Bisnis / Makro
Jum'at, 31 Juli 2026 | 15:17 WIB
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif. (ANTARA/HO-Kemenperin)
Baca 10 detik
  • IKI Juli naik ke 53,10, manufaktur kembali ekspansi.
  • Tekanan produksi dan permintaan mulai mereda.
  • Pesanan baru naik didorong MBG, B50, dan proyek pemerintah.

Suara.com - Sektor manufaktur nasional mulai menunjukkan sinyal pemulihan pada Juli 2026 setelah sempat diterpa tekanan dari sisi produksi maupun permintaan. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) naik menjadi 53,10 atau tetap berada di zona ekspansi, menandakan aktivitas industri kembali bergerak positif.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif mengatakan berbagai tekanan yang membebani industri pada bulan sebelumnya kini mulai mereda. Pada Juni 2026, pelaku industri masih harus menghadapi pemadaman listrik, lonjakan harga bahan baku impor, kenaikan harga gas industri, hingga dampak suku bunga acuan yang tinggi terhadap konsumsi dan investasi.

"Pada bulan Juni kami menyampaikan industri menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus, dari sisi produksi dan dari sisi permintaan," kata Febri dalam konferensi pers Rilis IKI Juli 2026 di Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Menurut Febri, dari sisi produksi, industri saat itu dibayangi gangguan pasokan listrik, kenaikan harga bahan baku impor, kenaikan harga gas industri, serta dampak kenaikan BI Rate. Sementara dari sisi permintaan, suku bunga acuan Bank Indonesia yang berada di level 5,75 persen menekan kredit konsumsi, investasi, dan belanja rumah tangga.

Namun, memasuki Juli 2026, kondisi tersebut mulai membaik.

"Pada bulan Juli 2026 ini, dua tekanan pada sisi produksi dan di sisi permintaan itu telah teratasi dengan baik. Sehingga nilai Indeks Kepercayaan Industri pada bulan Juli 2026 menjadi 53,10. Ini berarti di atas 50 dan berstatus ekspansi," ujarnya.

Kenaikan IKI ditopang oleh membaiknya komponen pesanan baru yang meningkat menjadi 53,80, sementara indeks produksi naik menjadi 54,55. Perbaikan tersebut mencerminkan mulai pulihnya aktivitas manufaktur setelah menghadapi tekanan selama beberapa bulan terakhir.

Febri menjelaskan peningkatan pesanan baru didorong oleh membaiknya permintaan dari berbagai sektor ekonomi serta meningkatnya konsumsi rumah tangga. Selain itu, sejumlah program pemerintah juga mulai memberikan efek berganda terhadap aktivitas industri.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), implementasi biodiesel B50, pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, hingga program pembangunan tiga juta rumah dinilai mulai mendorong permintaan terhadap produk-produk manufaktur.

Baca Juga: PP 24/2026 Dinilai Jadi Angin Segar bagi Industri Asuransi, Peluang Premi Diprediksi Meningkat

Dari sisi produksi, industri juga dinilai mampu mempertahankan daya tahannya meski sebelumnya menghadapi lonjakan biaya bahan baku, kenaikan harga gas industri, dan gangguan pasokan listrik.

"Kami menilai kenaikan sebesar 0,27 poin pada variabel produksi menunjukkan kekuatan rantai pasok industri dalam negeri menghadapi tekanan. Industri menunjukkan resiliensi, demikian juga rantai pasok industri," kata Febri.

Load More