Bisnis / Properti
Kamis, 16 Juli 2026 | 16:15 WIB
Penunjukan mantan Juru Bicara Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Aisyah Zakiyyah, sebagai Komisaris PT Pembangunan Perumahan (PT PP) kembali memantik sorotan publik. Foto tangkapan layar.
Baca 10 detik
  • Karier Aisyah melesat dari Jubir Menteri PU menjadi Komisaris PT PP dalam setahun.
  • Isu nepotisme mencuat, namun Menteri PU membantah dan menantang pembuktiannya.
  • Penunjukan memicu sorotan atas meritokrasi dan tata kelola pengisian komisaris BUMN.

Suara.com - Penunjukan mantan Juru Bicara Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Aisyah Zakiyyah, sebagai Komisaris PT Pembangunan Perumahan (PT PP) kembali memantik sorotan publik. Di tengah rekam jejak profesional yang relatif singkat di sektor pemerintahan dan konstruksi, karier Aisyah yang melesat dalam waktu singkat memunculkan pertanyaan mengenai praktik tata kelola dan mekanisme pengisian jabatan strategis di perusahaan pelat merah.

Aisyah resmi ditunjuk sebagai Komisaris PT PP dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 19 Mei 2026, menggantikan Ernadhi Sudarmanto. Penunjukan tersebut terjadi hanya sekitar satu tahun setelah dirinya bergabung ke Kementerian PU sebagai Tenaga Ahli Menteri sekaligus Juru Bicara kementerian. Aisyah sendiri saat ini berusia 32 tahun.

Lonjakan karier tersebut memicu berbagai spekulasi di ruang publik. Di media sosial, muncul dugaan adanya hubungan keluarga antara Aisyah dengan Menteri PU Dody Hanggodo yang dinilai menjadi faktor di balik pengangkatannya.

Menteri PU Dody Hanggodo membantah tudingan tersebut. Bahkan, ia menantang siapa pun yang dapat membuktikan bahwa Aisyah merupakan keponakannya.

"Saya kasih sayembara, kalau bisa dibuktikan saya kasih umrah sekeluarga," ujar Dody di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (15/7/2026).

Meski membantah isu tersebut, Dody tidak memberikan jawaban tegas ketika kembali ditanya mengenai hubungan keluarganya dengan Aisyah. Pernyataan itu justru membuat polemik terus bergulir di tengah publik.

Sebelum masuk pemerintahan, latar belakang karier Aisyah lebih banyak berkutat di bidang pemasaran, komunikasi, dan pengembangan bisnis.

Perempuan kelahiran Jakarta, 30 Desember 1993 itu pernah bekerja di perusahaan konsultan bisnis berbasis Singapura, Lingble Ltd., sebagai E-Commerce and Marketing Manager.

Ia kemudian bergabung dengan PT Toyota Tsusho System Indonesia sebagai Team Leader Sales Division pada periode 2023-2024 sebelum menjadi Director and Strategic Planner di PT Lumintoo Sukses Incomso.

Baca Juga: Kisah Jalian Setiarsa Kembangkan UMKM Tembus Pasar Internasional Didukung Ekosistem BRI

Baru pada 2025 Aisyah memasuki lingkungan pemerintahan sebagai Tenaga Ahli Menteri PU dan dipercaya menjadi Juru Bicara Kementerian PU.

Hanya berselang sekitar satu tahun, ia dipercaya menduduki kursi Komisaris PT PP, BUMN konstruksi yang memiliki aset puluhan triliun rupiah dan menggarap proyek-proyek strategis nasional.

Dalam posisi tersebut, Aisyah mendapat tanggung jawab mengawasi bidang sumber daya manusia, manajemen talenta, sistem remunerasi, perencanaan suksesi hingga struktur organisasi perusahaan.

Cepatnya perjalanan karier Aisyah menjadi perhatian karena peralihan dari bidang komunikasi dan pemasaran menuju posisi pengawas perusahaan konstruksi milik negara dinilai berlangsung dalam waktu yang sangat singkat.

Meski memiliki latar belakang pendidikan internasional, yakni Sarjana Kimia dan Biokimia Terapan dari Gunma University, Jepang, serta Magister Komunikasi Internasional dari Macquarie University, Australia, sebagian kalangan mempertanyakan sejauh mana pengalaman tersebut relevan dengan fungsi pengawasan di BUMN konstruksi.

Sorotan ini kembali menghidupkan perdebatan mengenai pentingnya penerapan prinsip meritokrasi, transparansi, dan profesionalisme dalam pengisian jabatan komisaris BUMN, terutama ketika figur yang diangkat memiliki kedekatan profesional dengan pejabat aktif di kementerian teknis yang membawahi sektor terkait.

Load More