Bisnis / Makro
Selasa, 21 Juli 2026 | 16:32 WIB
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menemui Menkeu China Lan Fo’an pada Rabu (17/6/2026). [Dok. Kemenkeu]
Baca 10 detik
  • RI cari utang yuan di China saat rupiah terus tertekan.
  • Prospek utang negatif, pemerintah perluas sumber pembiayaan.
  • Total utang pemerintah tembus Rp9.920,4 triliun.

Suara.com - Pemerintah Indonesia mulai memasarkan obligasi berdenominasi yuan atau panda bond di pasar obligasi domestik China di tengah tekanan berat terhadap perekonomian nasional. Langkah ini dinilai mencerminkan upaya pemerintah mencari sumber pendanaan baru ketika nilai tukar rupiah terus tertekan dan sentimen investor terhadap Indonesia melemah.

Dalam dokumen penawaran obligasi, pemerintah menawarkan panda bond bertenor tiga tahun dan lima tahun dengan target penerbitan awal hingga 7 miliar yuan. Indonesia juga telah memperoleh persetujuan untuk menerbitkan obligasi panda hingga 30 miliar yuan di pasar obligasi antarbank China dalam dua tahun ke depan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan minat investor terhadap obligasi yang diterbitkan Indonesia di pasar China cukup positif. "Respons investor terhadap instrumen tersebut sejauh ini berjalan baik," kata Purbaya menukil TheEdge Singapura, Selasa (21/7/2026).

Sepanjang tahun ini, pemerintah telah menggalang dana sekitar US$7 miliar melalui penerbitan surat utang dalam berbagai mata uang selain dolar Amerika Serikat, termasuk euro, yen Jepang, dan yuan lepas pantai. Nilai tersebut menjadi rekor penerbitan utang non-dolar terbesar yang pernah dilakukan Indonesia.

Namun, langkah memperluas sumber pembiayaan itu dilakukan di tengah kondisi ekonomi yang semakin menantang. Rupiah terus mencatat pelemahan hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah tahun ini, sementara pasar saham Indonesia menjadi salah satu yang berkinerja paling buruk di dunia.

Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai semakin berorientasi pada peran negara. Sentimen negatif juga dipicu oleh defisit transaksi berjalan yang melebar serta tingginya harga energi global.

Di sisi lain, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah. Meski demikian, tekanan terhadap perekonomian masih membayangi akibat kenaikan biaya impor, besarnya beban subsidi bahan bakar minyak (BBM), serta target pertumbuhan ekonomi pemerintah yang dinilai ambisius.

Tekanan terhadap kredibilitas fiskal Indonesia juga tercermin dari keputusan Moody's Ratings dan Fitch Ratings yang sebelumnya menurunkan prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat kreditnya. Kedua lembaga pemeringkat tersebut menyoroti kekhawatiran terhadap tata kelola pemerintahan di bawah Presiden Prabowo. Sebaliknya, lembaga pemeringkat asal China, China Lianhe Credit Rating Co, tetap memberikan peringkat AAA kepada Indonesia.

Dana hasil penerbitan panda bond nantinya akan dikirim ke luar negeri untuk kebutuhan pembiayaan umum pemerintah dan dapat dikonversi ke mata uang lain sesuai kebutuhan. Proses penentuan harga (bookbuilding) dijadwalkan berlangsung pada Kamis.

Baca Juga: DSSA Diborong Asing, BNBR Justru Dibuang

Hingga akhir Maret 2026, total utang pemerintah Indonesia telah mencapai Rp9.920,4 triliun, dengan porsi terbesar berasal dari surat berharga negara yang diterbitkan di pasar domestik.

Load More