GoTo Terancam Terdepak dari Indeks MSCI, Saham Mentok Rp50

Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:35 WIB
Direktur Utama sekaligus CEO GoTo, Hans Patuwo. [GoTo]
  • Saham GoTo mentok Rp50 selama tiga bulan dan sulit diperdagangkan.
  • MSCI berpotensi mengeluarkan GoTo dari indeks karena masalah likuiditas.
  • GoTo siapkan buyback Rp3,5 triliun dan opsi reverse stock split.

Suara.com - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk kembali menghadapi tekanan di pasar modal. Perusahaan teknologi yang pernah menyandang valuasi lebih dari US$32 miliar kini terancam dikeluarkan dari sejumlah indeks MSCI setelah harga sahamnya terpuruk hingga menyentuh batas minimum perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Saham GoTo dengan kode GOTO diketahui telah bertahan di level Rp50 per saham selama sekitar tiga bulan. Posisi tersebut merupakan batas harga terendah berdasarkan ketentuan perdagangan saham di BEI.

Kondisi ini membuat saham GoTo semakin sulit diperdagangkan. Sejumlah manajer aset bahkan disebut telah menyampaikan keluhan mengenai kesulitan melakukan transaksi saham tersebut.

MSCI diperkirakan akan menentukan status GoTo dalam pengumuman hasil peninjauan indeks pada Rabu malam waktu New York. Keputusan tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pasar saham Indonesia.

GoTo memiliki bobot sekitar 4% dalam MSCI Indonesia Index pada akhir Juli. Jika dikeluarkan dari indeks, dana pasif yang selama ini mengikuti indeks tersebut berpotensi harus menyesuaikan kepemilikannya.

Namun, persoalannya tidak sederhana. Dengan harga saham yang sudah berada di level terendah, aksi jual dari dana pasif berpotensi jauh lebih besar dibandingkan jumlah pembeli yang tersedia.

“GoTo merupakan kisah kurang beruntung dari perusahaan nasional yang pernah menjadi unggulan tetapi kemudian jatuh,” kata analis Aletheia Capital Angus Mackintosh menukil Bloomberg, Rabu (12/8/2026).

Menurut dia, penghapusan GoTo dari indeks MSCI kemungkinan tidak memberikan perubahan besar terhadap kondisi saham tersebut karena secara efektif sahamnya sudah sulit diperdagangkan.

“Pemangkasan dari MSCI pada tahap ini tidak akan banyak mengubah keadaan karena saham tersebut sudah secara efektif tersuspensi. Sahamnya tidak bisa turun lebih rendah lagi,” ujarnya.

Kondisi GoTo saat ini berbanding terbalik dengan situasinya ketika pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia pada April 2022.

Saat itu, kapitalisasi pasar GoTo sempat menembus lebih dari US$32 miliar. Perusahaan yang didukung Alibaba Group Holding tersebut bahkan pernah menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di Indonesia.

Namun, optimisme investor tidak bertahan lama. Kekhawatiran mengenai kemampuan perusahaan mencapai profitabilitas, pengelolaan keuangan, serta tingginya persaingan membuat minat investor terhadap saham GoTo terus merosot.

GoTo juga harus berhadapan dengan pesaing bermodal besar seperti Grab Holdings. Persaingan di sektor transportasi online dan pesan-antar makanan membuat perusahaan membutuhkan waktu panjang untuk membangun model bisnis yang menguntungkan.

Setelah melalui serangkaian restrukturisasi dan pergantian jajaran manajemen, GoTo akhirnya berhasil mencatatkan laba selama dua kuartal berturut-turut. Namun, tekanan terhadap kinerja perusahaan kembali meningkat seiring kenaikan harga minyak yang dipengaruhi konflik di Timur Tengah.

Manajemen GoTo tidak tinggal diam menghadapi tekanan tersebut. CEO GoTo Hans Patuwo, yang mulai menjabat pada akhir tahun lalu, berkomitmen melakukan pembenahan untuk mengembalikan kinerja perusahaan.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com