- Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari dua dolar AS per barel pada Senin, 17 Agustus 2026.
- Kenaikan dipicu ketegangan diplomatik Amerika Serikat dan Iran yang mengancam gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz.
- Saudi Aramco dan ADNOC menawarkan skema penjualan alternatif demi memenuhi kebutuhan kilang minyak di kawasan Asia.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 2 dolar AS per barel pada perdagangan Senin (17/8/2026).
Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan global seiring meningkatnya ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip dari Reuters, minyak mentah berjangka Brent ditutup naik 2,35 dolar AS atau 2,65 persen menjadi 90,87 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,10 dolar AS atau 2,55 persen ke level 84,50 dolar AS per barel.
Eskalasi retorika politik memperkeruh situasi pasar setelah Presiden AS, Donald Trump menuntut Iran untuk menyerah dan mengancam tindakan militer terhadap Oman jika menghalangi langkah AS.
"Iran seharusnya mengibarkan bendera putih tanda menyerah," kata Trump kepada seorang reporter Fox News dalam sebuah wawancara telepon.
"Jika Oman menghalangi, kita akan membombardir mereka habis-habisan," tambah Trump.
Di sisi lain, pejabat senior Iran menegaskan potensi peningkatan ketegangan di Selat Hormuz jika kesepakatan damai tidak segera terealisasi.
Laju lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz tercatat melambat drastis.
Data pelacakan kapal Kpler menunjukkan hanya lima kapal komoditas yang melintas pada Sabtu dan tidak ada pada Minggu, turun tajam dibandingkan 31 kapal pada akhir pekan sebelumnya.
Kondisi tersebut memperketat pasokan, terlebih stok minyak mentah pada Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS menyusut 5,3 juta barel menjadi 293,4 juta barel menjadi level terendah sejak Desember 1982.
Menanggapi ketidakpastian jalur distribusi melalui Selat Hormuz, produsen utama kawasan seperti Saudi Aramco dan ADNOC, mulai menawarkan skema penjualan alternatif serta pasokan minyak di luar koridor jalur laut strategis tersebut guna memenuhi permintaan kilang di Asia.