Bisnis / Makro
Selasa, 04 Agustus 2026 | 10:25 WIB
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani usai acara tasyakuran di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Senin (3/8/2026). [Suara.com/Fakhri]
Baca 10 detik
  • Perum Bulog memastikan beras dan minyak goreng untuk Program Makan Bergizi Gratis menggunakan kualitas premium tanpa subsidi.
  • Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan hal tersebut di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, pada Senin, 3 Agustus 2026.
  • Kebijakan pangan sejak 2025 hingga 2026 menciptakan perputaran ekonomi lebih dari seratus triliun rupiah serta menaikkan harga gabah petani.

Suara.com - Perum Bulog memastikan beras yang disalurkan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak berasal dari stok beras subsidi. Badan usaha milik negara (BUMN) pangan itu menegaskan komoditas yang dipasok untuk program tersebut merupakan beras premium.

Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan tidak ada beras subsidi yang dialokasikan untuk mendukung program MBG. Hal serupa juga berlaku untuk minyak goreng yang disalurkan Bulog.

"Tidak ada. Beras yang kami berikan untuk MBG adalah beras premium. Jadi tidak ada beras subsidi yang diberikan ke MBG. Termasuk minyak, kami juga memberikan produk premium," kata Rizal di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, Senin (3/8/2026).

Rizal menyampaikan, penyaluran pangan premium untuk MBG merupakan bagian dari penugasan Bulog dalam menjalankan penugasan pemerintah sekaligus menjaga kualitas bahan pangan yang diterima para penerima manfaat.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga menilai, kebijakan pemerintah di sektor pangan selama sekitar satu setengah tahun terakhir telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Menurutnya, sejak kebijakan Presiden mulai diterapkan pada 2025, perputaran ekonomi yang tercipta dari sektor hulu hingga hilir telah melampaui Rp100 triliun.

Ilustrasi beras di gudang Bulog. [ Antara/Dedi Suwidiantoro/YU]

"Bulog sudah memberikan dampak ekonomi yang besar bagi Republik Indonesia. Dalam satu setengah tahun, sejak kebijakan Presiden mulai berjalan pada 2025 sampai 2026, perputaran ekonominya dari hulu ke hilir sudah lebih dari Rp100 triliun," ujarnya.

Ia menjelaskan, manfaat kebijakan tersebut dirasakan langsung oleh petani melalui kenaikan harga gabah. Jika sebelumnya harga gabah berada di kisaran Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram, kini meningkat menjadi sekitar Rp6.500 per kilogram.

Baca Juga: Dua Kabar Baik untuk Bulog: Margin Fee Naik dan Bunga Kredit Turun, Laba Diproyeksi Rp1,14 Triliun

Load More