- PT DCI Indonesia Tbk diproyeksikan tumbuh positif didorong ekspansi kapasitas data center serta pangsa pasar nasional yang besar.
- KB Valbury Sekuritas mencatat saham DCII memiliki valuasi sangat premium dan likuiditas rendah yang berpotensi memicu volatilitas harga.
- Meskipun laba bersih kuartal I 2026 sempat menurun, perusahaan mulai menunjukkan perbaikan kinerja keuangan secara kuartalan dibandingkan sebelumnya.
Suara.com - Saham emiten pengelola data center, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) masih memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang positif. Namun, KB Valbury Sekuritas mengingatkan valuasi saham emiten teknologi tersebut sudah berada di level yang sangat premium sehingga investor perlu mencermati potensi volatilitas pergerakannya.
Dalam risetnya, KB Valbury Sekuritas menyebut DCII merupakan operator data center terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 25,6 persen. Perseroan juga diproyeksikan tetap menikmati pertumbuhan industri yang diperkirakan meningkat sekitar 25 persen per tahun hingga 2030.
KB Valbury Sekuritas menilai ekspansi kapasitas yang terus dilakukan, termasuk pengembangan Bintan Data Center Park, akan menjadi penopang pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
Namun di sisi lain, saham DCII diperdagangkan pada valuasi yang sangat tinggi. Rasio price to earnings (P/E) perseroan telah mencapai 493,7 kali atau berada di level tertinggi dalam rentang lima tahun terakhir.
Selain itu, likuiditas perdagangan saham juga tergolong tipis dengan nilai transaksi harian rata-rata sekitar Rp479,8 juta serta kepemilikan saham yang sangat terkonsentrasi. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan volatilitas harga saham.
Analis KB Valbury Sekuritas, Atikah Tri Adriyanti, mengatakan fundamental bisnis DCII masih didukung oleh pertumbuhan industri data center nasional yang terus berkembang.
"Ekspansi kapasitas, termasuk pengembangan Bintan Data Center Park, akan menjadi katalis pertumbuhan jangka panjang perusahaan. Namun, di sisi lain saham DCII sudah diperdagangkan pada valuasi yang sangat premium dengan likuiditas transaksi yang relatif tipis, sehingga berpotensi memicu volatilitas harga saham," tulisnya dalam riset yang dikutip, Selasa (21/7/2026).
Dari sisi kinerja, DCII masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan pada kuartal I 2026. Pendapatan naik 10,9 persen secara tahunan menjadi Rp858,1 miliar.
Namun, laba bersih turun 9,8 persen menjadi Rp377,8 miliar akibat tekanan pada margin yang dipicu kenaikan biaya listrik, material instalasi, depresiasi, dan biaya sewa kolokasi.
Baca Juga: IHSG Terancam Gagal Menembus Resistance di Tengah Kenaikan Harga Minyak
Meski demikian, KB Valbury melihat perbaikan secara kuartalan mulai terlihat. Dibandingkan kuartal IV 2025, pendapatan meningkat 39 persen dan laba bersih melonjak 143,8 persen, mengindikasikan beban biaya terbesar dari aktivasi kapasitas baru mulai mereda.
Dalam jangka panjang, prospek pertumbuhan DCII juga ditopang pengembangan Bintan Data Center Park yang dirancang memiliki kapasitas hingga 1.000 MW di atas lahan seluas 700 hektare.
Proyek tersebut didukung status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Free Trade Zone (FTZ) Bintan serta lokasinya yang berdekatan dengan Singapura sebagai pusat data terbesar di Asia Tenggara.
Meski prospek bisnis dinilai tetap menarik, KB Valbury Sekuritas tidak menetapkan target harga maupun rekomendasi untuk saham DCII. Dalam laporan tersebut, status saham DCII diberikan Non-Rated, sehingga investor disarankan mencermati tingginya valuasi dan likuiditas perdagangan yang masih terbatas sebelum mengambil keputusan investasi.
Disclaimer: Artikel ini merupakan informasi pasar dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
Terkini
-
Dua Tersangka Kasus Santri Terbakar Diperiksa Polisi
-
Cek Saham yang Bisa Cuan Hari Ini, Ada BBCA hingga Saham Telekomunikasi
-
Jangan Lama-lama Pegang Saham DCII, Ada Warning
-
Lee Do Hyun Resmi Gabung Lee Byung Hun dan Go Youn Jung dalam Film Nambeol
-
Shin Tae-yong Ubah Strategi, Persija Andalkan Tim Senior di Piala Presiden 2026
-
Bentrok Pendukung di Gedung DPRD Riau, Dua Anggota Dewan Segera Diperiksa
-
4 HP Kamera OIS di Bawah Rp3 Juta, Hasil Foto Tajam dan Video Lebih Stabil
-
Xiaomi 18 Series Bakal Debut Lebih Cepat, Ini Bocoran Model dan Jadwal Peluncurannya
-
Komitmen Menjaga Transparansi ke Media, Gubernur Khofifah Raih Pimred Award 2026 dari Dewan Pers RI
-
115 Napi Kelas Kakap Lapas Surabaya Mendadak Dipindah ke Nusakambangan