Bisnis / Keuangan
Rabu, 22 Juli 2026 | 11:13 WIB
Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2026, utang bank jangka pendek PTPP kepada pihak berelasi melonjak menjadi Rp4,49 triliun, hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Foto ANTARA>
Baca 10 detik
  • Utang bank jangka pendek PTPP melonjak hampir tiga kali lipat ke Rp4,49 triliun.
  • Kas PTPP anjlok 60%, arus kas operasi masih defisit Rp1,45 triliun.
  • Laba konsolidasi turun 66%, saham PTPP masih ambles 46% sepanjang 2026.

Suara.com - Tekanan likuiditas membayangi PT PP (Persero) Tbk (PTPP). Emiten konstruksi pelat merah itu terpaksa mengandalkan pinjaman bank jangka pendek dalam jumlah besar setelah posisi kas perusahaan terus mengering sepanjang semester I-2026.

Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2026, utang bank jangka pendek PTPP kepada pihak berelasi melonjak menjadi Rp4,49 triliun, hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendanaan tersebut terutama berasal dari bank-bank BUMN, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp3,09 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp1,09 triliun, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Rp206,93 miliar, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Rp99,06 miliar.

Selain itu, perusahaan juga masih memiliki utang bank jangka pendek dari pihak ketiga sebesar Rp652,38 miliar, yang berasal dari PT Bank ICBC Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), serta PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BBJB).

Lonjakan pinjaman tersebut terjadi di tengah memburuknya kondisi kas perseroan. Posisi kas dan setara kas PTPP anjlok hampir 60% menjadi hanya Rp1,17 triliun. Sementara itu, arus kas bersih dari aktivitas operasi mencatatkan defisit Rp1,45 triliun, melebar hampir dua kali lipat dibandingkan minus Rp716 miliar pada semester I-2025.

Kondisi tersebut ikut mendorong kenaikan beban keuangan perusahaan. Beban bunga dan biaya keuangan lainnya meningkat 29,6% menjadi Rp1,04 triliun, sementara laba kotor justru turun 17,5% menjadi Rp760,76 miliar dari sebelumnya Rp922,13 miliar.

Struktur permodalan perseroan juga semakin berat. Hingga akhir Juni 2026, total liabilitas PTPP mencapai Rp38,98 triliun, sedangkan total ekuitas hanya Rp4,37 triliun. Dengan demikian, rasio liabilitas terhadap ekuitas (debt to equity ratio) secara konsolidasi mencapai sekitar 8,9 kali, mencerminkan tingkat leverage yang sangat tinggi.

Di sisi lain, laba bersih entitas induk memang meningkat menjadi Rp193,46 miliar dari Rp65,24 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Namun, kenaikan tersebut tertutup oleh membengkaknya rugi kepentingan non-pengendali yang melonjak 1.159% menjadi Rp176,09 miliar, terutama berasal dari sejumlah entitas investasi seperti PT Centurion Perkasa Iman, PT PP Properti Tbk, PT PP Semarang Demak, dan PT PP Presisi Tbk.

Akibatnya, secara konsolidasi laba bersih tahun berjalan PTPP justru merosot menjadi hanya Rp17,36 miliar, turun tajam dari Rp51,26 miliar pada semester I-2025.

Di pasar modal, saham PTPP memang sempat menguat 2,78% ke level Rp222 per saham pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Namun secara tahun berjalan (year-to-date), saham perusahaan masih terpuruk 46,38%, mencerminkan masih kuatnya tekanan terhadap prospek emiten konstruksi BUMN tersebut.

Baca Juga: Episode Gagal Bayar Korporasi RI Berlanjut

Load More