- BRI Danareksa Sekuritas menurunkan target harga saham GOTO dari Rp80 menjadi Rp70 akibat kebijakan potongan komisi baru.
- Revisi kinerja dilakukan karena penurunan proyeksi pendapatan bersih serta EBITDA Grup GOTO untuk periode tahun 2026 hingga 2028.
- GOTO memiliki rencana program pembelian kembali saham senilai Rp3,5 triliun sebagai katalis positif di tengah tekanan pasar saat ini.
Suara.com - Prospek kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) diproyeksikan menghadapi tekanan setelah adanya kebijakan potongan komisi 8 persen.
Bahkan, akibat prospek yang suram itu BRI Danareksa Sekuritas menurunkan target harga GOTO dari Rp80 per saham menjadi Rp70 per saham.
Dalam riset terbarunya, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta, menilai dampak kebijakan itu terhadap bisnis GoTo secara keseluruhan relatif terbatas, karena hanya berlaku untuk segmen transportasi roda dua.
Berdasarkan data Stockbit hingga pukul 14.33 WIB, Saham GOTO masih berada di level Rp50 per saham.
"Regulasi ini hanya berlaku untuk segmen transportasi roda dua. Meski perusahaan tidak mengungkapkan secara rinci pembagian Gross Transaction Value (GTV) maupun pendapatan antara layanan roda dua dan roda empat, manajemen menyebut kontribusi keduanya relatif seimbang. Kami memperkirakan segmen roda dua yang terdampak hanya menyumbang sekitar 10 persen dari total pendapatan kotor ODS," ujar Kafi seperti dikutip, Jumat (3/7/2026).
Meski eksposurnya terbatas, BRI Danareksa Sekuritas tetap merevisi turun proyeksi kinerja GoTo. Proyeksi pendapatan bersih atau ODS net revenue untuk periode 2026-2028 dipangkas sebesar 2,7 persen hingga 7,6 persen.
Sementara itu, proyeksi Adjusted EBITDA unit ODS dipotong lebih dalam, yakni 23,3 persen hingga 63,3 persen. Dampaknya, proyeksi Adjusted EBITDA Grup GOTO juga diturunkan sebesar 12 persen hingga 24,2 persen.
Penyesuaian tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan penerapan tarif komisi baru, penurunan asumsi pertumbuhan Gross Transaction Value (GTV) ODS menjadi 7 persen dari sebelumnya 8,5 persen, serta berkurangnya intensitas promosi di tengah melemahnya daya beli masyarakat dan tekanan kenaikan harga bahan bakar.
"Sebagai konsekuensinya, kami memangkas proyeksi pendapatan bersih ODS tahun 2026-2028 sebesar 2,7 persen hingga 7,6 persen. Kami juga memangkas proyeksi Adjusted EBITDA ODS sebesar 23,3 persen hingga 63,3 persen, sehingga proyeksi Adjusted EBITDA Grup turun 12 persen hingga 24,2 persen," kata Kafi
Baca Juga: IHSG Terbang ke Level 5.886 di Sesi I, BBCA dan ISAT Pendorongnya
Sejalan dengan revisi proyeksi tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menurunkan target harga saham GOTO menjadi Rp70 per saham setelah memangkas valuasi berbasis sum of the parts (SOTP) sebesar 12,3 persen menjadi Rp74,3 triliun.
"Kami menurunkan target harga menjadi Rp70 per saham setelah nilai ekuitas berbasis SOTP turun 12,3 persen menjadi Rp74,3 triliun seiring revisi proyeksi kinerja. Kami tetap mempertahankan rekomendasi taktis tiga bulan di level Neutral," ujar BRI Danareksa Sekuritas Analysts Kafi Ananta.
Meski prospek jangka pendek masih dibayangi sentimen negatif, terdapat katalis positif bagi GOTO. Perseroan telah memperoleh persetujuan pemegang saham untuk melaksanakan program pembelian kembali (buyback) saham senilai Rp3,5 triliun pada periode Juni 2026 hingga Juni 2027.
Manajemen GOTO juga disebut berencana menjalankan buyback secara lebih agresif, meski pelaksanaannya masih menunggu perkembangan kondisi pasar.
Menurut BRI Danareksa Sekuritas, risiko yang masih perlu dicermati investor antara lain melemahnya daya beli masyarakat, potensi keluarnya GOTO dari indeks MSCI pada peninjauan Agustus 2026, serta risiko pelaksanaan program buyback saham.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Isu BEI Bakal Rombak Total Aturan FCA, 3 Kriteria Ini Bakal Dihapus!
-
"Ini Bukan Keputusan yang Mudah" Akankah Tokopedia Bakal Senasib dengan Bukalapak?
-
IHSG Terbang ke Level 5.886 di Sesi I, BBCA dan ISAT Pendorongnya
-
Di Balik Mundurnya Dirut Pos Indonesia, Danantara Ungkap Dugaan Penyimpangan Keuangan
-
Pasokan Minyak Global Kembali Melimpah, Kapan Harga BBM Turun?
-
2 Kategori Penjual Shopee yang Bakal Kena Pajak 0,5% Mulai Agustus 2026
-
Pegadaian dan Universitas Andalas Bersinergi Kembangkan Riset Mitigasi Gempa dan Tsunami
-
Cardano Melonjak Hampir 6%, CFX10 Perpanjang Reli Pasar Kripto RI
-
Harga LNG Industri Dipangkas Jadi 13 Dolar AS, Pertamina Klaim Bisnis Tetap Untung
-
Emiten MMIX Langsung Kebanjiran Pesanan Maklon, Prospek Industri Popok RI Makin Menjanjikan