- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta menyiapkan teknologi Track and Trace untuk memantau produksi rokok pabrik.
- Teknologi baru hasil kerja sama Perum Peruri dan perusahaan asing ini bertujuan mempersempit pemalsuan pita cukai rokok.
- Mesin pemantau produksi rokok tersebut saat ini sedang diuji coba secara terbatas di wilayah Jawa Tengah.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan teknologi baru untuk memantau produksi rokok secara langsung dari pabrik. Alat ini diklaim mempersempit pemalsuan dan penyalahgunaan pita cukai rokok.
Menkeu Purbaya menyatakan kalau teknologi ini dikembangkan oleh perusahaan asing yang bekerja sama dengan BUMN pencetak pita cukai, Perum Peruri.
"Jadi gini, kita sedang akan menerapkan teknologi baru. Namanya Track and Trace dari satu perusahaan. Kerja sama dengan Peruri. Nanti di situ cukainya enggak bisa dipalsu. Beda lagi Cukainya. Ada amart digital-nya," kata Purbaya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, dikutip Senin (31/8/2026).
Bendahara Negara mengklaim kalau alat ini bekerja dengan pemindai (scan) tapi lebih canggih dari barcode. Ia bahkan menyebut kalau teknologi ini hanya ada satu di dunia karena hanya perusahaan asing tersebut yang bisa membuatnya.
"Dan itu kita akan pakai. Di mana di rokoknya itu bisa, kalau bisa di cek pakai handphone. Dari mana asalnya dan segala macam. Nanti kalau itu kita akan tahu," lanjutnya.
Tak hanya itu, Purbaya juga menambahkan mesin khusus yang akan diletakkan di pabrik-pabrik rokok besar. Dengan demikian mesin itu bisa memantau berapa batang rokok yang diproduksi.
Bahkan data dari mesin itu juga akan tersambung ke kantor pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kemenkeu. Paduan teknologi ini diharapkan bisa mengurangi penyalahgunaan pita cukai rokok.
Kendati begitu Purbaya tak menampik kalau kecurangan dari cukai rokok ini bisa dihilangkan. Ia hanya berharap itu bisa meminimalisir kebocoran penerimaan negara.
"Jadi ke depan permainan seperti itu kita harapkan akan berkurang. Kalau bisa sih dihilangin semuanya. Tapi orang Indonesia kan pintar suka ngakal-ngkalain ya. Jadi kita akan pastikan itu enggak terjadi lagi," beber dia.
Sedangkan untuk kasus penyalahgunaan pita cukai rokok yang sudah terjadi sebelumnya, Purbaya mengakui kalau itu susah dilacak. Tapi jika teknologinya memadai untuk melihat data yang sebelumnya ada, tak menutup kemungkinan akan diproses hukum.
"Kalau nge-trace ke belakang saya pusing. Saya main ke depan aja deh, yang ke depan dengan alat itu, akan kelihatan kan ini siapa, akan kita hajar betul, dan seterusnya. Kalau yang ke belakang juga kelihatan ini, akhirnya kita akan kejar. Cuma kan saya enggak bisa membentuk tim khusus yang ngelihat beberapa tahun ke belakang. Capek," paparnya.
"Ke depannya kita beresin. Harusnya dengan tools itu, kecurangan-kecurangan tadi akan bisa dihilangkan dengan relatif lebih mudah lah," tegas Purbaya.
Terkait hukuman, Purbaya mengatakan kalau pihak yang terbukti menjual pita cukai rokok palsu tergantung institusi. Apabila mereka adalah pegawai Bea Cukai, maka Purbaya bisa pecat langsung.
"Kalau di Bea Cukai ya kita pecat. Dihukum sesuai aturan yang ada. Kalau di luar saya enggak tahu, tergantung hukumannya mungkin. Kejaksaan kali masuk," imbuhnya.
Libatkan perusahaan asing
Purbaya lebih lanjut menyebutkan kalau perusahaan yang terlibat dalam teknologi baru cukai rokok itu berasal dari luar negeri. Namun ia enggan menyebut rinci nama perusahaan tersebut.
Terkait anggaran, Purbaya mengatakan dananya akan diambil dari pemasukan yang didapatkan mesin tersebut. Teknologi ini akan diimplementasikan dalam lima tahun ke depan.
"Additional income ya? Kita akan coba lima tahun ke depan, kalau enggak ada tambahan income, saya berhentiin. Sebelum gue diganti, gue berhentiin lah. Sistemnya dia invest, kita bayar intinya fee setiap dengan presentasi tertentu nanti," papar dia.
Saat ini Purbaya mengklaim sudah menggunakan mesin tersebut di Jawa Tengah. Uji coba ini masih terbatas lantaran mesinnya perlu kustomisasi khusus.
Ke depannya, Purbaya menyebut kalau Kemenkeu bakal menggunakan mesin itu dalam jumlah ratusan.
"Kita berapa puluh dulu, itu kan mesinnya juga itu kan betul-betul custom. Harus dibuat sendiri. Itu perlu waktu. Sekarang sudah dicoba di Jawa Tengah ada satu ya? Jawa Tengah ada satu. Nanti dalam waktu dekat diperluas, karena kita dalam enam bulan kalau enggak sala. Dapat berapa? 100 mesin, sembilan bulan itu 240 mesin," jelas Purbaya.