Bisnis / Makro
Selasa, 04 Agustus 2026 | 11:22 WIB
Dana pendidikan anak. (Elements Envato)
Baca 10 detik
  • Biaya SD, TK, dan bimbel picu inflasi pendidikan 0,55% pada Juli 2026.
  • Inflasi pendidikan terjadi saat Indonesia justru mencatat deflasi 0,14%.
  • Awal tahun ajaran baru dorong kenaikan biaya sekolah dan kursus.

Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok pendidikan menjadi salah satu penyumbang inflasi pada Juli 2026 seiring dimulainya tahun ajaran baru. Kenaikan biaya sekolah dasar (SD), taman kanak-kanak (TK), hingga bimbingan belajar mendorong kenaikan harga pada kelompok ini, meski secara nasional Indonesia justru mengalami deflasi.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kelompok pendidikan mengalami inflasi sebesar 0,55 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dengan andil terhadap inflasi nasional sebesar 0,03 persen.

"Kelompok pendidikan juga mengalami inflasi sebesar 0,55% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,03%. Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok pendidikan terutama biaya sekolah SD, biaya sekolah taman kanak-kanak, dan juga biaya bimbingan belajar dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,01%," ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (3/8/2026).

Menurut BPS, momentum dimulainya tahun ajaran baru turut mendorong kenaikan berbagai biaya pendidikan lainnya. Meski mengalami inflasi, sejumlah komponen tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap inflasi nasional.

Komponen yang mengalami kenaikan antara lain biaya sekolah SMP, SMA, biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi, taman pendidikan Al-Qur'an (TPQ), kelompok bermain, pendidikan anak usia dini (PAUD), kursus bahasa asing, hingga kursus matematika.

"Di masa awal tahun ajaran baru ini, komoditas lainnya di kelompok pendidikan yang juga mengalami inflasi namun tidak memberikan andil inflasi yang signifikan, ini terutama biaya sekolah SMP, kemudian juga biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi, biaya sekolah SMA, taman pendidikan Al-Qur'an, kelompok bermain, pendidikan anak usia dini atau PAUD, kursus bahasa asing, dan biaya kursus matematika," kata Ateng.

Meski biaya pendidikan meningkat, tekanan tersebut belum mampu mengimbangi penurunan harga pangan. BPS mencatat Indonesia mengalami deflasi 0,14 persen secara bulanan pada Juli 2026, yang terutama dipicu turunnya harga bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan tomat sehingga menekan kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Sementara secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Indonesia masih berada di level 2,88 persen. Inflasi tahunan tersebut didorong oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman dan tembakau, transportasi, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Baca Juga: Riset: Inflasi Medis RI Diproyeksi Tembus 17,8 Persen, Tertinggi di Asia

Load More