Dalih Geopolitik Jadi Alasan Pemerintah Lihat Ekonomi RI Tumbuh Melambat

Kamis, 06 Agustus 2026 | 07:53 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut ekonomi RI masih kuat meski tumbuh melambat. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih].
  • Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,29 persen pada kuartal II 2026.
  • Pencapaian tersebut diraih di Kantor Kemenko Perekonomian Jakarta pada Rabu, 5 Agustus 2026, di tengah tekanan global.
  • Dampaknya, secara kumulatif semester I 2026 ekonomi tumbuh 5,45 persen dan menjadi salah satu yang tertinggi di ASEAN.

Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kurtal II 2026 yang mencapai 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) masih tergolong kuat meski melambat dibandingkan triwulan sebelumnya.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tersebut diraih di tengah tekanan ekonomi global akibat perang hingga perang dagang (trade war) yang belum mereda.

Airlangga menuturkan, konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan, ketegangan di Selat Hormuz, perang dagang, hingga disrupsi teknologi masih menjadi tantangan bagi perekonomian global sepanjang tahun ini.

"Di tengah kondisi seperti itu, walaupun berbagai lembaga melihat pertumbuhan ekonomi global hanya tumbuh rata-rata di atas 3 persen, Indonesia masih mampu tumbuh di triwulan kedua sebesar 5,29 persen," ujar Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi [Antara]

Airlangga juga menyoroti pada Kuartal II tahun ini tidak terdapat momentum musiman seperti Hari Raya Idulfitri yang biasanya mendorong konsumsi masyarakat. Perayaan Lebaran tahun ini berlangsung pada triwulan I 2026.

"Kuartal kedua tidak ada event besar seperti Lebaran karena ini sudah masuk di kuartal pertama. Jadi angka 5,29 ini angka yang cukup baik," ujarnya.

Ia menambahkan, secara kumulatif ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I 2026. Pemerintah menilai capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

"Kita tumbuh sebesar 5,45 persen. Di antara negara-negara lain, termasuk di ASEAN, itu salah satu yang top. Kita kemarin lihat Vietnam yang sedikit di atas kita di 8 persen," ucapnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 sebesar 5,29 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen.

Namun, pertumbuhan itu masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 5,12 persen.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com