata-rata ICOR Indonesia sepanjang 2020-2024 berada di kisaran 6,2-7,1, jauh lebih tinggi dibandingkan Vietnam yang berada di kisaran 3,5-4,0.
Artinya, untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sama, Indonesia membutuhkan modal hampir dua kali lebih besar dibandingkan Vietnam.
Mengapa Investor Memperhatikan ICOR?
Baca Juga: Membedah Logika Perbedaan Panas Eropa vs Indonesia Lewat Kacamata Geografi
Bagi investor, efisiensi investasi menjadi pertimbangan utama.
Negara dengan ICOR tinggi menunjukkan bahwa produktivitas modal relatif rendah. Akibatnya, peluang memperoleh keuntungan juga dinilai lebih kecil dibandingkan negara yang mampu menghasilkan pertumbuhan dengan investasi lebih sedikit.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut membuat investor lebih selektif dalam menempatkan modalnya.
Daya Saing Investasi Indonesia Mulai Tertinggal
Data juga menunjukkan bahwa daya saing investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) Indonesia mulai tertinggal dari sejumlah negara ASEAN.
Sepanjang 2024, rasio FDI terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berada di kisaran 1,6%, sementara Vietnam mencapai 4,9%, Malaysia 3,3%, dan Thailand 2,4%.
Tren sejak 2018 juga memperlihatkan rasio investasi asing Indonesia cenderung stagnan, sedangkan negara pesaing terus menunjukkan peningkatan.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa investor global mulai melihat peluang yang lebih menarik di negara lain.
Apa Dampaknya di Pasar Keuangan?
Tingginya ICOR juga membuat sejumlah indikator ekonomi mengalami tekanan cukup hebat, salah satunya terhadap pasar keuangan Indonesia sepanjang 2026.
- Arus keluar dana asing dari pasar saham mencapai sekitar US$ 3,9 miliar.
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sekitar 30% secara year to date (YTD).
- Kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah turun ke level terendah dalam beberapa dekade.
Meski faktor global juga memengaruhi pergerakan tersebut, data itu menunjukkan investor sedang mengalihkan dana ke negara yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dengan risiko yang lebih rendah.
Lembaga Pemeringkat Mulai Memberikan Sinyal Kehati-hatian
Selain arus modal, sejumlah lembaga internasional juga disebut mulai memberikan sinyal lebih berhati-hati terhadap prospek ekonomi Indonesia.
- Outlook Indonesia dari Moody's direvisi menjadi negatif pada Februari 2026.
- Fitch juga merevisi outlook menjadi negatif pada Maret 2026.
- MSCI menunda keputusan terkait status pasar modal Indonesia pada Juni 2026.
Bagi investor global, perubahan outlook semacam ini sering menjadi sinyal untuk mengevaluasi kembali strategi investasinya.
Bukan Hanya Soal Sumber Daya Alam
Indonesia dikenal memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun faktor itu saja tidak lagi cukup untuk menarik investasi dalam jangka panjang.
Investor kini juga mempertimbangkan berbagai aspek lain seperti:
- Konsistensi kebijakan pemerintah.
- Efisiensi penggunaan modal.
- Kepastian regulasi.
- Tata kelola pemerintahan yang baik.
- Produktivitas tenaga kerja.
- Kemampuan inovasi.
Tanpa perbaikan pada faktor-faktor tersebut, potensi ekonomi yang besar dinilai sulit dikonversi menjadi investasi yang berkelanjutan.
Mengapa ICOR Tinggi Menjadi Masalah?
ICOR yang tinggi pada akhirnya mencerminkan rendahnya produktivitas investasi.
Konsekuensinya antara lain:
- Kebutuhan modal menjadi semakin besar untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi;
- Tingkat keuntungan investasi menjadi lebih rendah;
- Premi risiko meningkat;
- Minat investor untuk menanamkan modal ikut berkurang.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menghambat penciptaan lapangan kerja, ekspansi industri, hingga pertumbuhan ekonomi nasional.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Pedagang Online Dukung Kewajiban NIB, Tapi Minta Pemerintah Ikut Atur Potongan Komisi E-commerce
-
PNM Borong GCG Awards 2026, Layani 23,3 Juta Perempuan Prasejahtera hingga Mei
-
Neraca Perdagangan Indonesia Defisit 1,61 Miliar Dolar AS pada Mei 2026, BI Bakal Lakukan Ini
-
Dirut Pos Indonesia Daud Joseph Secara Tiba-tiba Mundur
-
BBM B50 Resmi Mulai Didistribusikan ke SPBU, Peluncuran Tinggal Tunggu Prabowo
-
Purbaya Lantik Sekaligus 3 Dirjen Baru Kemenkeu, Langsung Kasih Tugas Khusus
-
Anak Buah Menkeu Purbaya: APBN Tekor Rp600 Triliun, Pajak Dana JHT Terpaksa Tetap Dipungut
-
Harga LNG Murah Ternyata Hanya Berlaku di Jawa Barat, Said Iqbal Cari Bahlil
-
Berdayakan Pemuda, Harita Nickel Cetak Operator Bersertifikat dari Pulau Obi
-
Harga Cabai Merah Tiba-Tiba Melonjak, Beras dan Bawang Ikut Naik Hari Ini