Industri Alas Kaki Ambruk Usai Musim Sekolah Lewat

Senin, 31 Agustus 2026 | 13:59 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan sepatu Flavio Boston di Cakung, Jakarta, Kamis (11/9/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
  • Industri alas kaki jadi satu-satunya subsektor yang kontraksi.
  • Permintaan turun setelah momentum masuk sekolah berlalu.
  • I-EU CEPA 2027 diharapkan membuka peluang ekspor tarif 0%.

Suara.com - Industri manufaktur Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda kehilangan tenaga. Salah satu yang paling terpukul adalah industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki yang mengalami kontraksi pada Agustus 2026 setelah permintaan yang sempat terdongkrak momentum tahun ajaran baru berakhir.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, industri alas kaki menjadi satu-satunya dari 23 subsektor industri pengolahan yang mengalami kontraksi pada Agustus 2026.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, pelemahan tersebut terutama dipicu merosotnya permintaan domestik setelah momentum masuk sekolah pada Juli berlalu.

"Kalau yang untuk domestik, ya, penurunan lebih disebabkan karena kalau tadi yang turun misalkan adalah industri yang kontraksi adalah industri alas kaki, itu lebih disebabkan karena permintaan atau produksi atas produk alas kaki itu pada bulan Agustus itu menurun. Disebabkan karena musim masuk sekolah sudah berlalu," kata Febri dalam konferensi pers Indeks Kepercayaan Industri (IKI) di Kantor Kemenperin, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Momentum tahun ajaran baru pada Juli sebelumnya menjadi salah satu penopang permintaan sepatu dan produk alas kaki. Namun, begitu periode tersebut lewat, industri kembali menghadapi persoalan klasik: permintaan yang melemah.

Kondisi ini membuat produksi industri alas kaki ikut tertekan pada Agustus. Artinya, lonjakan permintaan pada musim masuk sekolah belum mampu menjadi penopang yang berkelanjutan bagi industri.

Tekanan tersebut semakin mengkhawatirkan karena terjadi ketika kinerja manufaktur nasional secara keseluruhan juga mulai melambat.

Kemenperin mencatat IKI Agustus 2026 berada di level 52,30, turun 0,80 poin dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 53,10.

Meski masih berada di atas level 50 yang menandakan fase ekspansi, penurunan indeks tersebut menjadi sinyal bahwa laju industri manufaktur tidak lagi sekuat bulan sebelumnya.

Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis Kemenperin, sebanyak 22 subsektor masih mencatat ekspansi. Hanya industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki yang masuk zona kontraksi.

Sebanyak 22 subsektor yang masih tumbuh tersebut memiliki kontribusi mencapai 98,6 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada kuartal II 2026.

Subsektor dengan IKI tertinggi pada Agustus 2026 berasal dari industri minuman serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com